JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Berita Utama

Balai Besar Penelitian Veteriner – Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Prof. Dr. drh. NLP Indi Dharmayanti., M.Si. telah dilantik sebagai pegawai Badan Riset Inovasi Nasional pada tanggal 4 Maret 2022 yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner.

Dengan adanya kekosongan pejabat karena berhalangan tetap, Plt. Kepala Balitbangtan Prof. Dr. Ir. Fadjry Djufry., M.Si memberi perintah kepada Dr. drh. Agus Susanto., M.Si. (Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan) sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) di Balai Besar Penelitian Veteriner sesuai dengan Surat Perintah No. B-145/KP.410/H/03/2022 sampai pengangkatannya Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner yang definitif.

Sehubungan hal tersebut, maksud dan tujuan kewenangan Pelaksana Tugas diharapkan menjamin kelancaran pelaksanaan proses kerja, tugas, dan fungsi yang tetap berjalan secara efektif dengan ketentuan peraturan perundang-undangan sesuai dengan Surat Edaran Badan Kepegawaian Negara No. 1/SE/I/2021.

Aplikasi pada smartphone menjadi suatu media yang dapat digunakan untuk menyebarluaskan teknologi pada peternakan serta informasi tentang kesehatan hewan. Dalam beberapa tahun terakhir, melonjaknya penetrasi pasar smartphone dan tablet membuat perangkat ini populer termasuk di kalangan petani dan peternak.  Berdasarkan data dari International Data Corporation (IDC) tahun 2020, Android menguasai pasar smartphone sebesar 84,1% sehingga aplikasi berbasis Android dapat menjangkau pengguna yang lebih luas. Oleh karena itu, aplikasi berbasis Android ini menjadi media yang baik guna menyebarkan informasi kesehatan unggas kepada para peternak.

Sesuai dengan Rencana Strategis Menteri Pertanian 2020-2024 dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia pertanian, dengan melakukan penyuluhan pertanian berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Dalam hal ini terkait langkah operasional penyebarluasan informasi pertanian melalui media elektronik dan e-learning. Penyakit unggas merupakan salah satu tantangan besar bagi usaha perunggasan, perkembangan penyakit unggas di lapangan cukup bervariasi dan sebagian besar peternak kurang memperhatikan pentingnya biosecurity pada peternakan. Hal ini berpotensi menyebabkan kerugian pada peternak ataupun konsumen.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BALITBANGTAN) melalui unit kerjanya Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLitvet) telah mengembangkan aplikasi berbasis Android yang berisi tentang informasi kesehatan unggas. Aplikasi ini diberi nama AKUVet (Aplikasi Kesehatan Unggas BBLitvet) yang dapat langsung diunduh di Play Store. Dalam pengembangannya, aplikasi AKUVet melibatkan ahli yang berkompeten di bidang kesehatan hewan, khususnya perunggasan.

Secara garis besar, aplikasi AKUVet memiliki fitur yang diantaranya informasi manajemen kesehatan dan penyakit unggas, biosecurity, berita dan artikel, video informasi perunggasan, dan dokter hewan menjawab.  Berdasarkan jenis penyakitnya, aplikasi ini dibagi menjadi penyakit infeksius dan non infeksius. Untuk memudahkan pemahaman informasi bagi pengguna, aplikasi ini disusun dengan tampilan pengguna yang nyaman serta menggunakan bahasa yang sederhana, padat dan jelas.

Teknologi aplikasi kesehatan unggas berbasis android AKUVet memiliki tujuan untuk membantu memberikan edukasi kepada masyarakat khususnya yang bergerak dan fokus pada bidang perunggasan untuk mendapatkan informasi mengenai penyakit unggas, manajemen kesehatan unggas dan biosecurity. Pada era kemajuan teknologi informasi, keberadaan data yang terintegrasi merupakan suatu hal yang sangat berharga, oleh karena itu kebutuhan akan akses informasi menjadi sebuah keniscayaan bagi peternak, penyuluh, dan masyarakat agar dapat meningkatkan produktivitas, mencegah kerugian, dan meningkatkan kesadaran terhadap penyakit unggas dan biosecurity.

Badan Penelitian dan Pengembagan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLitvet) Bimbingan Teknis (BIMTEK) Padat Karya dengan tema ‘Hilirisasi Inovasi Balitbangtan Dalam Peningkatan Kesehatan dan Produktivitas Ternak’. Kegiatan diselenggarakan di tiga kabupaten yaitu Karanganyar, Sragen dan Wonogiri.

Kepala BBLitvet Dr. NLP Indi Dharmayanti, drh., MSi menyampaikan bahwa BBLitvet telah didirikan sebelum kemerdakaan RI dan salah satu tugas dari BBLitvet yaitu melakukan penelitian pada penyakit hewan.

“Sehingga, para peserta dipersilakan melakukan diskusi tentang penyakit dari hewan ternak seperti ayam, bebek, kambing, dan sapi pada saat BIMTEK,” ujar Indi.

