JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Berita Utama

 

 

Bimbingan Teknis Mendukung Kegiatan BASTP (Bogor Agroscience Techno Park) Balai Besar Penelitian Veteriner, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
"Teknologi Android Kesehatan Hewan"
28 Maret 2019

Acara dibuka oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian yang diwakili oleh Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Dr.Ir.M.Prama Yufdy, M.Sc.

Dalam arahan dari bapak Sekretaris menyatakan bahwa, "Dalam menghadapi Era industri 4.0, Balitbangtan mengembangkan aplikasi berbasis digital yang dapat dimanfaatkan oleh petani ataupun peternak. Berbagai aplikasi berbasis Android tersebut diantaranya adalah seperti Takesi (Teknologi Android Kesehatan Sapi) dan AvInDig (Avian Influenza Digital) yang dikembangkan oleh BBLitvet. Aplikasi ini diharapkan mampu menjawab tantangan Era 4.0 dimana peternak atau stake holder dapat diberikan kemudahan pelayanan informasi dan kebutuhannya dapat berkomunikasi langsung dengan para ahli dibidangnya melalui suatu aplikasi berbasis android".

Diseminasi terkait android akan lebih mudah dilakukan di lapang.                                                  

Acara bimbingan teknologi ini diikuti oleh para dokter hewan lingkup Balitbangtan, Universitas, dan beberapa Dinas Peternakan Kabupaten.

 

       

 

 

 

  

Dalam rangka mendukung kegiatan BASTP (Bogor Agro Science Techno Park), Balai Besar Penelitian Veteriner mengadakan acara bimbingan teknis mengenai “Penanganan Kesulitan Melahirkan Pada Sapi Melalui Bedah Caesar”, pada tanggal 27 Maret 2019, bertempat di ruang rapat lantai 2 Balai Besar Penelitian Veteriner.

Acara dibuka oleh kepala Balai Besar Penelitian Veteriner, Dr.drh.NLP.Indi Dharmayanti, MSi.

Narasumber dalam kegiatan bimtek ini adalah dosen dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Dr. drh. Abdul Samik, M.Si., dan praktisi bedah Caesar dari Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur, Provinsi NTB yaitu Drh. Heru Rachmadi yang telah berpengalaman dalam menangani kasus bedah Caesar di lapangan.

Para peserta adalah para dokter hewan lingkup Balitbangtan, Universitas, dan beberapa Dinas Peternakan Kabupaten.

                                               

                                                                  

Tujuan diadakannya bimbingan teknologi ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para pelaku di bidang peternakan khususnya kesehatan hewan , selain itu juga sebagai tanggung jawab lembaga penelitian veteriner untuk meningkatkan kemampuan para dokter hewan agar bisa melakukan bedah caesar pada ruminansia besar, khususnya sapi jika terjadi distokia.

 

                       

 

Sebagai tindak lanjut kerjasama dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah yang sudah memasuki tahun ketiga, pada hari selasa 8 Januari 2019 telah dihilirisasikan inovasi teknologi vaksin AI bivalen dan ND GT VII menyusul vaksin ETEC VTEC yg sudah dihilirisasikan tahun sebelumnya.

Bertempat di Aula Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah di Ungaran. Produk vaksin diserah terimakan dari Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner sebanyak 50 ribu dosis kepada Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah. Produk inovasi teknologi BB Litvet tersebut diharapkan mampu membantu mencegah terjadinya kasus penyakit ND dan AI di wilayah pengembangan ternak unggas milik Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah.

Selain itu juga dilakukan pendampingan oleh tim BB Litvet dalam pelaksanaan vaksinasi dan monitoring sebelum dan pasca vaksinasi. Selain vaksin untuk unggas, hilirisasi inovasi pada tahun 2019 juga adalah tentang diagnosa dan hilirisasi Lip32 untuk diagnosa penyakit zoonosis Leptospirosis. Teknologi Lip32 diharapkan dapat diimplementasikan di laboratorium Veteriner daerah dibawah Prov Jateng guna mengetahui dan mendeteksi kasus Leptospirosis secara cepat dan akurat di wilayahnya.

Menurut Ka BB Litvet teknologi yang dihilirisasikan tersebut sebagian besar sudah di lisensi oleh pihak swasta sehingga sehingga dijamin bahwa kualitas produk tersebut memiliki standar mutu yg baik.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Prov. Jateng sangat berterimakasih atas komitmen dari BB Litvet untuk mendukung program kesehatan hewan di Jawa Tengah. Tidak hanya aspek kesehatan hewan saja yang menjadikan perhatian oleh BB Litvet namun juga dalam hal peningkatan kualitas SDM khususnya yang ada di UPT Balai Veteriner. Hasil kerjasama yang berbasis teknologi termasuk salah satunya dengan BB Litvet, menurut Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan Prov. Jateng akan diekspose secara luas.

 

 

 

 

Balai Besar Penelitian Veteriner mendapatkan kunjungan dari tim ahli World Intellectual Property Organization (WIPO), yang dipimpin Mr. Ewald Glantsching, kepala Budapest Treaty Section, Patent Law Division. Acara di buka oleh Kepala BBLitvet.

