JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Berita Utama

Balai Besar Penelitian Veteriner, Balitbangtan menyelenggarakan webinar Biosensor For Veterinary Diagnosis Application pada hari Selasa 27April 2021.Webinar ini diselenggarakan dalam rangkaian sains series webinar yang merupakan ajang sharing pengetahuan peneliti dan para pakar di bidang biosensor.

Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner, Dr drh NLP Indi Dharmayanti MSi membuka acara dan memberikan arahannya bahwa infeksi penyakit dapat menyebabkan kematian pada manusia dan hewan. Ancaman terhadap penyakit selalu ada dan penyakit zoonosis mempunyai dampak yang sangat serius terhadap animal welfare, lingkungan dan keragaman genetik. Hewan menjadi sumber penyebab kurang lebih 70 persen infeksi penyakit berbahaya (emerging infection). Konvensional diagnostik bersifat efektif dan sensitif untuk pengujian penyakit infeksi tetapi metode ini cenderung membutuhkan biaya yang lebih mahal, waktu pengujian lebih lama. Saat ini sudah banyak diaplikasikan metode pengujian dengan molekuler seperti PCR yang lebih efektif, lebih sensitif dan cepat.  Selanjutnya pengembangan uji diagnostik yang valid untuk deteksi dan identifikasi patogen yang sangat sensitif dan selektif menjadi tantangan tersendiri bagi peneliti di seluruh dunia. Biosensor dapat menjadi solusi yang atraktif untuk pengembangan diagnostik penyakit infeksi karena sangat simpel dan cepat, sensitivitas dan spesifisitas yang sangat tinggi.

Webinar dihadiri peserta sebanyak 104 orang secara virtual. Webinar menghadirkan beberapa narasumber. Narasumber pertama adalah Martin Peacock BSc PhD yang memberikan materi Biosensor for Veterinary Diagnosis Applucation; Narasumber kedua, Hasim Munawar SSi MPhil memberikan materi tentang Biosensor Development for Diagnostik Test; Narasumber ketiga, Dr Eni Kusumaningtyas SSi MSc memberi materi terkait Peptide Based Biosensor Development. Setelah paparan materi dari ketiga narasumber dilanjutkan dengan sesi diskusi dengan peserta webinar. Sesi paparan materi dan diskusi dimoderatori oleh drh Harimurti Nuradji PhD

Pengembangan biosensor sangat dinamis, cepat dan sangat mudah untuk dikembangkan. Diagnostik biosensor telah dikembangkan di BBLitvet diantaranya Biosensor berbasis Peptide/Antibodi untuk Candida Albican yang menggunakan platform gold VSPE , Biosensor berbasis protein untuk Trypanosoma evansi, Biosensor berbasis antibodi untuk Aflatoksin, dan Biosensor berbasis artificial receptor untuk Fumonisin B1, Pyrene, Sianida. Pengembangan biosensor untuk diagnosis viral dan bakterial sedang dalam proses pengembangan

Dalam rangka mendapatkan informasi dan kajian penanggulangan kecacingan pada ternak ruminansia besar, Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet), Balitbangtan menyelenggarakan Virtual Focus Group Discussion “Kajian Penanggulangan Kecacingan pada Ruminansia Besar : Hasil Analisa Data Laboratorium Kecacingan di Provinsi Jateng, Banten, NTB, NTT, dan Kalteng pada hari Selasa, Tanggal 20 April 2021
 
Acara dibuka oleh Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner, Dr drh NLP Indi Dharmayanti, MSi. Kepala BBLitvet dalam sambutannya memberikan arahan bahwa Kecacingan pada ternak ruminansia merupakan penyakit parasiter yang kejadiannya paling umum dan penyebarannya paling luas yang berdampak secara ekonomi. Perlu pemahaman karakter biologi baik didalam maupun diluar ternak agar dapat dilakukan pengendalian secara efisien. Peran BBLitvet dalam kegiatan penelitian kecacingan seperti Pengembangan obat herbal, Respon dan resistensi, Efikasi kapang (tertentu) terhadap kecacingan, Identifikasi dan kejadian kecacingan pada ternak, Analisis kebijakan pengendalian kecacingan. Data kecacingan sangat banyak sehingga perlu dianalisis dikaitkan dengan pemahaman penyakit dalam rangka pengendalian. Masih diperlukan sejumlah data atau informasi tambahan untuk dapat memformulasikan strategi pengendalian kecacingan. Tujuan FGD ini adalah menyusun langkah-langkah tindaklanjut dalam upaya pengendalian kecacingan yang diharapkan dapat digunakan sebagai rekomendasi kebijakan oleh Ditjen PKH.
 
