JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Penguatan Teknologi FELISAVET untuk Deteksi Penyakit Bovine Viral Diarrhea pada Sapi

Upaya peningkatan populasi sapi di Indonesia, antara lain ditempuh dengan perbaikan efisiensi reproduksinya. Untuk itu, inseminasi buatan (IB) telah diperkenalkan pada awal tahun 1952 dan hingga kini masih tetap digalakkan bagi sapi-sapi milik rakyat. Telah menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya, bahwa sapi-sapi pejantan Balai Inseminasi Buatan (BIB) diperiksa kesehatannya terutama untuk menjamin bahwa pejantan yang bersangkutan terbebas dari penyakit-penyakit reproduksi. Salah satu penyakit reproduksi penting adalah Bovine Viral Diare (BVD). Penyakit reproduksi pada ternak merupakan salah satu kendala dalam upaya peningkatan populasi ternak sapi dan kerbau sebagaimana dicanangkan dalam PSDSK (program swasembada daging sapi dan kerbau).

Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet) sebagai salah satu Unit Pelayanan Teknis di lingkup Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) mendapat mandat untuk mendukung keberhasilan program-program Kementerian Pertanian pada sektor peternakan tersebut, yaitu salah satunya melalui penanganan kesehatan hewan berkaitan dengan masalah reproduksi ternak sapi.

Bovine Viral Diarrhea (BVD), merupakan penyakit viral pada sapi yang disebabkan oleh virus BVD, virusnya mudah ditransmisikan dengan distribusi di seluruh dunia. Penularan, prevalensi antibodi yang tinggi, dan frekuensi kejadian subklinis atau infeksi yang sulit didiagnosis menghasilkan tingginya prevalensi antibodi terhadap BVD. Pada peternakan penghasil anak dan peternakan sapi perah, abortus dan anomali kongenital merupakan dampak yang terasa secara ekonomis. Mengingat pentingnya penyakit tersebut, deteksi cepat dalam rangka skrining penyakit reproduksi khususnya pada sapi dan kerbau sangat perlu dilakukan sejak dini. Hal demikian dapat terwujud apabila terdapat perangkat diagnostik uji cepat yang akurat dan mampu mendeteksi beberapa penyakit reproduksi sekaligus sehingga terjadi efisiensi waktu. Salah satu perangkat diagnostik yang diharapkan mampu menjalankan tujuan tersebut adalah teknologi diagnosa Field ELISA (FELISAVET) yang telah dikembangkan oleh BB Litvet. Dukungan perangkat diagnostik yang murah dan mudah diaplikasikan oleh petugas di tingkat lapang menjadi sangat penting. Kit diagnosa komersial umumnya mahal. Oleh karena itu dirasa perlu untuk mengembangkan teknik deteksi cepat (ELISA) atau berbasis ELISA agar dapat memetakan masalah penyakit reproduksi pada ternak sapi dengan biaya lebih murah, di samping meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan teknologi.

Terkait dengan beberapa penyakit penting yang sering muncul pada ternak sapi, inovasi teknologi BB Litvet yang memungkinkan bisa diterapkan di lapang adalah FELISAVET. FELISAVET merupakan teknik uji cepat yang dapat diaplikasikan untuk mencapai tujuan tersebut namun perlu dilakukan validasi terlebih dahulu. Validasi diperlukan agar aplikasi di lapang dapat lebih terjamin akurasinya. Hasil penerapan inovasi teknologi tersebut di lapangan mendapatkan respon yang baik dari pengguna dan dimungkinkan dikerjasamakan dengan pihak-pihak terkait agar bisa dimanfaatkan secara lebih luas dan untuk itu informasi validasi inovasi teknologi ini penting untuk segera diketahui.