JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Peran Laboratorium BSL 3 Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor

 

Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLitvet) berdiri sejak jaman colonial Belanda (1908) dengan ama Veeartsenijkundig Laboratorium/institute yang juga merupakan cikal bakal sekolah Dokter Hewan di Indonesia.

Kini, BB Litvet merupakan UPT teknis dibawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian, yang telah ditetapkan sebagai laboratorium rujukan penyakit hewan berdasarkan Peraturan MenteriPertanian No:34/Permentan/OT.140/3/2013 dan sebagai Pusat Unggulan Iptek Veteriner (PUI) oleh Kemenristek Dikti melalui Sertifikat No. 553/M/Kp/XII/2015. Penterjemahan dari peraturan ini menunjukkan bahwa sebagai pusat rujukan BBLitvet mampu menangani seluruh penyakit hewan termasuk penyakit zoonosis dan penyakit eksotik.

Penyakit hewan dengan tingkat risiko tinggi memerlukan laboratorium dengan fasilitas biosafety dan biosecurity yang tinggi. Tujuan diterapkannya konsep biosafety laboratorium adalah bukan hanya untuk melindungi kualitas produk penelitian saja namun yang utama adalah untuk melindungi personal yang bekerja dengan agen infeksius di dalam laboratorium dan juga melindungi lingkungan sekitar laboratorium.

Berdasarkan tingkatan Biosafety,  laboratorium dikelompokkan menjadi 4 yaitu BSL 1, BSL 2, BSL 3 dan BSL 4. Perbedaan dari setiap level laboratorium adalah pada penentuan tingkat keamanan laboratorium yang menjamin keamanan dari bahaya terdedah/terbuka, aktivitas dan sifat mikroorganisme yang ditangani di laboratorium.

  • Laboratorium BSL 1 diperuntukkan untuk menangani mikroorganisme yang tidak berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan Contoh agen biologi antara lain: bacillus subtilis, hepatitis, E. Coli dan virus cacar air
  • Laboratorium BSL 2 diperuntukkan untuk menangani mikroorganisme yang mempunyai kemampuan menyebabkan penyakit pada manusia dengan berbagai tingkat Contoh agen biologi antara lain: Hepatitis B, Hepatitis C, Flu, virus West Nile dan Salmonella.
  • Laboratorium BSL 3 diperuntukkan untuk menangani mikroorganisme yang berpotensi menginfeksi secara inhalasi dan berbahaya bagi personal yang bekerja di dalam laboratorium dan berpotensi mengkontaminasi lingkungan Contoh agen biologi antara lain: Anthrax, HIV, SARS, Tubercolosis, virus cacar, thypusdan avian influenza.
  • Laboratorium BSL 4 diperuntukkan untuk menangani mikroorganisme yang sangat berbahaya bagi manusia, seperti virus Ebola zaire, hanta virus.

 Laboratorium dengan tingkat keamanan tertinggi yang ada di Indonesia adalah laboratorium BSL 3. Laboratorium BSL 3 merupakan salah satu laboratorium yang memiliki tingkat perlindungan yang sangat baik terhadap pekerja dan lingkungan karena dilengkapi dengan sistim tata udara yang dilengkapi dengan HEPA filter yang mampu menyaring partikel berukuran di bawah 0,3mikron dengan kinerja minimal 99,99 %.

Pengaturan system udara harus selalu terkendali karena tekanan udara di setiap ruangan berbeda. Ruangan yang terletak semakin ke dalam dan mengandung agen infeksius paling berbahaya bertekanan lebih negative atau lebih rendah. Dalam era globalisasi maka keberadaan BSL 3 di Indonesia menjadi sangat penting dalam melakukan penelitian yang hasilnya dapat digunakan  untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Desain dan konstruksi laboratorium BSL 3 tidak sama satu dengan yang lainnya karena disesuaikan dengan fungsi laboratorium dan agen yang akan ditangani sehingga laboratorium BSL3 dapat difungsikan sebagai laboratorium klinik, diagnostik, pengajaran, penelitian atau fasilitas produksi yang menggunakan agen biologis yang mungkin dapat menyebabkan penyakit serius atau berpotensi mematikan melalui paparan inhalasi.

Kebijakan Balitbangtan untuk BBLitvet adalah menyediakan lingkungan kerja yang aman bagi pekerjanya dengan meminimalkan dan/atau menghilangkan sedapat mungkin bahaya biologis dalam fasilitas laboratorium dan memastikan bahwa penanganan agen biologis dan toksin dilakukan di tempat yang keselamatannya terjaga, aman dan dengan cara handal. Kebijakan ini berlaku untuk semua direktur laboratorium, manajer, peneliti, teknisi dan staf yang melakukan atau terlibat dalam pekerjaan laboratorium.

Berdasarkan kebijakan tersebut maka saat ini BBLitvet telah memiliki dan mengoperasikan dua laboratorium BSL3, yaitu Laboratorium BSL3 moduler yang kontruksinya langsung dari Amerika Serikat (USA) berdiri sejak tahun 2008 dan laboratorium BSL3 zoonosis yang sudah berdiri sebelumnya pada tahun 2006. 

Laboratorium BSL3 BBLitvet dilengkapi dengan fasilitas laboratorium untuk pengujian dan laboratorium untuk hewan coba. Semua limbah padat yang dihasilkan dari laboratorium BSL-3 di proses terlebih dahulu dengan double door autoclave untuk menghilangkan agen infeksius sebelum dibuang, sedangkan limbah cair di proses dalam STP (sewer Treatment Plan).

Laboratorium BSL3 moduler di BBLitvet didesain khusus untuk penelitian penyakit Avian Influenza, untuk pengamatan virus AI yang bersirkulasi di Indonesia dan efikasi vaksin, sehingga dapat dijadikan bahan kebijakan bagi pemerintah. Sedangkan laboratorium zoonosis BSL3 digunakan untuk semua penelitian yang berhubungan dengan penyakit zoonosis seperti rabies, Japanes Encephalitis, antraks, brucella, dan penyakit eksotik seperti Ebola, Nipah.

Keberadaan Laboratorium BSL3 BBLitvet  telah banyak dimanfaatkan oleh Institusi negeri dan swasta, dan  dapat digunakan oleh semua stakeholder yang membutuhkan. Sumber daya manusia, prosedur operasional standar, dan management Biorisiko telah dipersiapkan agar fungsi BSL3 dapat berlangsung secara berkesinambungan. Peranan laboratorium BSL3 sangat penting keberadaannya dalam menunjang program pemerintah terutama menjelang Asian Games tahun 2018, dengan melakukan pengujian beberapa macam penyakit eksotik kuda yang akan masuk ke Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

hacklink satış hacklink wso shell Google