JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Berita Utama

tertert

Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLitvet), Balitbangtan menerima penghargaan Plakat Abdi Bakti Tani sebagai Unit Kerja Pelayanan Berprestasi Utama Atas Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan kepada Masyarakat dengan Baik. Penghargaan ini merupakan salah satu wujud cerminan komitmen BBLitvet, Balitbangtan untuk selalu memberikan layanan publik secara maksimal kepada masyarakat.
Plakat penghargaan Abdi Bakti Tani kepada BBLitvet diserahkan secara resmi oleh Kepala Balitbangtan, Dr Ir Fadjry Djufry MSi kepada Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner, Dr drh NLP Indi Dharmayanti, MSi. Penyerahan penghargaan dilaksanakan pada waktu kegiatan Evaluasi dan Bimtek Keterbukaan Informasi Publik di Auditorium Balitbangtan pada tanggal 10 Juni 2021.
 
Kepala Balitbangtan membuka acara Evaluasi dan Bimtek Keterbukaan Informasi Publik serta memberikan arahannya. Dalam arahannya, Kepala Balitbangtan, Dr Ir Fadjry Djufry MSi menyampaikan bahwa Balitbangtan mendapat penghargaan peringkat pertama untuk keterbukaan informasi publik di lingkup Kementerian pertanian pada tahun 2021. Kepala Balitbangtan menyampaikan supaya penghargaan yang telah diraih agar tetap dipertahankan ditahun tahun berikutnya karena mempertahankan biasanya jauh lebih susah daripada memperolehnya. Kepala Balitbangtan meminta komitmen dari para pejabat pimpinan UK/UPT untuk selalu mendukung dan mensukseskan apa yang menjadi arahan Biro Humas dan Informasi Publik, Kementerian Pertanian. Penyelenggaraan Program Bimtek, pelatihan khusus dan webinar menjadi bagian komitmen pimpinan untuk mendukung keterbukaan informasi pelayanan publik.
 
Dalam acara tersebut juga dilaksanakan penandatangan komitmen keterbukaan pelayanan publik oleh pejabat pimpinan UK di Lingkup Balitbangtan serta penyampaian materi terkait Arah kebijakan pengelolaan informasi publik dimasa pandemi Covid 19 oleh Kepala Biro Humas dan Informasi Publik, Kementerian Pertanian, Kuntoro Boga Ardi. Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan menyampaikan bahwa penderasan informasi sekarang bukan hanya melalui medsos tetapi sekarang melalui kanal kanal resmi lembaga pemerintah. Publik berhak mengetahui anggaran yang sudah digunakan oleh Kementan melalui keterbukaan pelayanan publik. Penyampaian materi selanjutnya oleh Komisioner Komisi Informasi Pusat, menyampaikan bahwa informasi hasil inovasi Balitbangtan harus disampaikan secara berulang ulang sehingga lebih bisa dipahami oleh masyarakat Indonesia. Riset inovasi merupakan jantung kemajuan sebuah Bangsa dan Negara

Balai Besar Penelitian Veteriner, Balitbangtan menyelenggarakan webinar Biosensor For Veterinary Diagnosis Application pada hari Selasa 27April 2021.Webinar ini diselenggarakan dalam rangkaian sains series webinar yang merupakan ajang sharing pengetahuan peneliti dan para pakar di bidang biosensor.

Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner, Dr drh NLP Indi Dharmayanti MSi membuka acara dan memberikan arahannya bahwa infeksi penyakit dapat menyebabkan kematian pada manusia dan hewan. Ancaman terhadap penyakit selalu ada dan penyakit zoonosis mempunyai dampak yang sangat serius terhadap animal welfare, lingkungan dan keragaman genetik. Hewan menjadi sumber penyebab kurang lebih 70 persen infeksi penyakit berbahaya (emerging infection). Konvensional diagnostik bersifat efektif dan sensitif untuk pengujian penyakit infeksi tetapi metode ini cenderung membutuhkan biaya yang lebih mahal, waktu pengujian lebih lama. Saat ini sudah banyak diaplikasikan metode pengujian dengan molekuler seperti PCR yang lebih efektif, lebih sensitif dan cepat.  Selanjutnya pengembangan uji diagnostik yang valid untuk deteksi dan identifikasi patogen yang sangat sensitif dan selektif menjadi tantangan tersendiri bagi peneliti di seluruh dunia. Biosensor dapat menjadi solusi yang atraktif untuk pengembangan diagnostik penyakit infeksi karena sangat simpel dan cepat, sensitivitas dan spesifisitas yang sangat tinggi.

Webinar dihadiri peserta sebanyak 104 orang secara virtual. Webinar menghadirkan beberapa narasumber. Narasumber pertama adalah Martin Peacock BSc PhD yang memberikan materi Biosensor for Veterinary Diagnosis Applucation; Narasumber kedua, Hasim Munawar SSi MPhil memberikan materi tentang Biosensor Development for Diagnostik Test; Narasumber ketiga, Dr Eni Kusumaningtyas SSi MSc memberi materi terkait Peptide Based Biosensor Development. Setelah paparan materi dari ketiga narasumber dilanjutkan dengan sesi diskusi dengan peserta webinar. Sesi paparan materi dan diskusi dimoderatori oleh drh Harimurti Nuradji PhD

