JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Informasi Penyakit Hewan

Antraks adalah penyakit bakterial, pada hewan herbivora dan termasuk manusia dengan tingkat kematian yang tinggi terutama pada hewan herbivora. Anthraks merupakan penyakit zoonosis dan tersebar di seluruh dunia.

Bacillus anthracis, yaitu sejenis basil berbentuk Batang dengan ujung siku-siku, bersifat Gram positif. Secara in vitro, basil membentuk rantai, tetapi secara in vivo berbentuk tunggal atau berpasangan. Bila terdedah udara, kuman antraks dapat membentuk spora yang tahan hidup berpuluh tahun di tanah, tahan terhadap kondisi lingkungan yang panas, dan bahan kimia atau desinfektan.

Infeksi pada hewan dapat berasal dari tanah yang tercemar. Organisme penyakit ini memasuki tubuh hewan melalui luka, terhirup bersama udara, atau tertelan. Masa inkubasi bervariasi antara 3-5 hari. Wabah dapat terjadi di kondisi tanah basa yang berkapur, yang menjadi inkubator bagi kuman tersebut. Dalam kondisi tanah yang demikian, spora akan berubah menjadi bentuk vegetatif.

gejala septisemia, terjadi kematian mendadak yang disertai perdarahan di lubang-lubang kumlah. Hewan sulit bernafas, demam tinggi, gemetar, jalan sempoyongan, kondisi sangat lemah, ambruk, dan kematian terjadi secara cepat.

Pengobatan dapat menggunakan penisilin, tetrasiklin, dan beberapa obat sulfa. Dalam keadaan wabah, terjadinya kenaikan suhu tubuh harus dimonitor selama 2 minggu dan segera dilakukan pengobatan. Vaksinasi dapat diberikan setelah diperkirakan efek obat telah berkurang atau hilang, sebab spora vaksin dapat mengalami kematianoleh pengaruh daya kerja obat.

Pemeriksaan makroskopik langsung terhadap sediaan ulas darah perifer adalah cara yang sederhana dan tepat, jika hewan masih dalam keadaan sakit atau baru saja mati, selama belum terjadi pembusukan. Terlihatnya bakteri berbentuk basil yang terselubung, biasanya dalam jumlah besar, dalam sediaan ulas darah yang diberi pewarnaan dengan Polychrome Methylene Blue (reaksi M'Fadyen) merupakan diagnosa yang positif.

Pemeriksaan serologik dengan uji termopresipitasi Ascoli sangat berguna untuk menentukan jaringan tercemar Anthrax. Dapat juga dilakukan uji ELISA (Enzyme-linked Immunosorbent Assay).

Upaya peningkatan populasi sapi di Indonesia, antara lain ditempuh dengan perbaikan efisiensi reproduksinya. Untuk itu, inseminasi buatan (IB) telah diperkenalkan pada awal tahun 1952 dan hingga kini masih tetap digalakkan bagi sapi-sapi milik rakyat. Telah menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya, bahwa sapi-sapi pejantan Balai Inseminasi Buatan (BIB) diperiksa kesehatannya terutama untuk menjamin bahwa pejantan yang bersangkutan terbebas dari penyakit-penyakit reproduksi. Salah satu penyakit reproduksi penting adalah Bovine Viral Diare (BVD). Penyakit reproduksi pada ternak merupakan salah satu kendala dalam upaya peningkatan populasi ternak sapi dan kerbau sebagaimana dicanangkan dalam PSDSK (program swasembada daging sapi dan kerbau).

Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet) sebagai salah satu Unit Pelayanan Teknis di lingkup Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) mendapat mandat untuk mendukung keberhasilan program-program Kementerian Pertanian pada sektor peternakan tersebut, yaitu salah satunya melalui penanganan kesehatan hewan berkaitan dengan masalah reproduksi ternak sapi.

