JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

KUMPULAN KARYA TULIS ILMIAH drh. Sukarsih 1980 – 2005

KUMPULAN KARYA TULIS ILMIAH
drh. Sukarsih
 1980 – 2005

 

1              mfn=001094

Wardhana, April H.; Sukarsih (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia), Urech R. (Queensland Department of Primary Industries, Animal Research Institute, Yeerongpilly). Identifikasi senyawa volatil dari luka Myasis dan responnya terhadap lalat Chrysomya bezziana. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. (2005). V .10(1) p.41-50.

 

Abstract

Development of attractant for screwworm fly was required in myiasis control  on livestock. The purpose of this study is to identify of volatile compounds from myiasis wound infested with Chrysomya bezziana larvae including to assess their responses in both cage and room assays. Both Friesian-Holstein heifer (FH) (animal 1) and Bali cattle (animal 2) were used as myiasis model. The artificial wounds (8-10 cm) were conducted on the rump of both animals and infested with about 200 eggs of C. bezziana. Odours from the infested wound were collected on day 1 and 3 for animal1 and day 3 and 5 for animal 2, post C. bezziana larvae infestation. Two different collection devices were used: firstly, absorption onto Tenax kept in steel tubes, which was attached to a collected bowl. The volatile organic compounds were collected from the wound and  the surrounding animal hide by flowins the air through the inlet and outlet. Secondly, a solid phase micro extraction (SPME) device was inserted into bowl with passive (no air flow) odour collection. Gass chromatography/mass spectrometry was used to identify volatile compounds from wound. The compounds of the wound on animal 1, collected  on day 1, produced  only minor quantities of  compounds (nonanal, decanal, hexanal and heptanal). Minor components such as DMDS and DMTS were only detected on day 3. The compounds of the wound on animal 2 was more varied and had a peculiar strike-like smell on day 3 and 5. They included indole, phenol, acetone, various sulfides (DMS, DMDS, DMTS), alcohols (butanol, 3-methylbutanol), aldehydes and acids. These compounds were selected and formulated into attractant (B92) then tested in both cage and room assays using SL-2 as control. Respond of flies was analyzed by ANOVA 5% (cage assay) and T test 5% (room assay). The result showed that the fly response to B92 was very low compared to SL-2 in cage assays (P<0.05). The addition of B92 to SL-2 could not increase the catch of flies in the cage assays (SL-2+B92=10:1; 10:3), there was nodifference between SL-2 and B92/SL-2 in room assay, the fly response still low (P>0.05)

 

 

2              mfn=001206

Wardhana, April H.; Sukarsih (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia) Urech, R.; Green, P.E.(Queensland Department of Primary Industries, Animal Research Institute. Australia). Modifikasi swormlure (SL2) untuk meningkatkan daya pikit terhadap lalat Old World Screw-worm, Chrysomya bezziana. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner.Bogor 12 - 13 September 2005.p. 1097-1104. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.(2005).

 

Abstract

The Old World screw-worm fly, Chrysomya bezziana (OWS), is an obligate   parasite of warm-blooded animals including human. Swormlure (SL2), a synthetic attractant developed for the New World screw-worm fly, Cochliomyia hominivorax, is also used to attract the OWS. The objective of this study was to develop a better attractant for C. bezziana. Two bioassays were developed to evaluate OWS responses to various attractant mixtures: The cage assay determined the numbers of flies in a cage entering through a cone into one of two glass jars containing attractants, using 2400 flies for 12 replicates. The room assay measured the responses of a total of 2100 flies moving freely in an insect-proof room to attractants and traps. The jar/trap catches were transformed (square root) and  analyzed  by one-way  ANOVA (cage assay) and  a  T-test for paired  samples (room assay). Modifications to SL2 included the removal, or changing concentrations, of existing components and the addition of new components. The omission of all aromatic components (phenol, cresol, benzoic acid) from SL2 did not significantly reduce the response of C. bezziana in the cage assay (P>0.05). On the other hand, removing all acids (acetic acid, butyric acid, valeric acid and benzoic acid) from SL2 resulted in loss of over 90% of the response to SL2. Removal of dimethyl disulfide (DMDS) reduced the SL2 attractancy by 25-50%, however a reduction of the DMDS concentration to 10% did not alter the response (P>0.05). The inclusion of dimethyl trisulfide (DMTS) also increased  the response in the cage assay. Several attractant mixtures were tested in the room assay using sticky traps. Two modified mixtures were more attractive than SL2, both with lower DMDS concentration and including DMTS, and one mixture lacking all aromatic compounds. These mixtures were not only more attractive than SL2 to OWS, but they also contain fewer components and are cheaper to produce. These mixtures were subsequently tested in field trials and their improved OWS attractancy confirmed.

