JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Berita Utama

Pada tanggal 25 November 2014 telah diadakan workshop penyakit surra, dengan materi bahasan Hasil Uji Trypanosidal dengan pembicara Drh. Didik Tulus Subekti, MKES. Yang dipandu oleh Dr. drh. R.M. Abdul Adjid.

Kepala Balai Penelitian Veteriner berkenan membuka acara tersebut dan diteruskan persentasi  serta diskusi oleh pemakalah.

Para peserta yang hadir yaitu Para Peneliti BBLitvet dan dari perwakilan Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, Balai Besar Veteriner Maros, Balai Besar Veteriner Wates, Balai Besar Veteriner Denpasar, Balai Besar Veteriner Medan, Balai Veteriner Lampung, Balai Veteriner Banjar Baru, Balai Veteriner Subang, Balai Veteriner Bukit Tinggi, Lab. Tipe B Kupang NTT dan UPTD Rumah Sakit Hewan dan Veteriner DPKH NTB, serta 15 BPTP yang sedang melaksanakan magang di BBLitvet.

 

Hal penting yang dapat disarikan pada workshop tersebut adalah

  1. Galur yang berbeda dari T. evansi akan memiliki kepekaan yang berbeda terhadap jenis obat.
  2. Galur yang berbeda dari T. evansi akan memiliki perbedaan konsentrasi / dosis yang tepat dari satu jenis obat.
  3. Setiap wilayah (pulau, propinsi atau negara) memiliki galur T. evansi yang berbeda-beda satu dengan lainnya.
  4. Seekor hewan dapat terinfeksi lebih dari satu galur T. evansi yang berbeda.
  5. Pengobatan memiliki indikasi dan konsekuensi yang berbeda pada setiap kasus surra pada wilayah yang berbeda (spesifik lokasi)

 

Masih maraknya penyakit hewan di Indonesia terutama penyakit strategis dapat mempengaruhi produktivitas ternak. Untuk itu diperlukan partisipasi pelaku peternakan untuk membantu mengatasi permasalahan penyakit di lapangan.

BPTP sebagai unit pelaksana teknis dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian yang ada di daerah yang sering kontak langsung dengan peternak harus berperan secara aktif dalam penanganan dan penanggulangan penyakit hewan sesuai dengan porsinya. Oleh karena itu dipandang perlu untuk meningkatkan wawasan dari para pengkaji BPTP seiring dengan maraknya penyakit dan perkembangan ilmu pengetahuan dalam penanganan dan penanggulangannya.

Berkenaan dengan hal tersebut Badan Litbang Pertanian melalui program detasirnya dalam rangka peningkatan kemampuan fungsional menyelenggarakan kegiatan magang yang salah satunya diselenggerakan di Balai Besar Penelitian Veteriner. Kegiatan magang dilaksanakan selama 14 hari dari tanggal 24 November – 7 Desember 2014 yang diikuti oleh 15 BPTP, yaitu BPTP Kaltim, Bali, NTB, Sumut, Bengkulu, Sultra, Kalteng, Aceh, Banten, Sulsel, NTT, Jateng, Jabar, Yogyakarta dan BPTP Jabar.

Kegiatan pada hari pertama dibuka oleh Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner Dr. drh. Hardiman MM., bertempat di aula BBLitvet yang dihadiri para peserta magang, para ketua Kelti dan Peneliti serta Para pejabat Struktural lingkup BBLitvet. Pada pelaksanaan hari kedua para peserta mendapatkan arahan dari Sekretaris Badan Litbang Pertanian Dr. Ir. Agung Hendriadi, M.Eng.

Kegiatan Magang dilaksanakan dalam bentuk pembekalan wawasan, teknik pemeriksaan di laboratorium dan field trip.

 

KUNJUNGAN DANDENDETEKSI PASPAMPRES

Pada tanggal 25 September 2014 diadakan pertemuan antara BB Litvet dengan Paspampres (Pasukan Pengaman Presiden). Pertemuan diadakan di Auditorium BB Litvet dan acara dibuka oleh Kepala Balai Dr. Hardiman di damping oleh Kabid Program dan Evaluasi dan Kabid KSPHP.  Dari Paspampres diwakili oleh Komandan Paspampres Kapten Abbas. Peserta dari BB Litvet adalah para ketua Kelti dan beberapa peneliti. Peserta dari Paspampres dihadiri 20 orang dari divisi/detasemen deteksi dan kesehatan. Salah satu tujuan dari pertemuan ini adalah pengenalan bagi Paspampres mengenai virus Ebola yang merupakan penyakit zoonosis yang telah merenggut jiwa manusia di seluruh dunia saat ini serta cara penanggulangannya. Namun demikian tujuan tidak semata pengenalan terhadap virus Ebola tapi untuk mikroba atau racun yang berpotensi membahayakan manusia.