Bovine Viral Diarrhea (BVD), merupakan penyakit viral pada sapi yang disebabkan oleh virus BVD, virusnya mudah ditransmisikan dengan distribusi di seluruh dunia. Penularan, prevalensi antibodi yang tinggi, dan frekuensi kejadian subklinis atau infeksi yang sulit didiagnosis menghasilkan tingginya prevalensi antibodi terhadap BVD. Pada peternakan penghasil anak dan peternakan sapi perah, abortus dan anomali kongenital merupakan dampak yang terasa secara ekonomis. Mengingat pentingnya penyakit tersebut, deteksi cepat dalam rangka skrining penyakit reproduksi khususnya pada sapi dan kerbau sangat perlu dilakukan sejak dini. Hal demikian dapat terwujud apabila terdapat perangkat diagnostik uji cepat yang akurat dan mampu mendeteksi beberapa penyakit reproduksi sekaligus sehingga terjadi efisiensi waktu. Salah satu perangkat diagnostik yang diharapkan mampu menjalankan tujuan tersebut adalah teknologi diagnosa Field ELISA (FELISAVET) yang telah dikembangkan oleh BB Litvet. Dukungan perangkat diagnostik yang murah dan mudah diaplikasikan oleh petugas di tingkat lapang menjadi sangat penting. Kit diagnosa komersial umumnya mahal. Oleh karena itu dirasa perlu untuk mengembangkan teknik deteksi cepat (ELISA) atau berbasis ELISA agar dapat memetakan masalah penyakit reproduksi pada ternak sapi dengan biaya lebih murah, di samping meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan teknologi.

Terkait dengan beberapa penyakit penting yang sering muncul pada ternak sapi, inovasi teknologi BB Litvet yang memungkinkan bisa diterapkan di lapang adalah FELISAVET. FELISAVET merupakan teknik uji cepat yang dapat diaplikasikan untuk mencapai tujuan tersebut namun perlu dilakukan validasi terlebih dahulu. Validasi diperlukan agar aplikasi di lapang dapat lebih terjamin akurasinya. Hasil penerapan inovasi teknologi tersebut di lapangan mendapatkan respon yang baik dari pengguna dan dimungkinkan dikerjasamakan dengan pihak-pihak terkait agar bisa dimanfaatkan secara lebih luas dan untuk itu informasi validasi inovasi teknologi ini penting untuk segera diketahui.

RESISTENSI ANTI MIKROBA PADA FOODBORNE PATHOGENS

 

Perkembangan teknologi peternakan dari tradisional hingga komersial mengakibatkan penggunaan antimicrobial juga semakin meluas sebagai substansi yang digunakan untuk pengobatan, hingga meningkatkan performance hewan baik kesehatan dan pertumbuhannya. Saat ini antimicrobial resistance (AMR) dalam foodborne pathogen menjadi hal yang penting di seluruh dunia,masalah AMR menjadi sebuah global issue dan global attention yang dibutuhkan oleh seluruh dunia, maka diperlukan adanya global cooperation dan tindakan pencegahan terhadap AMR yang berhubungan dengan bahan pangan asal hewan.

Penyebab utama muncul dan meluasnya masalah AMR-foodborne pathogen adalah penggunaan antimicrobial pada hewan, sehingga berakibat pada bahan pangan asal hewan. Saat ini banyak digunakan antimicrobial pada hewan dengan maksud untuk pengobatan infeksi, pencegahan penyakit, dangrowth promotion. Penggunaan antimikroba untuk ketiga maksud tersebut serta kemungkinan terjadinya penyebaran/spreading bakteri AMR yang dapat ditransmisikan ke manusia melalui rantai makanan dapat meningkatkan masalah AMR-foodborne pathogen.

Organisasi internasional seperti WHO, OIE, dan Codex memandang penting AMR sebagai isu dalam global-food safety, untuk itu mendukung adanya hubungan interdisipliner untuk mengatasi masalah AMR secara efektif.