 

 

3              mfn=000975

Wardhana, April H.; Sukarsih (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Pengembangan teknik uji pemikat lalat Chrysomya bezziana dalam kondisi laboratorium dan semi lapang. Jurnal Ilmu Ternak Dan Veteriner.(2004).V .9(1) p.37-45.

 

Abstrak

Swormlure (SL-2) merupakan attractant sintetik untuk lalat Cochliomya hominivorax (the New Word Screwworm Fly, NWSF) yang telah lama dikembangkan dan digunakan di Amerika namun belum dilaporkan keefektifannya untuk lalat Chrysomya bezziana (the Old Word Screwworm Fly, OWSF). Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari kondisi yang sesuai untuk uji pemikat dalam kondisi laboratorium (uji sangkar) dan semi lapang sehingga dapat meningkatkan penangkapan lalat OWSF. Uji sangkar dan uji semi lapang dimaksudkan untuk menguji daya cium dan daya lihat lalat C. bezziana serta responnya terhadap cahaya, aliran udara, status fisiologis dan adanya bias antara posisi sangkar dan perangkap. Modifikasi faktor-faktor tersebut dilakukan dengan cara menutup semua jendela laboratorium dengan kertas sampul coklat, mengatur exhaust fan dan memasang lampu flourescent di tengah dan di atas sangkar. Uji semi lapang dikembangkan sebagai perantara antara kondisi laboratorium dengan lapang. Jumlah lalat yang masuk ke dalam perangkap merupakan respon lalat terhadap SL-2. Data beberapa kondisi pada uji sangkar dianalisis dengan ANOVA sedangkan data dua kondisi yang berbeda pada uji semi lapang dianalisis dengan uji T (5%). Hasil penelitian menujukkan bahwa kondisi standar yang sesuai untuk uji sangkar adalah dua lampu di atas sangkar dinyalakan,  lampu ditutup  dengan kertas  minyak  putih, posisi  perangkap  paralel dengan  lampu, exhaust fan dimatikan selama uji berlangsung dan dinyalakan diantara jeda waktu ulangan untuk mengurangi bau SL-2 yang tersebar di dalam laboratorium (p>0,05). Kondisi standar untuk uji semi lapang  adalah  empat  buah  lampu  dipasang  dan  dinyalakan,  exhaust  fan  dimatikan  selama  uji berlangsung dan dinyalakan setelah ulangan ke 3 dan 6 selama 15 menit. Perangkap yang digunakan adalah perekat berukuran separuh dari normal dan berwarna kuning (p>0,05).

 

 

4              mfn=000575

Sukarsih; Partoutomo, Sutijono; Satria, Edy (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)), Tozer, Robert (41 Botticelli St., Fig Tree Pocket, 4069, Queensland, Australia), Riding, George Wijffels, Gene (CSIRO Livestock Industries, Molecular Animal Genetics Centre, Queensland Australia). Estabilishment and maintenance of a colony of the Old World Screwworm Fly, Chrysomya bezziana at Balitvet in Bogor, West Java, Indonesia. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. (2000). Edisi Khusus Vol.5 (3) p. 144-149.

 

Abstrak

Koloni lalat the Old World Screwworm Chrysomya bezziana telah dibangun dan dipelihara di Balai Penelitian Veteriner, Bogor, Jawa Barat, Indonesia, sejak 1994. Kultur lalat yang sesuai dan diet yang dipilih yang mampu mempertahankan daya reproduksi lalat dalam jangka panjang diuraikan dalam tulisan  ini.  Di  samping  itu,  kelangsungan  hidup  jangka  panjang  dari  koloni  lalat  dipertahankan dengan teknik pengkulturan yang efektif dan dapat diandalkan, sedangkan keragaman genetik dan ketahanan hidup koloni lalat dipertahankan melalui perkawinan reguler antara lalat yang dikultur dan lalat  liar  yang  diperoleh  dari  lapangan.  Koloni  lalat  tersebut  telah  digunakan  sebagai  sumber pensuplai bahan-bahan dari larva lalat yang dipakai untuk mengisolasi dan mengidentifikasi antigen protektif pada proyek vaksinasi lalat screwworm yang dibiayai oleh ACIAR. Larva lalat telah dipakai untuk pengembangan dan pemakaian secara rutin teknik evaluasi efikasi vaksin. Koloni lalat secara terusmenerus tetap berguna baik sebagai sumber pembuatan vaksin lalat screwworm maupun penelitian baru yang lain, di antarannya termasuk penelitian baru tentang evaluasi zat pengikat lalat screwworm.