Acara diawali dengan presentasi profil BB Litvet oleh Kabid KSPHP. Diharapkan pada pertemuan ini pihak Paspampres lebih mengenal tugas dan fungsi BB Litvet dalam menangani penyakit hewan, zoonosis maupun toksi sehingga untuk selanjutnya dapat dilakukan jalinan kerjasama antara BB Litvet dan Paspampres untuk menangani permasalahan ada.

Pada sesi kedua Dr. N.L.P. Indi Dharmayanti, peneliti virologi menyampaikan presentasi mengenai virus Ebola dengan topik Pelatihan Penanganan Ebola. Virus Ebola termasuk kategori A virus Bioterorims, bersifat sangat pathogen dan mematikan. Sesi tanya jawab dilakukan terbuka baik terkait dengan virus Ebola maupun mikroba lain seperti Anthrax. Laboratorium Bakteriologi juga telah menguji test kits Anthrax yang dimiliki oleh Paspampres, dan mengajarkan kepada personal Paspampres terkait mengenai penggunaan test kits tersebut. Pada akhir sesi dilakukan kunjungan ke fasilitas BSL3 zoonosis dan moduler.

Dalam menghadapi permasalah adanya bahaya yang mungkin diperlukan oleh Paspampres maka perlu menjalin kerjasama antara Dandendeteksi Paspampres dan BB Litvet khususnya dalam pelatihan dan deteksi lanjut mikroba dan toksin.

Open house di Laboratorium lingkup BBLitvet

Foto Bersama para peserta pelatihan dengan Kepala Balai,
para pejabat Struktural dan para pengajar

Dalam rangka memperingati HUT Badan Litbang Pertanian, pada bulan September - Oktober 2014 BBLitvet melakukan open house di laboratorium lingkup BBLitvet dalam bentuk serangkaian kegiatan transfer teknologi kepada para peserta dari berbagai instansi di Indonesia. Transfer teknologi disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Kegiatan transfer teknologi yang telah dan sedang dilakukan antara lain :

1. Transfer teknologi dalam bentuk uji sensitifitas trypanosidal/obat surra (suramin, melarsomine, diminazene, isomethamidium dan quinapyramine) pada isolat Trypanosoma evansi. Peserta : BBVet Maros, BVet Bandar Lampung, BVet Banjar Baru, Bvet Bukit Tinggi, Laboratorium Tipe B Kupang, BBVet Subang, Dinas Pertanian dan Peternakan Banten

2 .Transfer teknologi deteksi aflatoksin dengan elisa  Peserta : Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Pakan

3. Transfer teknologi RT-PCR Avian Influeanza subtipe H5N1.  Peserta : UPTD BPBPTDK (Balai Pengembangan Bibit Pakan Ternak dan Diagnostik) Dinas Pertanian DIY

4. Transfer teknologi uji serologi Brucella Peserta : UPTD BPBPTDK (Balai Pengembangan Bibit Pakan Ternak dan Diagnostik) Dinas Pertanian DIY

5. Transfer teknologi Helminthiasis Peserta : UPTD BPBPTDK (Balai Pengembangan Bibit Pakan Ternak dan Diagnostik) Dinas Pertanian DIY

Â

Jadwal pelaksanaan transfer teknologi bervariasi mulai dari 2 s/d 5 hari. Khusus untuk uji sensitifitas trypanosidal dilakukan selama 2 minggu karena kegiatan ini merupakan bagian dari  kegiatan penelitian di BBLitvet dalam upaya membantu penanggulangan penyakit surra yang menjangkit di beberapa propinsi di Indonesia. Isolate Trypanosoma evansi yang diuji adalah isolat berasal dari NTT, Lampung, Kalsel dan Banten.

Kalbe Science Award

Peneliti Badan Litbang Pertanian, Dr. drh. Indi Dharmayanti menjadi pemenang ke III Kalbe Science Award, merupakan satu satunya peneliti di luar Universitas yang mendapat Kalbe Science Award. Dr. drh. Dharmayanti adalah seorang peneliti virology di BBLitvet yang focus utama penelitiannya adalah penyakit flu burung (Avian Influenza), dimana salah satu penelitian flu burung yang dilakukan pada tahun 2012 mengantarkannya mendapat hadiah Kalbe Science Award.

Menristek Gusti M Hatta (ketiga kiri), menyerahkan hadiah kepada para pemenang disaksikan Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk Irawati Setiady (kiri) dan Founder Kalbe Group Boenjamin Setiawan (kedua kiri) pada penganugerahan Kalbe Science Award, di Jakarta, Minggu (14/9). Para pemenang Kalbe Science Award adalah Juara Edy Meiyanto (kedua kanan), Pemenang II Heni Rachmawati (ketiga kanan) danPemenang III Indi Dharmayanti (kanan).

Para Pemenang Kalbe Farma Award berpose bersama Mantan Presiden RI Bapak BJ Habibie