Maksud kedatangan beliau Ke BB Litvet adalah dalam rangka pembinaan dan persiapan Culture Collection (CC), Balai Besar Penelitian Veteriner yang dicanangkan sebagai National Pathogen Microbes Depository.

Kedatangan tim ahli dari World Intellectual Property Organization (WIPO) ke Indonesia salah satunya adalah membahas kesiapan Indonesia untuk bergabung dalam Traktat Budapest mengenai Pengakuan Internasional Deposit Mikroorganisme sebagai salah satu persyaratan dalam Prosedur Paten Mikroorganisme.

Sebelumnya telah diadakan rapat konsultasi teknis antara Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual dengan tim ahli dari World Intellectual Property Organization (WIPO), yang diadakan pada hari Rabu, 13 Maret 2019, bertempat di Gedung Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual.

 

 

 

Indonesia tahun 2018 menunjukkan kepeduliannya terhadap pengendalian AMR dengan mengimplementasikan permentan no. 14 tahun 2017 tentang klasifikasi obat hewan dengan pelarangan penggunaan antiobiotik sebagai feed additive.

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan mikroba tersebut resisten sehingga muncul mikroba Antimicrobial Resistance (AMR). WHO, FAO dan OIE pada tahun 2003 telah menyimpulkan bahwa penggunaan antimikroba pada pangan asal hewan, ikan dan tumbuhan mempengaruhi keberadaan AMR pada manusia. Masyarakat global sangat mendukung upaya dari semua negara untuk bersama-sama mengendalikan ancaman outbreak mikroba AMR.

Sidang Ad Hoc Codex Intergovernmental Task Force on Antimicrobial Resistance (TFAMR ke 6) telah dilaksanakan di Busan, Korea Selatan, pada tanggal 10 - 14 Desember 2018. Sidang dipimpin oleh Chair Prof. Yong Ho Park, dan dibuka oleh Menteri Ryu Young-jin (Menteri Keamanan Pangan dan Obat, Korea Selatan), Dr. Jeffrey Lejeune dari FAO, Dr. Awa Aidara-Kane dari WHO dan Mr. Steve Wearne Vice Chair Codex.

Sedangkan delegasi Indonesia diketuai oleh Dr. Wahyu Purbowasito (Pusat Sistem Penerapan Standar, BSN), Delegasi Indonesia yang hadir adalah Ir. Tri Agustin Satriani, M.M. (Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Kementerian Pertanian), Apriyanto Dwi Nugroho, STP. M.Sc. (Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Kementerian Pertanian), Drh. lmron Suady, MVPH. (Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian), Dameria Melany EP, Apt, M.Si. (Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, KementerianPertanian), Dr. Drh. Andriani, M.Si. (Balai Besar Penelitian Veteriner, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian) dan dr. Nelly Puspandari, Sp.MK (Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Kementerian Kesehatan).

TFAMR merupakan sidang Tim adhoc Codex, yang dibentuk sebagai respon cepat untuk mengantasipasi dampak buruk AMR. Sidang dihadiri Delegasi dari 30 negara anggota, 1 anggota Uni Eropa, dan 7 observers, serta perwakilan FAO, WHO, dan OIE.  Sidang ini juga untuk menyempurnakan dua draft dokumen yaitu : Code Of Practice To Minimize and Contain Foodborne Antimicrobial Resistance; dan Draft Guidelines On  Integrated Monitoring and Surveillance Of Foodborne Antimicrobial Resistance.

Menteri Keamanan Pangan dan Obat, Korea Selatan,  Ryu Young-Jin Dalam sambutannya mengatakan "Antimicrobial Resistance (AMR) merupakan permasalahan global yang tidak bisa ditangani oleh satu negara saja, karenanya kerjasama antar negara, baik secara regional dan global harus terus dibangun dalam mengendalikan AMR.”

Kepala Pusat Sistem Penerapan Standar BSN, Wahyu Purbowasito, selaku Ketua Delegasi RI. Menuturkan  “Setelah ditetapkan oleh Codex, dokumen ini akan menjadi acuan pengambilan kebijakan dalam menangani risiko AMR terhadap kesehatan manusia yang dikaitkan dengan pangan, baik pangan asal peternakan, perikanan dan tumbuhan, serta bagaimana setiap negara dapat melakukan penyiapan system monitoring dan surveilans terhadap AMR”.

Menurut Tri Agustin Satriani, Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, "Setelah pertemuan ini, dokumen Codex akan berada pada tahap 4 dari 8 tahap yang harus dilalui sebelum nanti ditetapkan pada sidang Codex Alimentarius Commission. Sehingga  harus mengoptimalkan waktu untuk menyiapkan langkah-langkah antisipasi dan tindak lanjut, karena cakupan penanganan AMR ini lintas sector. Badan Ketahanan Pangan sebagai Mirror Committee Codex akan aktif melakukan langkah koordinatif kepada sektor terkait. Untuk menguatkan koordinasi telah ditetapkan Kelompok Kerja Keamanan dan Mutu Pangan Segar melalui keputusan Menteri Pertanian No 764/Kpts/OT.050/11/2018 tanggal 1 November 2018,  yang mempunyai ruang lingkup penanganan keamanan dan mutu pangan, salah satunya bidangnya adalah penanganan Codex.”