 

 

5              mfn=000576

Riding, George ; Pearson, Roger; Wijffels, Gene; Willadsen, Peter (CSIRO Livestock, Queensland Australia), Muharsini, Sri; Sukarsih; Satria, Edy (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Fractionation, identification and vaccination efficacy of native antigens from the screwworm fly, Chrysomya bezziana. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2000. Edisi Khusus Vol.5 (3) p.150 -159.

 

Abstract

Detection of antibodies to Akabane virus using serum neutralization tests was conducted among large and small ruminants and other species of livestock from different sites in Indonesia. A total of 5633 sera comprising 3455 cattle sera, 950 goat sera, 401 sheep sera, 232 duck sera, 332 chicken sera, 179 horse sera and 84 pig sera collected between 1989 and 1994 were tested. The results were that 7% of cattle sera tested, 5% of goat sera , 2% of duck sera, 3% of chicken sera, 6% of horse sera and 3% of pig sera tested but no sheep sera had antibodies against Akabane virus reacted. Titres of reactive sera ranged from 1:4 to 1:128. Both large and small ruminants had low prevalence of neutralising antibodies.

 

 

6              mfn=000581

Sukarsih; Partoutomo, Sutijono (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)), Wijffels, Gene; Vuocolo, Tony; Willadsen, Peter (CSIRO Livestock Industries, Molecular Animal enetics Centre, Level 3, Gerhrmann Laboratories University of Queensland, 4072 Australia). Vaccination Trials in sheep against Chrysomya bezziana larvae using the recombinant peritrophin antigens Cb15, Cb42 and Cb48. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. (2000). Edisi Khusus Vol.5 (3) p.192 -196.

 

Abstrak

Uji efikasi beberapa bentuk protein membran peritrofik rekombinan dari lalat screwworm Chrysomya bezziana telah dilakukan secara in vitro dan in vivo, yaitu sebagai antigen pada vaksinasi untuk mencegah serangan larva terhadap jaringan tubuh domba. Protein tersebut ialah Cb15 dan Cb42 yang diekspresikan pada Escherichia coli dan Cb48 yang diekspresikan pada Escherichia coli dan Pichia pastoris. Hasil uji in vitro menunjukkan bahwa perubahan bobot dan daya tahan larva yang dipelihara dalam medium serum domba yang divaksinasi tidak berbeda dengan larva yang dipelihara dalam medium serum kontrol. Cb48 dari Chrysomya bezziana mempunyai derajat kesamaan sekuensi yang signifikan dengan antigen PM48 dari Lucilia cuprina. Pemberian makan dengan serum anti-Cb48 pada larva Lucilia cuprina mengakibatkan penurunan bobot badan yang berbeda nyata secara statistik dibandingkan dengan kontrol meskipun perbedaan tersebut kecil, sama halnya dengan  pemberian serum anti-PM48. Pada uji in vivo, vaksinasi dengan Cb15  dan Cb42  yang diekspresikan pada Escherichia coli dan Cb48 yang diekspresikan pada Pichia pastoris menunjukkan kenaikan bobot larva yang sedikit lebih tinggi, dan daya tahan hidup sama atau lebih tinggi dibandingkan dengan pada domba kontrol. Hasil observasi didiskusikan dalam artikel ini.

 

 

7              mfn=000590

Muharsini, Sri; Sukarsih; Partoutomo, Sutijono (Department of Parasitology, Research Institute for Veterinary Science Indonesia), Riding, George; Willadsen, Peter; Wijffels, Gene (CSIRO Tropical Agriculture, Molecular Animal Genetics, Level 3, Gehrmann Laboratories, University of Queensland Australia), Hamilton, Susan ( Department of Biochemistry, University of Queensland Australia). Identification and chracterisation of the excreted/secreted serine proteases of larvae of the Old World Screwworm Fly, Chrysomya bezziana. International Journal For Parasitology. (2000). Vol.30 p.705-714.

