JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Karakterisasi Molekuler Bacillus Anthracis Isolat Lapang dengan Multilocus Variable Number Repeat Tandem Analysis (MLVA-VNTR)

Antraks adalah penyakit yang disebabkan Bacillus anthracis (B. anthracis). Penyakit ini dapat menyerang hewan domestik maupun liar, terutama hewan herbivora, seperti sapi, domba, kambing, dapat menyerang manusia (zoonosis) dan beberapa spesies unggas (OIE 2012, WHO 2008). Ada beberapa istilah untuk penyakit ini, yaitu : charbon disease, woolsorters disease, ragpickers disease, malignant carbuncle, malignant pustule, radang limpa, pesdar dan cenang hideung. Di Indonesia ada beberapa daerah yang masih endemis antraks, antara lain : Jawa Barat, DIY, Sulawesi Selatan, NTT dan NTB.

Virulensi B. anthracis ditentukan oleh dua faktor, yaitu: kapsul poly-D-glutamic acid dan toksin. Produksi kapsul dikode oleh plasmid pXO2, komponen ini berfungsi melindungi dari aktivitas fagositosis. Kapsul akan terlihat jika bakteri tersebut ditumbuhkan pada bikarbonat agar atau agar yang ditambah dengan serum, diinkubasikan pada suhu 37oC dengan kondisi 5-10% CO2. Produksi toksin dimediasi oleh plasmid pXO1, komponen dari toksin ini adalah : protektif antigen (PA), edema factor (EF), dan lethal factor (LF). Komponen– komponen ini diproduksi pada masa log phase dari pertumbuhan B. anthracis.

Bacillus anthracis yang ada di Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet) merupakan isolat lapang yang berhasil diisolasi dari berbagai wilayah di Indoneisa. Identifikasi bakteri tersebut didasarkan pada sifat fenotipik, biokimiawi, atau menggunakan polymerase chain reaction (PCR) untuk mendeteksi kromosomal, kapsul, dan toksinnya. B. anthracis bersifat highly monomorphic sehingga relatif sulit dikarakterisasi secara molekular untuk menentukan kekerabatan atau kelompoknya. Untuk mengidentifikasi dan mengkarakterisasi secara molekular B. anthracis, digunakan metode multilocus variable number repeat tandem analysis (MLVA-VNTR) dengan menggunakan 8 primers untuk satu isolat (MLVA 8). Ini dilakukan karena bakteri B. anthracis sangat sulit dibedakan, sehingga untuk mengkarakterisasi secara molekuler harus dilakukan dengan mengidentifikasi plasmid (2 pasang primers), dan lokus kromosomal (6 pasang primers). Metode ini dapat membedakan kelompok atau clustering B. anthracis, sehingga dapat menentukan kekerabatan atau asal usulnya. Isolat antraks yang ada di Indonesia, terutama BB Litvet sampai saat ini belum dikarakterisasi secara genotipik. Informasi karakter B. anthracis isolat lapang Indonesia, baik secara fenotipik dan genotipik/molekular sangat diperlukan untuk mengetahui grup atau kelompoknya, sehingga dapat menentukan kekerabatan atau asal usul isolat tersebut.

Perbedaan antara strain B. anthracis secara molekuler baru diketahui tahun 1995, yaitu adanya variasi 12 nukleotida yang berulang, yaitu vrrA. Variasi ini disebabkan adanya perbedaan lima bentuk alele. Untuk subtyping B. anthracis, selanjutnya menggunakan analisis variable-number tandem analysis (VNTR). Multi-locus variable-number tandem repeat analysis (MLVA-VNTR) merupakan analisis dengan menggunakan amplifikasi PCR dan ukuran fragmen untuk mendeteksi panjang polimorfisme di beberapa daerah VNTR. MLVA sangat baik untuk membedakan antara isolat B. anthracis, baik pada kasus wabah maupun bioterorisme.

Balai Besar Penelitian Veteriner mempunyai lebih dari 30 isolat B. anthracis yang berhasil di isolasi dari beberapa daerah dan tahun. Bakteri ini merupakan isolat penting dan perlu dijaga dengan baik, karena sangat potensial digunakan sebagai bahan untuk diagnosis, vaksin maupun senjata biologi. Plasma nutfah ini sampai sekarang belum dikarakterisasi secara lengkap sifat fenotipik dan genotipiknya untuk membedakan antar isolat. Hal ini sangat penting dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui karakter B. anthracis yang ada di BB Litvet, maupun Indonesia pada umumnya.