JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Berita Utama

Sebagai tindak lanjut kerjasama dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah yang sudah memasuki tahun ketiga, pada hari selasa 8 Januari 2019 telah dihilirisasikan inovasi teknologi vaksin AI bivalen dan ND GT VII menyusul vaksin ETEC VTEC yg sudah dihilirisasikan tahun sebelumnya.

Bertempat di Aula Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah di Ungaran. Produk vaksin diserah terimakan dari Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner sebanyak 50 ribu dosis kepada Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah. Produk inovasi teknologi BB Litvet tersebut diharapkan mampu membantu mencegah terjadinya kasus penyakit ND dan AI di wilayah pengembangan ternak unggas milik Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah.

Selain itu juga dilakukan pendampingan oleh tim BB Litvet dalam pelaksanaan vaksinasi dan monitoring sebelum dan pasca vaksinasi. Selain vaksin untuk unggas, hilirisasi inovasi pada tahun 2019 juga adalah tentang diagnosa dan hilirisasi Lip32 untuk diagnosa penyakit zoonosis Leptospirosis. Teknologi Lip32 diharapkan dapat diimplementasikan di laboratorium Veteriner daerah dibawah Prov Jateng guna mengetahui dan mendeteksi kasus Leptospirosis secara cepat dan akurat di wilayahnya.

Menurut Ka BB Litvet teknologi yang dihilirisasikan tersebut sebagian besar sudah di lisensi oleh pihak swasta sehingga sehingga dijamin bahwa kualitas produk tersebut memiliki standar mutu yg baik.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Prov. Jateng sangat berterimakasih atas komitmen dari BB Litvet untuk mendukung program kesehatan hewan di Jawa Tengah. Tidak hanya aspek kesehatan hewan saja yang menjadikan perhatian oleh BB Litvet namun juga dalam hal peningkatan kualitas SDM khususnya yang ada di UPT Balai Veteriner. Hasil kerjasama yang berbasis teknologi termasuk salah satunya dengan BB Litvet, menurut Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan Prov. Jateng akan diekspose secara luas.

 

 

 

 

Indonesia tahun 2018 menunjukkan kepeduliannya terhadap pengendalian AMR dengan mengimplementasikan permentan no. 14 tahun 2017 tentang klasifikasi obat hewan dengan pelarangan penggunaan antiobiotik sebagai feed additive.

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan mikroba tersebut resisten sehingga muncul mikroba Antimicrobial Resistance (AMR). WHO, FAO dan OIE pada tahun 2003 telah menyimpulkan bahwa penggunaan antimikroba pada pangan asal hewan, ikan dan tumbuhan mempengaruhi keberadaan AMR pada manusia. Masyarakat global sangat mendukung upaya dari semua negara untuk bersama-sama mengendalikan ancaman outbreak mikroba AMR.

Sidang Ad Hoc Codex Intergovernmental Task Force on Antimicrobial Resistance (TFAMR ke 6) telah dilaksanakan di Busan, Korea Selatan, pada tanggal 10 - 14 Desember 2018. Sidang dipimpin oleh Chair Prof. Yong Ho Park, dan dibuka oleh Menteri Ryu Young-jin (Menteri Keamanan Pangan dan Obat, Korea Selatan), Dr. Jeffrey Lejeune dari FAO, Dr. Awa Aidara-Kane dari WHO dan Mr. Steve Wearne Vice Chair Codex.

Sedangkan delegasi Indonesia diketuai oleh Dr. Wahyu Purbowasito (Pusat Sistem Penerapan Standar, BSN), Delegasi Indonesia yang hadir adalah Ir. Tri Agustin Satriani, M.M. (Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Kementerian Pertanian), Apriyanto Dwi Nugroho, STP. M.Sc. (Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Kementerian Pertanian), Drh. lmron Suady, MVPH. (Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian), Dameria Melany EP, Apt, M.Si. (Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, KementerianPertanian), Dr. Drh. Andriani, M.Si. (Balai Besar Penelitian Veteriner, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian) dan dr. Nelly Puspandari, Sp.MK (Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Kementerian Kesehatan).

TFAMR merupakan sidang Tim adhoc Codex, yang dibentuk sebagai respon cepat untuk mengantasipasi dampak buruk AMR. Sidang dihadiri Delegasi dari 30 negara anggota, 1 anggota Uni Eropa, dan 7 observers, serta perwakilan FAO, WHO, dan OIE.  Sidang ini juga untuk menyempurnakan dua draft dokumen yaitu : Code Of Practice To Minimize and Contain Foodborne Antimicrobial Resistance; dan Draft Guidelines On  Integrated Monitoring and Surveillance Of Foodborne Antimicrobial Resistance.

Menteri Keamanan Pangan dan Obat, Korea Selatan,  Ryu Young-Jin Dalam sambutannya mengatakan "Antimicrobial Resistance (AMR) merupakan permasalahan global yang tidak bisa ditangani oleh satu negara saja, karenanya kerjasama antar negara, baik secara regional dan global harus terus dibangun dalam mengendalikan AMR.”