 

 Abstrak

Serine proteases are the major proteolytic activity excreted or secreted from Chrysomya bezziana larvae  as demonstrated  by gelatin  gel  analyses and  the  use of  specific substrates, benzoyl-Arg- nitroanilide  and  succinyl-Ala-Ala-Pro-Phe-p-nitroanilide.Serine  proteases  were  identified  through their inhibition by4-(2aminoethyl)-benzene sulphonyl fluoride and clasisifield as trypsin and chymotrypsin. Like most insect serine protease, the C. bezziana enzymes were active over broad pH range from mildly acidic to  alkaline.The excreted  or  secreted  serine proteases were purified  by affinity chromatography using soybean trypsin inhibitor.

 

 

8              mfn=001232

Sahara, Ana (Bagian Parasitologi FKH-UGM), Malole (Lab. Virologi FKH-IPB), Koesharto (Lab. Entomologi FKH-IPB), Sendow, Indrawati; Sukarsih (Balitvet). Distribusi dan identifikasi spesies-spesies Culicoides (Diftera: Ceratoponidae) di Kabupaten Bogor. Jurnal Sain Veteriner. (2000). V.18(1-2) p.31-36.

 

Abstrak

Telah diteliti distribusi dan identifikasi spesies-spesies Culicoides yang ada di sekitar kandang ternak sapi di kabupaten bogor. Penelitian ini ditunjukan untuk mengetahui spesies-spesies culicoides yang mempunyai peran dalam penyebaran penyakit bluetongue pada ternak.sebanyak 2117 ekor Culicoides (Diptera: Ceratopogonidae) dikumpulkan dari kandang ternak sapi diwilayah depok dan cibubulang, Kabupatern bogor dengan menggunakan perangkap serangga Pirbright-type miniatar light trap, Identifikasi Spesies Culicoides yang dominal di daerah depok adalah C. parahumeratis Wirth & Hubert, C. actoni  Smith, C. oxystoma Kieffer dan  C. peregrines Kieffer;  sedangkan spesies yang dominal di cibubulang adalah C. parahumeralis, C.orientalis, C.orientalis Macfiei, C. peregrimus dan C. oxystoma  spesies  Culicoides  yang  dicurigai  sebagai  penyebar  penyakit  bluetongue adalah; C.actoni, C.oxystoma, C. peregrimus dan C. orientalis.

 

 

9              mfn=002102

Sukarsih, Partoutomo, Sutijono; Satria, Edy [Research  Institute for Veterinary  Science,  Jalan R.E. Martadinata 30, P.O. Box  151, Bogor 16114, Indonesia], Tozer, Robert; Wijffels, Gene; Riding, George.  Establishment  And  Maintenance  Of  A  Colony  Of  The  Old  World  Screwworm  Fly, Chrysomya Bezziana At Balitvet In Bogor, West Java, INDONESIA. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. Edisi Khusus. 2000. Vol.5 (3): p.144-149.

 

Abstrak

Beberapa senyawa racun dapat ditemukan dalam pakan (hijauan, konsentrat) dan air minum yang dapat menyebabkan keracunan bagi hewan. Pakan hijauan atau rumput merupakan sumber beberapa senyawa toksik alami, diantaranya sianida, kemudian tanaman yang bersifat mengakumulasi nitrat dan tanaman lain yang tidak biasa diberikan pada ternak. Pemeriksaan telah dilakukan pada sampel asal beberapa kasus keracunan yang terjadi di Indonesia dari tahun 2006 sampai 20i3 dan berdasarkan basil diagnosa keracunan dengan cara anaiisis kimia dan didukung dengan informasi sejarah kasus, gejala klinis dan post mortem findings. Hasil pemeriksaan secara kimia terhadap sampel yang berupa isi lambung, pakan (konsentrat, hijauan) dan air minum dari 69 kasus keracunan yang diterima di laboratorium diagnostik Balai Besar Penelitian Veteriner, menunjukkan jumlah kasus keracunan senyawa toksik nitrat-nitrit: 15 kasus (21,74%), pestisida: 14 kasus (20,29%) , senyawa lchlor : 11 kasus (15,94%), sianida sebanyak 10 kasus(14,49%), ammonia: 9 kasus (13,04%), oksalat: 6 kasus (8,69%) dan racun lain (phorbol 13-decanoate, merkuri, phenol dan sulfat) masing- masing 1 kasus (5,79%). Keracuanan nitrat merupakan kasus yang terbanyak di Indonesia sejak tahun 2006 sampai 2013 dan umumnya disebabkan mengkonsumsi hijauan yang mengandung nitrat tinggi sebagai efek pemupukan atau efek perlakuan herbisida.

