JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Indonesia Berdedikasi Terhadap Pengendalian AMR (Antimicrobial Resistance) dalam Sidang Ad Hoc ke 6, 2018, TFAMR, Busan, Korea Selatan

 

Indonesia tahun 2018 menunjukkan kepeduliannya terhadap pengendalian AMR dengan mengimplementasikan permentan no. 14 tahun 2017 tentang klasifikasi obat hewan dengan pelarangan penggunaan antiobiotik sebagai feed additive.

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan mikroba tersebut resisten sehingga muncul mikroba Antimicrobial Resistance (AMR). WHO, FAO dan OIE pada tahun 2003 telah menyimpulkan bahwa penggunaan antimikroba pada pangan asal hewan, ikan dan tumbuhan mempengaruhi keberadaan AMR pada manusia. Masyarakat global sangat mendukung upaya dari semua negara untuk bersama-sama mengendalikan ancaman outbreak mikroba AMR.

Sidang Ad Hoc Codex Intergovernmental Task Force on Antimicrobial Resistance (TFAMR ke 6) telah dilaksanakan di Busan, Korea Selatan, pada tanggal 10 - 14 Desember 2018. Sidang dipimpin oleh Chair Prof. Yong Ho Park, dan dibuka oleh Menteri Ryu Young-jin (Menteri Keamanan Pangan dan Obat, Korea Selatan), Dr. Jeffrey Lejeune dari FAO, Dr. Awa Aidara-Kane dari WHO dan Mr. Steve Wearne Vice Chair Codex.

Sedangkan delegasi Indonesia diketuai oleh Dr. Wahyu Purbowasito (Pusat Sistem Penerapan Standar, BSN), Delegasi Indonesia yang hadir adalah Ir. Tri Agustin Satriani, M.M. (Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Kementerian Pertanian), Apriyanto Dwi Nugroho, STP. M.Sc. (Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Kementerian Pertanian), Drh. lmron Suady, MVPH. (Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian), Dameria Melany EP, Apt, M.Si. (Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, KementerianPertanian), Dr. Drh. Andriani, M.Si. (Balai Besar Penelitian Veteriner, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian) dan dr. Nelly Puspandari, Sp.MK (Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Kementerian Kesehatan).

TFAMR merupakan sidang Tim adhoc Codex, yang dibentuk sebagai respon cepat untuk mengantasipasi dampak buruk AMR. Sidang dihadiri Delegasi dari 30 negara anggota, 1 anggota Uni Eropa, dan 7 observers, serta perwakilan FAO, WHO, dan OIE.  Sidang ini juga untuk menyempurnakan dua draft dokumen yaitu : Code Of Practice To Minimize and Contain Foodborne Antimicrobial Resistance; dan Draft Guidelines On  Integrated Monitoring and Surveillance Of Foodborne Antimicrobial Resistance.

Menteri Keamanan Pangan dan Obat, Korea Selatan,  Ryu Young-Jin Dalam sambutannya mengatakan "Antimicrobial Resistance (AMR) merupakan permasalahan global yang tidak bisa ditangani oleh satu negara saja, karenanya kerjasama antar negara, baik secara regional dan global harus terus dibangun dalam mengendalikan AMR.”

Kepala Pusat Sistem Penerapan Standar BSN, Wahyu Purbowasito, selaku Ketua Delegasi RI. Menuturkan  “Setelah ditetapkan oleh Codex, dokumen ini akan menjadi acuan pengambilan kebijakan dalam menangani risiko AMR terhadap kesehatan manusia yang dikaitkan dengan pangan, baik pangan asal peternakan, perikanan dan tumbuhan, serta bagaimana setiap negara dapat melakukan penyiapan system monitoring dan surveilans terhadap AMR”.

Menurut Tri Agustin Satriani, Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, "Setelah pertemuan ini, dokumen Codex akan berada pada tahap 4 dari 8 tahap yang harus dilalui sebelum nanti ditetapkan pada sidang Codex Alimentarius Commission. Sehingga  harus mengoptimalkan waktu untuk menyiapkan langkah-langkah antisipasi dan tindak lanjut, karena cakupan penanganan AMR ini lintas sector. Badan Ketahanan Pangan sebagai Mirror Committee Codex akan aktif melakukan langkah koordinatif kepada sektor terkait. Untuk menguatkan koordinasi telah ditetapkan Kelompok Kerja Keamanan dan Mutu Pangan Segar melalui keputusan Menteri Pertanian No 764/Kpts/OT.050/11/2018 tanggal 1 November 2018,  yang mempunyai ruang lingkup penanganan keamanan dan mutu pangan, salah satunya bidangnya adalah penanganan Codex.”