Kepala BBLitvet juga menyampaikan bahwa bimbingan tersebut berguna untuk meningkatkan wawasan peternak mengenai manajemen dan penyakit pada hewan ternak agar produktivitas ternak seperti sapi, kambing, bebek, dan ayam di Kabupaten Wonogiri bisa semakin maju dan memiliki daya saing. Indi pun berharap kepada peserta yang hadir agar dapat menyebarkan ilmu yang didapat saat bimtek ke masyarakat sekitarnya.

Anggota komisi IV DPR-RI, Luluk Nur Hamidah, M.Si., M.PA. pada kesempatan yang sama berterima kasih telah dilaksanakannya kegiatan bimtek padat karya. Menurutnya dengan adanya bimbingan tersebut para peternak dapat menerapkan ilmu yang sudah didapatkan agar peternakan di daerah berkelanjutan.

Kemudian Luluk juga menyebutkan bahwa di antara peserta yang hadir terdapat beberapa peternak yang sedang mengembangkan bisnisnya seperti ternak bebek, kambing dan ayam. Ia berharap ilmu yang diperoleh dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran peternak mengenai pentingnya manajemen kandang dan kesehatan hewan yang baik. Dengan demikian, ancaman penyakit hewan terhadap sektor peternakan dapat dikendalikan dengan baik dan kedepannya hasil produk siap konsumsi bisa semakin meningkat kualitas dan kuantitasnya.

Pada bimtek yang diselenggarakan tanggal 29 – 31 Oktober 2021 itu, disampaikan materi antara lain aspek manajemen kesehatan ternak dan biosecurity terhadap peningkatan produktivitas ternak yang disampaikan oleh Dr. Bambang Ngaji Utomo, drh., MSc.

Bambang menyampaikan pentingnya manajemen kesehatan ternak yang baik dan biosecurity untuk menunjang keberlangsungan dan kesehatan ternak. Kemudian penerapan biosecurity di peternakan rakyat dapat dilakukan dengan cara pembatasan gerak, mencegah masuknya hewan liar, petugas kandang yang tertib terhadap standar operasional. Pelaksanaan biosecurity yang baik dapat mencegah atau meminimalisir terjadinya serangan penyakit.

Bambang juga menjelaskan beberapa obat herbal yang mudah dijumpai, juga inovasi aplikasi kesehatan teknologi yang dibuat oleh BBLitvet seperti Avindig, Takesi, dan Go-sheep vet untuk memudahkan masyarakat mendapakan wawasan mengenai penyakit dan manajemen hewan ternak.

Materi kedua disampaikan oleh Drh. Harimurti Nuradji, Ph.D membahas mengenai Program Vaksinasi dan Pelaksanaannya pada Ternak Unggas. Dijelaskan bahwa berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh virus dan sering menyerang ternak unggas khususnya ayam seperti AI, ND, Marek, dan Gumboro.

Harimurti juga menjelaskan pentingnya program vaksinasi yang terjadwal dengan baik pada peternakan dan manfaat vaksin sebagai salah satu tindakan pencegahan. Dalam materi ini juga Harimurti melakukan demonstrasi vaksinasi ND dan AI-K pada ayam KUB.

Kemudian perwakilan peserta belajar melakukan vaksin dengan bimbingan dari Drh. Harimurti dan ia juga mengingatkan kepada peserta bahwa pelaksanaan vaksinasi yang tepat dan sesuai jadwal dapat memberikan hasil yang optimal pada hewan ternak.

Pada kesempatan bimbingan tersebut, Kepala BBLitvet juga menyerahkan bantuan vaksin Avian Influenza (AI-K), 500 ekor ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB), dan lima bal pakan ayam di masing-masing kabupaten kepada ketua kelompok tani.

https://www.litbang.pertanian.go.id/info-aktual/4344/

 

Jumat (28/01/22) Badan Penelitian Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian RI Mengukuhkan 3 Profesor riset baru yang salah satunya merupakan Peneliti di Balai Besar Penelitian Veteriner.  Profesor riset  yang dikukuhkan adalah Prof (R) Dr.drh. NLP  Indi Dharmayanti, M.Si Bidang Kedokteran Hewan, Prof (R) Dr. Atien Priyanti Soedaryo Putri bidang Ekonomi Pertanian, dan Prof (R) Dr.Muhammad Azrai Bidang Pemuliaan  dan genetika tanaman.

Pada Kesempatanya Prof NLP Indi Dharmayanti menyampaikan orasinya yang berjudul ” INOVASI TEKNOLOGI VETERINER BERBASIS BIOLOGI MOLEKULER UNTUK MENDUKUNG PENGENDALIAN PENYAKIT AVIAN INFLUENZA DI INDONESIA” Pada Jumat (28/1) di auditorium Ir. Sadikin Sumintawikarta, Bogor.