 

 

10           mfn=002103

Riding, George; Muharsini, Sri [Research Institute for Veterinary Science Jalan R.E. Martadinata 30, P.O. Box 151, Bogor 16114, Indonesia], Pearson, Roger; Sukarsih; Satria, Edy; Wijffels, Gene; Willadsen, Peter. Fractionation, identification and vaccination efficacy of native antigens from the screwworm fly, Chrysomya bezziana. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. Edisi Khusus. 2000. Vol.5 (3): p.150-159.

 

Abstrak

Beberapa protease  yang  diisolasi dan bahan hasil eksretori/sekretori  larva  dan protein  membran peritrofik adalah produk biologik yang paling intensif dipelajari sebagai sumber antigen protektif yang potensial pada myiasis yang disebabkan oleh Lucilia cuprina. Peranan produk biologik sejenis sebagai antigen protektif potensial pada lalat Chrysomya bezziana sudah diteliti dan dilaporkan dalam tulisan ini. Protease serin yang telah dimurnikan diuji kapasitasnya sebagai antigen protektif dengan menyuntikkan pada domba, kemudian efekasinya sebagai vaksin dievaluasi dengan menggunakan teknik uji in vitro dan in vivo dengan larva lalat Chrysomya bezziana. Pada uji in vitro dengan menggunakan serum domba yang telah divaksinasi tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan larva, tetapi pada uji in vivo didapatkan penurunan bobot larva pada serum domba yang divaksinasi walaupun jumlah larva yang ditemukan sedikit meningkat. Vaksinasi dengan membran peritrofik dari Chrysomya bezziana memberikan respon imunologik yang efektif terhadap parasit yang ditunjukkan dengan penurunan bobot larva dan peningkatan mortalitas larva secara nyata. Fraksinasi secara bertahap dari membran peritrofik dengan berbagai surfactants dan agen chaotrophic untuk meningkatkan daya larut berhasil memisahkan grup-grup protein yang mempunyai ciri yang berbedabeda

 

 

11           mfn=002108

Sukarsih; Partoutomo, Sutijono [Research Institute for Veterinary Science], Wijffels, Gene; Vuocolo, Tony; Willadse, Peter. Vaccination Trial In Sheep Against Chrysomya Bezziana Larvae Using The Recombinant Perithrophin Antigens Cb15, Cb42 And Cb48. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. Edisi Khusus. 2000. Vol.5 (3): p.192-196.

 

Abstrak

Uji efikasi beberapa bentuk protein membran peritrofik rekombinan dari lalat screwworm Chrysomya bezziana telah dilakukan secara in vitro dan in vivo, yaitu sebagai antigen pada vaksinasi untuk mencegah serangan larva terhadap jaringan tubuh domba. Protein tersebut ialah Cb15 dan Cb42 yang diekspresikan pada Escherichia coli dan Cb48 yang diekspresikan pada Escherichia coli dan Pichia pastoris. Hasil uji in vitro menunjukkan bahwa perubahan bobot dan daya tahan larva yang dipelihara dalam medium serum domba yang divaksinasi tidak berbeda dengan larva yang dipelihara dalam medium serum kontrol. Cb48 dari Chrysomya bezziana mempunyai derajat kesamaan sekuensi yang signifikan dengan antigen PM48 dari Lucilia cuprina. Pemberian makan dengan serum anti-Cb48 pada larva Lucilia cuprina mengakibatkan penurunan bobot badan yang berbeda nyata secara statistik dibandingkan dengan kontrol meskipun perbedaan tersebut kecil, sama halnya dengan  pemberian serum anti-PM48. Pada uji in vivo, vaksinasi dengan Cb15  dan Cb42  yang diekspresikan pada Escherichia coli dan Cb48 yang diekspresikan pada Pichia pastoris menunjukkan kenaikan bobot larva yang sedikit lebih tinggi, dan daya tahan hidup sama atau lebih tinggi dibandingkan dengan pada domba kontrol. Hasil observasi didiskusikan dalam artikel ini.