FGD dihadiri peserta sebanyak 90 orang secara virtual. FGD menghadirkan beberapa narasumber yaitu Dirkeswan Ditjen PKH (drh Fadjar Sumping Tjatur Rassa PhD, yang menyampaikan materi "Kebijakan Pengendalian Kecacingan pada Ternak Ruminansia" dan Dr drh Suhardono, MVSc yang memberikan materi "Sosialisasi Hasil Analisis Data Laboratorium Deteksi Kecacingan di Provinsi Jawa Tengah, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan Tengah.
 
Pembahas FGD adalah Pakar Kecacingan dari UGM (Dr drh Joko Prastowo MSi) membahas tentang "Kajian Penanggulangan Kecacingan pada Ruminansia Besar",, Pakar Kecacingan dari IPB (Dr drh Yusuf Ridwan MSi) membahas tentang "Kecacingan pada Organ Pencernaan pada Ternak Ruminansia di Indinesia", Pembahas dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah (drh Abdullah) yang membahas tentang Hasil Analisis Data Laboratorium Kecacingan di Provinsi Jawa Tengah, Pembahas dari Dinas Pertanian Provinsi Banten (drh Jajang) yang membahas tentang Kecacingan pada Ternak Sapi dan Kerbau di Provinai Banten, Pembahas dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Nusa Tenggara Barat (drh Bima Priyatma) membahas tentang ,Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur (drh Hendrina Lero Kaka), dan Pembahas dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah (drh Nina Ariani MSi) membahas tentang Pengendalian Kecacingan Organ Pencernaan pada Ternak Ruminansia Besar di Provinsi Kalimanta Tengah
 
Analisis data kecacingan di kelima Provinsi (Jateng, Banten, NTT, NTB dan Kalteng) menunjukkan adanya keragaman data cukup besar antar provinsi, kasus infeksi cacing terjadi di seluruh daerah pemantauan dalam kurun waktu 2 - 4 tahun
 
Sebaran infeksi Fasciola lebih sempit daripada strongyla. Data prevalensi per waktu (bulan), intensitas infeksi (EPG) belum dimiliki seluruh provinsi contoh.
Untuk mengurangi keragaman data diperlukan harmonisasi laboratorium pengujian. Data minimal (prevalensi dan intensitas infeksi) perlu dimiliki setiap daerah.

 

Balai Besar Penelitian Veteriner, Balitbangtan menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Padat Karya "Pemeliharaan dan Peningkatan Kesehatan Hewan" di Kantor Balai Besar Penelitian Veteriner dan Kebun Percobaan Balai Besar Penelitian Veteriner, Cimanglid pada hari Rabu tanggal 10 Maret 2021.
 
Acara dibuka oleh Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner, Dr drh NLP Indi Dharmayanti, MSi. Kepala BBLitvet dalam sambutannya memberikan arahan bahwa Bimtek ini diselenggarakan dalam rangka mendukung program yang diluncurkan oleh pemerintah untuk membantu dan meringankan masyarakat di masa pandemi, serta memberikan bimbingan teknis dalam menangani kesehatan hewan di masa pandemi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait pemeliharaan ternak dan penyakit hewan.
 
Bimtek dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan 5M,memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, membatasi mobilitas yang diluncurkan oleh pemerintah dalam menangani pandemi Covid 19. Bimtek diikuti oleh 28 peserta di Balai Besar Penelitian Veteriner dan 42 peserta di Kebun Percobaan Cimanglid
 
Bimtek menghadirkan narasumber Dr drh Bambang Ngaji Utama, MSi didampingi oleh drh Suraida Meisari, drh Ciptadi Arif Wicaksono memberikan pengarahan terkait kesehatan hewan untuk budidaya ternak. Dr drh Bambang Ngaji Utama MSi menyampaikan potensi berternak unggas untuk membantu perekonomian rumah tangga dimasa pandemi, cara pemeliharaan dan pencegahan penyakit hewan khususnya pada unggas dan kambing. Panitia juga membagikan Brosur panduan ternak ayam yang menjelaskan persiapan kandang dan perawatan DOC, kebutuhan tempat pakan dan minum, susunan ransum,ciri ciri ayam sakit dan sehat serta beberapa penyakit yang dapat menyerang ayam.
 
 
 
 
Balai Besar Penelitian Veteriner, Balitbangtan menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Padat Karya "Hilirisasi Inovasi Balitbangtan Mendukung Peningkatan Kesehatan Ternak di Kabupaten Magelang" di Aula Kantor Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magelang pada hari senin tanggal 12 April 2021.
 
Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner , Dr drh NLP Indi Dharmayanti, MSi membuka acara dan memberikan pengarahan bahwa Balai Besar Penelitian Veteriner sebagai lembaga riset bidang veteriner yang berperan menghasilkan inovasi inovasi teknologi veteriner yang dapat digunakan untuk penanganan kesehatan hewan. Bimtek yg diselenggarakan ini diharapkan dapat meningkatkan wawasan peternak dan menjadi wahana berdiskusi tentang penanganan penyakit hewan di lapangan sehingga akan meningkatkan produktivitas ternaknya yg diharapkan nantinya akan meningkatkan pendapatan peternak dalam rangka membantu dan meringankan beban petani, peternak yang terdampak pandemi Covid 19. Kepala BBLitvet menghimbau agar dalam pelaksanaan bimtek padat karya ini tetap konsisten menerapkan protokol kesehatan untuk meminimalisir penyebaran Covid 19 di masa pandemi. Kepala BBLitvet juga menyampaikan rasa terima kasih kepada jajaran Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magelang yang telah mendukung dan berpartisipasi dalam penyelenggaraan bimtek padat karya di Kabupaten Magelang
 
Selanjutnya Sambutan dari Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magelang dalam hal ini diwakili oleh Sekdis, Ir Fachrul Auton mewakili menyampaikan sambutan Kadis bahwa Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magelang Menyambut baik kepada BBLitvet penyelenggaraan Bimtek di Kabupaten Magelang. Potensi peternakan di Kabupaten Magelang cukup besar karena memiliki populasi ternak yang besar, terdapat 3 pasar hewan besar , mempunyai pusat kesehatan hewan yang akan mendukung peternakan di Kabupaten Magelang. Dengan potensi tersebut dapat menjadi pertimbangan BBLitvet untuk bisa bekerja sama terkait inovasi yang telah dihasilkan BBLitvet, Balitbangtan untuk dapat digunakan atau dihilirasikan dalam rangka meningkatkan kesehatan hewan di Kabupaten Magelang.
 
Bimtek dihadiri oleh pejabat terkait, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magelang (Joni Indarto AP, MSi) beserta jajarannya, Kapolsek Mungkid, Danramil Mungkid, Koordinator KSPHP BBLitvet (Dr drh Andriani, MSi), Subkoordinator Kerjasama BBLitvet, drh Dyah Ayu Hewajuli, MSi serta diikuti oleh 100 peserta dari peternak unggas, domba dan kambing, medik veteriner, petugas penyuluh peternakan, serta petugas inseminator di Kabupaten Magelang.
 
Bimtek dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, membatasi mobilitas) penanganan Covid 19 sesuai kebijakan pemerintah. Bimtek di bagi menjadi 2 sesi untuk menghindari kerumunan peserta dalam jumlah banyak dalam waktu yang lama.
 
Bimtek menghadirkan narasumber drh Ciptadi Arif Wicaksono dan drh Zaki Aminullah memberikan pengarahan terkait "Aspek Kesehatan Hewan dalam Budidaya Ternak Domba atau Kambing". Materi selanjutnya terkait "Aspek Kesehatan dan Vaksinasi Itik" disampaikan oleh drh Suraida didampingi drh Dyah Ayu Hewajuli, MSi.
Setelah pemaparan materi, peserta mengikuti sesi diskusi interaktif dengan narasumber sehingga diharapkan dengan adanya sesi diskusi ini dapat semakin memperkaya wawasan kesehatan hewan bagi peternak dan dapat membantu mengatasi masalah kesehatan hewan yang dihadapi peternak di Kabupaten Magelang

Balitbangtan, Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLitvet) menjalin kerjasama lisensi dengan mitra PT. Biotis Pharmaceuticals Indonesia sebagai lisensor untuk memproduksi invensi Kit Elisa Antobodi Covid 19 (Kit EAC 19), yaitu Kit ELISA untuk mendeteksi antibodi terhadap Nucleoprotein SARS Cov-2.
 
Penandatanganan kerjasama lisensi pada 2 Maret 2021 di kantor Balai Alih Teknologi Pertania ((BPATP) oleh Kepala BBLitvet Dr. drh. NLP Indi Dharmayanti dengan CEO PT. Biotis Pharmaceuticals Indonesia drh. Sudirman disaksikan oleh Kepala Balitbangtan Dr. Ir. Fadjri Djufry, M.Si.
 
Dengan adanya kerjasama lisensi ini diharapkan inovasi teknologi Kit EAC 19 yang dihasilkan oleh tim peneliti BBLitvet dengan inventor Dr. Simson Tarigan, yang mampu menganalisis secara semikuantitatif sehingga diketahui titer antibodi manusia yang belum pernah terinfeksi, telah terinfeksi, serta belum dan telah melakukan vaksinasi Covid-19, dapat diproduksi secara masal serta manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat luas khususnya saat ini dimana program vaksinasi nasional Covid 19 telah dilaksanakan dalam upaya mengatasi masa pandemi Covid 19 saat ini.