JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Berita Utama

 

Dalam rangka mendukung National Action Plan Antimicrobial Resistance (NAP AMR) 2020-2024 Tim Analisis Kebijakan Veteriner BBLitvet menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) yang bertema "Sosialisasi Hasil Balitbangtan Veteriner" di Balai Besar Penelitian Veteriner pada 7 November 2019.

Acara dibuka oleh Kepala Balitbangtan Dr. Ir. Fadjry Djufry M.Si. diwakili oleh Kepala BB Litvet Dr. drh. NLP Indi Dharmayanti , M.Si.

FGD ini membahas tentang situasi global dan nasional AMR yang difokuskan pada hasil-hasil riset AMR . Menghadirkan narasumber dari BBLitvet, Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Fakultas Kedokteran Hewan Airlangga, Fakultas Kedokteran Hewan UGM.

Pembahas materi FGD dari Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies (CIVAS). Peserta FGD meliputi stakeholder terkait AMR dari pemerintah maupun swasta serta para peneliti Balitbangtan.

Diharapkan FGD ini mampu memperkuat peran Kementerian Pertanian dalam mendukung NAP AMR 2020-2024 dan sebagai sarana yang memfasilitasi semua Kementerian yang terlibat dalam NAP AMR untuk meningkatkan sinergitas dan koordinasi untuk mencapai kesepakatan dan komitmen bersama dalam pengendalian AMR.

 

 

Dalam upaya meningkatkan kapasitas dan kapabilitas riset di Balai Besar Penelitian Veteriner, diselenggarakan Inhouse Training Detection of Leptospirosis and other Zoonosic Diseases from Rats pada 22-24 Oktober 2019 dengan narasumber Prof. Kozue Miura, Ph.D ahli Rodent-Borne Pathogens dari University of Tokyo dan Dr. Nobue Kozumi ahli Leptospirosis, dari National Institute for Infectious Diseases, Japan.

Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas Balai Besar Penelitian Veteriner sebagai laboratorium rujukan penyakit hewan Nasional khususnya untuk diagnosis serta penelitian Leptospirosis dan penyakit Zoonosis lainnya yang ditularkan oleh tikus.

Kegiatan Inhouse Training diawali dengan pengambilan sampel tikus dari pasar di sekitar kota Bogor, melakukan Nekropsi serta Isolasi virus dan bakteri sampel tikus serta Minilecture Overview Leptospirosis.

 

 

 

Pusat Unggulan Iptek (PUI) merupakan apresiasi yang diberikan oleh Kemenristekdikti kepada suatu lembaga untuk mampu menghasilkan inovasi teknologi berbasis demand driven dalam rangka mendukung peningkatan daya saing pengguna teknologi, seperti industri, pemerintah, dan masyarakat dalam upaya peningkatan kapasitas dan kapabilitas kelembagaan iptek.

Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLitvet) telah melalui proses pembinaan menuju lembaga PUI Veteriner pada tahun 2015, selanjutnya mendapatkan penghargaan sebagai PUI Veteriner sejak tahun 2016.

Focus Group Discussion (FGD) Evaluasi Kinerja Pusat Unggulan Iptek (PUI) Veteriner telah diselenggarakan pada tanggal 8 Oktober 2019 di BBlitvet dengan narasumber Prof. Dr. Husmy Yurmiati, MS (Universitas Padjadjaran), Prof. Dr. drh. Pudji Astuti MP (Universitas Gadjah Mada), dan Melina Jonas M.Sc. (Medion) dan didampingi oleh Tim PUI Edita Diah T.D., SE dan Dewi Yulianti, SE.

Acara Focus Group Discussion (FGD) Evaluasi Kinerja Pusat Unggulan Iptek (PUI) Veteriner dibuka oleh Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner, Dr drh NLP Indi Dharmayanti. Paparan hasil kinerja PUI BBLitvet padaTahun 2019 disampaikan oleh Kabid KSPHP, Dr drh Andriani, MSi. Para Narasumber dan Tim PUI memberikan apresiasi yang tinggi atas hasil pencapain kinerja PUI BBlitvet tahun 2019.

Evaluasi Kinerja berdasarkan Indikator Kinerja pada 27 parameter yang terbagi dalam 3 bagian Absorptive Capacity, R&D Capacity, dan Disseminating Capacity ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan kapabilitas BBlitvet sebagai salah satu bagian dari 137 lembaga Pusat Unggulan Iptek.

 

 

Apa itu biosensor ?  Teknologi sensor yang merupakan salah satu teknologi industri 4.0 yang dapat diaplikasiikan di berbagai bidang, antara lain bidang kimia, pertanian, medis dan farmasi, lingkungan hidup, bahkan militer. Diantara teknologi sensor, biosensor paling banyak digunakan dan telah menjadi trend. Guna menginisiasi penerapan teknologi industri 4.0 baru-baru ini BB Litvet, telah menyelenggarakan pelatihan internal “Biosensor: Teori Singkat dan  Praktek” dengan narasumber Hasim Munawar, S.Si, M.Phil.

Pada pelatihan tersebut di paparkan teori singkat mengenai prinsip biosensor dan aplikasinya untuk mendeteksi kontaminan pada bahan pakan dan pangan, antara lain mikotoksin.  Dalam aplikasi biosensor perlu adanya komponen seperti target (analit), pengenal target, alat penghantar (transduser), pembaca, software dan laptop. Pada saat pelatihan juga dilakukan simulasi aplikasi biosensor untuk mendeteksi aflatoksin pada pakan dan produk ternak.

Aplikasi biosensor sangat mudah. Untuk mengetahui jenis dan jumlah analit di dalam sampel, ekstrak sampel cukup diteteskan pada permukaan elektroda yang telah diaktifasi dengan pengenal target, misalnya antibodi yang dapat mengenali target secara spesifik.  Elektroda dipasang pada kabel penghubung antara elektrode dengan alat pembaca.  Dengan menggunakan software, sinyal yang terbaca ditransformasi sehingga analit dapat terbaca secara kuantitatif. Biosensor dapat diaplikasikan  secara luas di berbagai bidang dengan hasil yang cepat, akurat , dan real time.  Melalui pelatihan singkat ini diharapkan para peneliti dapat mengembangkan teknologi biosensor, sehingga menjadi peluang bagi modernisasi di sektor pertanian, peternakan dan perkebunan untuk mengoptimalkan agroindustri yang efektif dan efisien.

 

 

 

Perpanjangan Kerjasama Riset antara Balai Besar Penelitian Veteriner Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dengan Osaka Prefecture University - Jepang, di tandai dengan penandatangan kesepakatan kerjasama pada tanggal 3 Oktober 2019 oleh Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner Dr. drh. NLP Indi Dharmayanti, M.Si. dan Director of University Public Corporation Osaka, Dr. Yoshiki Nishizawa yang dalam hal ini diwakili oleh Dr. Makoto Matsubayashi.

Tema kerjasama Riset adalah Pengembangan Teknologi Deteksi Molekuler Patogen Pada Parasit Intestinal. Kerjasama diharapkan dapat meningkatkan Kapasitas dan Kapabilitas Balai Besar Penelitian Veteriner  sebagai Laboratorium Rujukan Penyakit Hewan.