 Pada Kesempatanya beliau menyampaikan  bahwa penyakit Avian Influenza (AI) merupakan penyakit zoonosis  dan pathogen pada manusia  dan hewan yang menyebabkan epizootic berulang, epidemic tahunan dan pandemic periodik . Kasus kematian manusia di  Indonesia akibat dampak zoonosis virus H5N1 tertinggi di Dunia, Penyakit HPAI subtype H5N1 masuk dan menjadi endemic di  Indonesia sejak tahun 2003 serta menyebabkan kerugian  ekonomi  yang signifikan baik pada peternakan rakyat maupun komersil.

Pada orasinya Prof NLP Indi Dharmayanti  yang juga menjabat sebagai Kepala Balai Besar Penelitian  Veteriner menjelaskan bahwa orasi ini memaparkan mutasi dan dinamika virus AI di Indonesia yang melatarbelakangi dikembangkanya inovasi pengendalian penyakit AI. Inovasi yang dikembangkan meliputi Diagnosa Penyakit, Pengembangan Vaksin dan Obat yang disesuaikan degan  dinamika virus AI untuk pengendalian penyakit  pada hewan dan meminimalkan transimisi virus dari hewan Ke Manusia.

Invensi-invensi berbasis  biologi molekuler dalam pengendalian penyakit AI yaitu melakukan identifikasi  dan  karakterisasi dengan teknologi RT-PCR, Penemuan virus Reassortant H5N1 dengan H3N2, HPAI dan LPAI, Virus reassortant H5N1 clade 2.1.3 dengan  clade baru 2.3.2 serta reassortant H9N2 dan H5N1, selain itu inovasi dalam bidang pengembangan vaksin AI juga dilakukan yaitu  dengan mengembangkan vaksin  monovalent H9N2 dan Vaksin Kombinasi H9N2 dan H5N1 yangj uga  telah dilisensi oleh perusahaan. Teknologi DIVA dan Invensi Pengembangan  obat  antiviral AI juga sedang dikembangkan oleh BB Litvet.

Pada acara tersebut Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo Menegaskan peran penelitian pertanian dan eksistensi professor riset bidang pertanian menjadi salah  satu kunci keberhasilan program dan kemajuan pertanian. Hingga saat ini kementerian pertanian memiliki 58 orang professor  riset aktif dari total 1.581 Peneliti.

Balai Besar Penelitian Veteriner, Balitbangtan menyelenggarakan Webinar Bimbingan Teknis Hilirisasi Balitbangtan : Science Sharing : Zoonosis dan Food Borne Diseases pada hari Rabu, 28 Juli 2021.
 
Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner, Dr drh NLP Indi Dharmayanti MSi membuka acara dan memberikan arahannya bahwa Foodborne diseases sangat penting dalam era pandemi Covid 19 yang telah banyak merubah banyak hal termasuk perilaku konsumsi makanan. Foodborne diseases yg berasal dari hewan atau produk nya juga dapat menjadi ancaman kesehatan kepada manusia. Untuk memahami dan membahas lebih mendalam mengenai zoonosis dan food borne disease maka BBlitvet menyelenggarakan Bimtek virtual science sharing: zoonosis dan food borne disease. Bimtek virtual ini merupakan sesi ketiga dari rangkaian sains series webinar BBLitvet yang merupakan ajang sharing pengetahuan peneliti, ilmuwan, dosen, mahasiswa serta menghadirkan narasumber yang pakar di bidang zoonosis dan food borne diseases.
 
Webinar dihadiri peserta sebanyak 249 orang secara virtual. Webinar menghadirkan beberapa narasumber. Narasumber pertama adalah Dr drh Tati Ariyanti MSi yang memberikan materi Escherichia coli O157H7 dan Bacteriphage sebagai pengendaliannya; Narasumber kedua, Dr drh Susan M Noor MVSc memberikan materi tentang Brucellosis sebagai milkborne patogen; Narasumber ketiga, drh Khrisdiana Putri MP PhD memberi materi terkait Review food borne disease dan penerapan food safety di masa pandemi Covid 19. Setelah paparan materi dari ketiga narasumber dilanjutkan dengan sesi diskusi dengan peserta webinar. Sesi paparan materi dan diskusi berlangsung sangat interaktif dan dimoderatori oleh drh Harimurti Nuradji PhD
 
Bakteriophage dapat diaplikasikan untuk pengendalian food borne pathogen E coli O157 : H7 dan dapat diaplikasikan secara luas pada rantai makanan. Keberhasilan aplikasi bacteriophage didukung oleh pemberian dosis yang tepat berupa campuran faga dengan volume dan konsentrasi tertentu. Aplikasi bakteriofage telah terbukti potensial karena aman, bersifat spesifik dan mempunyai aktivitas antimikrobial. Pencegahan milkborne brucellosis melalui One Health Approach dengan cara deteksi tepat dan cepat dalam susu dan produk susu, kontrol dan eliminasi brucellosis pada ternak atau hewan, mengurangi faktor resiko infeksi pada manusia. Globalisasi makanan dan perubahan gastronomi yang sangat pesat menjadi salah satu faktor terjadinya peningkatan food borne diseases.