Kepala Pusat Sistem Penerapan Standar BSN, Wahyu Purbowasito, selaku Ketua Delegasi RI. Menuturkan  “Setelah ditetapkan oleh Codex, dokumen ini akan menjadi acuan pengambilan kebijakan dalam menangani risiko AMR terhadap kesehatan manusia yang dikaitkan dengan pangan, baik pangan asal peternakan, perikanan dan tumbuhan, serta bagaimana setiap negara dapat melakukan penyiapan system monitoring dan surveilans terhadap AMR”.

Menurut Tri Agustin Satriani, Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, "Setelah pertemuan ini, dokumen Codex akan berada pada tahap 4 dari 8 tahap yang harus dilalui sebelum nanti ditetapkan pada sidang Codex Alimentarius Commission. Sehingga  harus mengoptimalkan waktu untuk menyiapkan langkah-langkah antisipasi dan tindak lanjut, karena cakupan penanganan AMR ini lintas sector. Badan Ketahanan Pangan sebagai Mirror Committee Codex akan aktif melakukan langkah koordinatif kepada sektor terkait. Untuk menguatkan koordinasi telah ditetapkan Kelompok Kerja Keamanan dan Mutu Pangan Segar melalui keputusan Menteri Pertanian No 764/Kpts/OT.050/11/2018 tanggal 1 November 2018,  yang mempunyai ruang lingkup penanganan keamanan dan mutu pangan, salah satunya bidangnya adalah penanganan Codex.”

 

 

Balai Besar  Penelitian Veteriner Bogor  merupakan UPT eselon IIb di bawah Badan Litbang Pertanian telah berperan aktif dalam pembangunan nasional khususnya pembangunan peternakan bidang veteriner.

Peran aktif BB Litvet tersebut umumnya dalam bentuk pemberantasan, pengendalian dan pengawasan penyakit hewan; penyediaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) veteriner; konservasi dan optimalisasi sumber daya alam lokal; serta penyediaan data epidemiologi penyakit hewan termasuk emerging dan re-emerging zoonotic disease.

Di berbagai belahan dunia emerging and re emerging zoonotic diseases merupakan penyakit penting yang sedang dicari solusi, penanganan, dan pengendaliannya.

Oleh karena itu, dalam rangka menyambut 110 tahun kiprah Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor, serta dalam rangka pencegahan dan penanggulangan Emerging and Re-emerging zoonotic diseases. Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor mengadakan kegiatan workshop internasional dengan tema “Workshop and Training on Emerging and Re Emerging Zoonotic Diseases in Indonesia”

Acara terdiri dari 2 bagian:

  1. “Workshop on Emerging and Re Emerging Zoonotic Diseases in Indonesia” diselenggarakan tanggal 05 s.d. 06 November 2018. Bertempat di ballroom IPB International Convention Center.
  2. “Training on Emerging and Re Emerging Zoonotic Diseases in Indonesia” diselenggarakan tanggal 07 s.d. 08 2018. Bertempat di ruang rapat lantai 2 Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor.

 

Narasumber dalam acara “Workshop on Emerging and Re Emerging Zoonotic Diseases in Indonesia” ini adalah:

Para Peneliti Balai Besar Penelitian Veteriner yang terdiri dari:

  • drh. N.L.P. Indi Dharmayanti, M.Si., dengan topik Important Emerging and Re Emerging Zoonotic Diseases in Indonesia: Research Perspective.
  • drh. Rahmat Setya Adji, M.Si., dengan topik Re Emerging Animmal Tubercolosis In Indonesia.
  • drh. Susan M. Noor, MVSc., dengan topik Leptospirosis in Indonesia: Current Update.
  • April Hari Wardhana, SKH, M.Si., Ph.D., dengan topik Development of Detection Technique for Gastrointestinal Protozoan Parasites in Faecal Samples and Their Molecular Zoonotic Evolution.
  • Indrawati Sendow, M.Sc., dengan topik Research of Henipah Virus in Indonesia.

 

Narasumber dari luar negeri yang terdiri dari:

  • Joanne Meers, Ph.D., dari School of Veterinary Science, The University of Queensland, Brisbane, Australia dengan topik Global Update of Emerging and Reemerging Zoonotic Diseases.
  • Professor Kozue Miura, Ph. D., dari Laboratory of Global Zoonotic Diseases, Department of Veterinary Medical Sciences, Graduate School of Agricultural and Life Sciences, The University of Tokyo dengan topik
  • Kim Halpin, B.V.Sc, M.V.Sc, MANZCVS, M.P.H, Ph.D., dari Australian Animal Health Laboratory, Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO), Geelong Australia dengan topik African Swine Fever and Henipah Virus Update.
  • Charles El-Hage B.V.Sc. (HONS), MANZCVS, Ph.D., dari Equine Infectious Disease Centre Faculty of Veterinary and Agricultural Sciences The University of Melbourne dengan topik Emerging and Re-emerging Zoonotic Diseases in Equine.
  • Nathan Le dari Cyber Crime investigator US FBI dengan topik Cyber crime related to emerging and re-emerging zoonotic diseases.