Pengembangan biosensor sangat dinamis, cepat dan sangat mudah untuk dikembangkan. Diagnostik biosensor telah dikembangkan di BBLitvet diantaranya Biosensor berbasis Peptide/Antibodi untuk Candida Albican yang menggunakan platform gold VSPE , Biosensor berbasis protein untuk Trypanosoma evansi, Biosensor berbasis antibodi untuk Aflatoksin, dan Biosensor berbasis artificial receptor untuk Fumonisin B1, Pyrene, Sianida. Pengembangan biosensor untuk diagnosis viral dan bakterial sedang dalam proses pengembangan

Balai Besar Penelitian Veteriner (BB LITVET) adalah unit kerja dibawah Badan Litbang Pertanian – Kementerian Pertanian yang bergerak dalam bidang penyakit hewan. Berdasarkan Permentan No. 34/Permentan/OT.140/3/2013, Bblitvet telah ditunjuk sebagai laboratorium rujukan nasional untuk penya - kit hewan dan terpilih sebagai Pusat Unggulan IPTEK (PUI) Veteriner oleh KEMENRISTIKDIKTI serta terakreditasi sebagai Penyelenggara Uji Profisiensi (PUP) yang memenuhi persyaratan SNI ISO/IEC 17043 : 2010.

Sebagai PUP, BB LITVET berkomitmen untuk tetap menyelenggarakan uji profisiensi meskipun dalam kondisi pandemi COVID 19. Penyelenggaraan UP pada tahun 2021 difokuskan pada pengujian penyakit parasite, yaitu “Deteksi dan identifikasi Trypanosoma spp berdasarkan metode ulas darah”. Hasil UP tersebut diharapkan dapat dijadikan sebagai tolok ukur kompetensi laboratorium dalam melakukan pengujian bidang parasitologi, terutama pemeriksaan Trypanosoma spp.

 

Dalam rangka mendapatkan informasi dan kajian penanggulangan kecacingan pada ternak ruminansia besar, Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet), Balitbangtan menyelenggarakan Virtual Focus Group Discussion “Kajian Penanggulangan Kecacingan pada Ruminansia Besar : Hasil Analisa Data Laboratorium Kecacingan di Provinsi Jateng, Banten, NTB, NTT, dan Kalteng pada hari Selasa, Tanggal 20 April 2021
 
Acara dibuka oleh Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner, Dr drh NLP Indi Dharmayanti, MSi. Kepala BBLitvet dalam sambutannya memberikan arahan bahwa Kecacingan pada ternak ruminansia merupakan penyakit parasiter yang kejadiannya paling umum dan penyebarannya paling luas yang berdampak secara ekonomi. Perlu pemahaman karakter biologi baik didalam maupun diluar ternak agar dapat dilakukan pengendalian secara efisien. Peran BBLitvet dalam kegiatan penelitian kecacingan seperti Pengembangan obat herbal, Respon dan resistensi, Efikasi kapang (tertentu) terhadap kecacingan, Identifikasi dan kejadian kecacingan pada ternak, Analisis kebijakan pengendalian kecacingan. Data kecacingan sangat banyak sehingga perlu dianalisis dikaitkan dengan pemahaman penyakit dalam rangka pengendalian. Masih diperlukan sejumlah data atau informasi tambahan untuk dapat memformulasikan strategi pengendalian kecacingan. Tujuan FGD ini adalah menyusun langkah-langkah tindaklanjut dalam upaya pengendalian kecacingan yang diharapkan dapat digunakan sebagai rekomendasi kebijakan oleh Ditjen PKH.
 
FGD dihadiri peserta sebanyak 90 orang secara virtual. FGD menghadirkan beberapa narasumber yaitu Dirkeswan Ditjen PKH (drh Fadjar Sumping Tjatur Rassa PhD, yang menyampaikan materi "Kebijakan Pengendalian Kecacingan pada Ternak Ruminansia" dan Dr drh Suhardono, MVSc yang memberikan materi "Sosialisasi Hasil Analisis Data Laboratorium Deteksi Kecacingan di Provinsi Jawa Tengah, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan Tengah.
 
Pembahas FGD adalah Pakar Kecacingan dari UGM (Dr drh Joko Prastowo MSi) membahas tentang "Kajian Penanggulangan Kecacingan pada Ruminansia Besar",, Pakar Kecacingan dari IPB (Dr drh Yusuf Ridwan MSi) membahas tentang "Kecacingan pada Organ Pencernaan pada Ternak Ruminansia di Indinesia", Pembahas dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah (drh Abdullah) yang membahas tentang Hasil Analisis Data Laboratorium Kecacingan di Provinsi Jawa Tengah, Pembahas dari Dinas Pertanian Provinsi Banten (drh Jajang) yang membahas tentang Kecacingan pada Ternak Sapi dan Kerbau di Provinai Banten, Pembahas dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Nusa Tenggara Barat (drh Bima Priyatma) membahas tentang ,Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur (drh Hendrina Lero Kaka), dan Pembahas dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah (drh Nina Ariani MSi) membahas tentang Pengendalian Kecacingan Organ Pencernaan pada Ternak Ruminansia Besar di Provinsi Kalimanta Tengah
 
Analisis data kecacingan di kelima Provinsi (Jateng, Banten, NTT, NTB dan Kalteng) menunjukkan adanya keragaman data cukup besar antar provinsi, kasus infeksi cacing terjadi di seluruh daerah pemantauan dalam kurun waktu 2 - 4 tahun
 
Sebaran infeksi Fasciola lebih sempit daripada strongyla. Data prevalensi per waktu (bulan), intensitas infeksi (EPG) belum dimiliki seluruh provinsi contoh.
Untuk mengurangi keragaman data diperlukan harmonisasi laboratorium pengujian. Data minimal (prevalensi dan intensitas infeksi) perlu dimiliki setiap daerah.