Sumber : Materi pelatihan “Antimicrobial Resistance and Foodborne Disease Associated with Livestock : Mechanism, Diagnosis & Control

Antraks adalah penyakit yang disebabkan Bacillus anthracis (B. anthracis). Penyakit ini dapat menyerang hewan domestik maupun liar, terutama hewan herbivora, seperti sapi, domba, kambing, dapat menyerang manusia (zoonosis) dan beberapa spesies unggas (OIE 2012, WHO 2008). Ada beberapa istilah untuk penyakit ini, yaitu : charbon disease, woolsorters disease, ragpickers disease, malignant carbuncle, malignant pustule, radang limpa, pesdar dan cenang hideung. Di Indonesia ada beberapa daerah yang masih endemis antraks, antara lain : Jawa Barat, DIY, Sulawesi Selatan, NTT dan NTB.

Virulensi B. anthracis ditentukan oleh dua faktor, yaitu: kapsul poly-D-glutamic acid dan toksin. Produksi kapsul dikode oleh plasmid pXO2, komponen ini berfungsi melindungi dari aktivitas fagositosis. Kapsul akan terlihat jika bakteri tersebut ditumbuhkan pada bikarbonat agar atau agar yang ditambah dengan serum, diinkubasikan pada suhu 37oC dengan kondisi 5-10% CO2. Produksi toksin dimediasi oleh plasmid pXO1, komponen dari toksin ini adalah : protektif antigen (PA), edema factor (EF), dan lethal factor (LF). Komponen– komponen ini diproduksi pada masa log phase dari pertumbuhan B. anthracis.

Bacillus anthracis yang ada di Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet) merupakan isolat lapang yang berhasil diisolasi dari berbagai wilayah di Indoneisa. Identifikasi bakteri tersebut didasarkan pada sifat fenotipik, biokimiawi, atau menggunakan polymerase chain reaction (PCR) untuk mendeteksi kromosomal, kapsul, dan toksinnya. B. anthracis bersifat highly monomorphic sehingga relatif sulit dikarakterisasi secara molekular untuk menentukan kekerabatan atau kelompoknya. Untuk mengidentifikasi dan mengkarakterisasi secara molekular B. anthracis, digunakan metode multilocus variable number repeat tandem analysis (MLVA-VNTR) dengan menggunakan 8 primers untuk satu isolat (MLVA 8). Ini dilakukan karena bakteri B. anthracis sangat sulit dibedakan, sehingga untuk mengkarakterisasi secara molekuler harus dilakukan dengan mengidentifikasi plasmid (2 pasang primers), dan lokus kromosomal (6 pasang primers). Metode ini dapat membedakan kelompok atau clustering B. anthracis, sehingga dapat menentukan kekerabatan atau asal usulnya. Isolat antraks yang ada di Indonesia, terutama BB Litvet sampai saat ini belum dikarakterisasi secara genotipik. Informasi karakter B. anthracis isolat lapang Indonesia, baik secara fenotipik dan genotipik/molekular sangat diperlukan untuk mengetahui grup atau kelompoknya, sehingga dapat menentukan kekerabatan atau asal usul isolat tersebut.

Perbedaan antara strain B. anthracis secara molekuler baru diketahui tahun 1995, yaitu adanya variasi 12 nukleotida yang berulang, yaitu vrrA. Variasi ini disebabkan adanya perbedaan lima bentuk alele. Untuk subtyping B. anthracis, selanjutnya menggunakan analisis variable-number tandem analysis (VNTR). Multi-locus variable-number tandem repeat analysis (MLVA-VNTR) merupakan analisis dengan menggunakan amplifikasi PCR dan ukuran fragmen untuk mendeteksi panjang polimorfisme di beberapa daerah VNTR. MLVA sangat baik untuk membedakan antara isolat B. anthracis, baik pada kasus wabah maupun bioterorisme.

Balai Besar Penelitian Veteriner mempunyai lebih dari 30 isolat B. anthracis yang berhasil di isolasi dari beberapa daerah dan tahun. Bakteri ini merupakan isolat penting dan perlu dijaga dengan baik, karena sangat potensial digunakan sebagai bahan untuk diagnosis, vaksin maupun senjata biologi. Plasma nutfah ini sampai sekarang belum dikarakterisasi secara lengkap sifat fenotipik dan genotipiknya untuk membedakan antar isolat. Hal ini sangat penting dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui karakter B. anthracis yang ada di BB Litvet, maupun Indonesia pada umumnya.