 

Narasumber dalam acara “Training on Emerging and Re Emerging Zoonotic Diseases in Indonesia” ini adalah:

  1. Joanne Meers, Ph.D,  dengan topik Emerging and Re-emerging Diseases Overview
  2. Kim Halpin, B.V.Sc, M.V.Sc, MANZCVS, M.P.H, Ph.D.,dengan topik Emerging and Re Emerging Zoonotic Diseases Response.
  3. Indrawati Sendow, M. Sc., dengan topik Biosafety and Biosecurity.
  4. drh. Susan M Noor, MVSc., dengan topik Animal Ethics.
  5. drh. Rahmat Setya Adji, M. Si., dengan topik Sampel, Handling and Collection.

 

Diharapkan dengan adanya Workshop and Training on Emerging and Re Emerging Zoonotic Diseases in Indonesia ini dapat memberikan pemahaman tentang penyakit yang bersifat zoonosis, serta penanganan dan pencegahannya, khususnya bagi dunia veteriner Indonesia.

 

Download materi Workshop and Training 

Workshop:  bit.ly/2SDQhzW

Training:  bit.ly/2CVuvT0

 

 

 

 

Bertempat di Gedung Nusantara Convention Hall II, Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang Selatan. Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLitvet) menerima Sertifikat Akreditasi Pranata Litbang Tahun 2018 dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dalam acara "Apresiasi Lembaga Penelitian dan Pengembangan Tahun 2018".

Acara tersebut rutin digelar Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi untuk memberikan apresiasi kepada lembaga litbang terbaik, baik lembaga yang ditetapkan sebagai PUI, Balitbangda, Lembaga Litbang Industri inovatif dan sertifikat akreditasi KNAPPP, dan Balitbangtan terpilih menjadi salah satu Lembaga Induk Pembina Lembaga Litbang terbaik bersama 6 Lembaga induk lainnya.

Pada kesempatan tersebut beberapa unit kerja/UPT Balitbangtan lainnya mendapat sertifikat akreditasi pranata litbang, yaitu: BB-Biogen, Balitsa LembangBalit JestroBalai Penelitian Tanah Balittanah, dan Balittro Bogor.

Sementara itu 4 lembaga ditetapkan sebagai Pusat Unggulan IPTEK (PUI) yaitu : BB Biogen, Balittas, Balitsa, dan Balithi. 2 Lembaga masuk dalam pembinaan: Balitanah dan Balittri.

Sedangkan 3 lembaga, yaitu: Balai Besar Penelitian Tanaman PadiBalai Besar Pascapanen Pertanian dan Balai Besar Penelitian Veteriner mendapat perpanjangan sertifikat sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI).

 

 


 

Bogor, 29 Oktober 2018. Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor, membuka acara “Workshop on Development of Framework for a National Agricultural Culture Collection in Indonesia” bertempat di ruang rapat lantai 2. 

Dalam pembukaan acara beliau berbicara mengenai profil singkat Balai Besar Penelitian Veteriner, profil BCC (Balitvet Culture Collection), serta koleksi mikroba yang dimiliki BB Litvet, selain itu beliau juga berbicara Bio Security dan Bio Safety dalam penanganan koleksi mikroba BB Litvet. 

Setelah itu sambutan dilakukan oleh Dr. Sonia Hunt dari Federal Bureau of Investigation (FBI), beliau menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang unik dengan sumber daya alamnya yang sangat melimpah. Selain itu juga beliau berbicara mengenai Global Disease serta pentingnya Biological Safety and Security dalam pengembangan koleksi mikroba.

Acara Workshop on Development of Framework for a National Agricultural Culture Collection in Indonesia ini terdiri dari 2 bagian acara, yaitu:

1. Improvent of Culture Collection Management BBC bertempat di Balai Besar Penelitian Veteriner. Diselenggarakan pada  tanggal  29 s.d. 30 Oktober 2018.

2. Workshop on Framework of National Agriculture Culture Collection, Diselenggarakan tanggal 31 Oktober s.d. 2 November 2018 bertempat di Grand Savero Hotel Bogor.

Yang menjadi narasumber dalam acara Workshop on Development of Framework for a National Agricultural Culture Collection in Indonesia, yaitu:
1. Dr. Sonia Hunt (US FBI)
2. Dr. Susan Cropp (US FBI)
3. Dr. Stephen Ward Goldsmith (US FBI)
4. Rebecca Bradford (ATCC)
5. Kristina M.Peterman (ATCC)
6. Eric Guandique (Irvine School of Medicine Univ. California)
7. Dr. Julie E. Fischer ( Georgetown University Medical Centre)

 

Diharapkan BB Litvet Culture Collection yang memiliki koleksi mikroorganisme hasil penelitian, mampu berperan sebagai depository nasional mikroba veteriner.