 

 

12           mfn=000559

Sukarsih; Partoutomo, S. (Balai Penelitian Veteriner, Bogor((ndonesia)); Eisemann, C.H.; Willadsen, P. (CSIRO Division of Tropical Animal PRoduction, Long Pocket Laboratories, Queensland(Australia)). [Development pf myiasis vaccine: in vitro detection of immunoprotective responses of peritrophic membrane protein, first instar larva L1 supernatant and pellet antigen of fly Chrysomya bezziana in sheep.]. Pengembangan vaksin myiasis: deteksi in vitro respon kekebalan protektif antigen protein peritrophic membrane, pelet dan supernatan larva L1 lalat Chrysomya bezziana pada domba.Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner.(1999). Vol.4 (3) p.202 -208.

 

 Abstrak

Pengendalian penyakit myiasis dengan pengobatan ternak secara individual, terutama pada ternak yang dipelihara secara ekstensif, memakan banyak waktu dan mahal. Sementara itu, untuk pengendalian penyakit ini dengan cara vaksinasi merupakan teknologi alternatif yang dianggap paling murah. Akan tetapi, vaksin untuk penyakit ini masih dalam pengembangan melalui kerjasama penelitian antara CSIRO, Pusat Antar Universitas-Institut Teknologi Bandung (PAU-ITB) dan Balai Penelitian Veteriner (Balitvet) dengan dana dari ACIAR. Tiga jenis antigen protein peritrophic membrane (PM), larutan ekstrak (LE), dan ekstrak pelet (EP) larva Chrysomya bezziana stadium pertama (L1) dipakai sebagai vaksin atau imunogen dalam penelitian ini. Antigen PM, LE dan EP masing-masing diemulsikan dalam ajuvan Montanide ISA-70 dengan menggunakan blender Virtis. Masing-masing vaksin disuntikkan pada 6 ekor domba dengan dosis 0,5 g/ekor untuk PM, 0,8 g/ekor untuk EP, dan 4,2 ml untuk

 

 

13           mfn=000506

Partoutomo, Sutijono; Sukarsih; Satria, Edy (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)), Eisemann, Craig (Commonwealth Science Industries Research Organisation (CSIRO) (Australia)). [The development of an "in vivo assay technique" as a tool for measuring protective immune responses of vaccine against myasis in sheep]. Pengembangan teknik uji in vivo sebagai sarana untuk mengukur tanggap kebal protektif vaksin myasis pada. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner.(1998).Vol.3(4) p. 270-276.

 

Abstrak

Pengembangan teknik uji in vivo dalam penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk mengukur tanggap kebal protektif dari vaksin myiasis pada domba. Kegiatan ini sejalan dengan pengembangan vaksin yang pada saat ini sedang dikerjakan dalam proyek kerjasama antara Balitvet, ITB dan CSIRO (Australia) dengan dana dari ACIAR. Percobaan dilakukan pada domba naif atau domba yang negatif myiasis berdasarkan uji ELISA. Larva stadium pertama dari Chrysomya bezziana ditumbuhkan pada kulit yang telah disayat di dalam ring aluminium yang telah dilekatkan pada daerah punggung domba yang telah dicukur. Untuk melekatkan ring tersebut pada kulit digunakan lem (Aibon) dan dilakukan satu hari sebelumnya. Ring dipasang masing-masing dua di sebelah kanan dan dua di sebelah kiri garis punggung. Empat kelompok perlakuan dikerjakan dalam penelitian ini, untuk menguji pengaruh spons basah yang diletakkan di atas larva di dalam ring (Kelompok 1); pengaruh pemakaian spons dan daging giling sebagai medium waktu menghitung dan memindahkan larva ke atas kulit waktu infeksi (Kelompok 2); pengaruh penggunaan repelan minyak sereh wangi, minyak kayu putih dan ekstrak neem (Kelompok 3); dan pengaruh  pengurangan dosis  infeksi dari 50  menjadi 25  larva stadium pertama (L1)/ring dan pemakaian kuas halus untuk menghitung dan memindahkan  larva (Kelompok 4) terhadap larval recovery rates (LRR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa spons basah di dalam ring, spons dan daging giling sebagai medium waktu menghitung dan memindahkan larva, dan pemakaian repelan kimia hanya dapat meningkatkan LRR sedikit, sedangkan koefisien keragamannya masih tetap tinggi. Sementara itu, pengurangan dosis infeksi larva dari 50 menjadi 25 larva L1/ring dan pemakaian kuas halus untuk menghitung dan memindahkan larva dapat meningkatkan LRR dengan baik dan menurunkan koefisien keragaman cukup besar. Dari hasil penelitian ini ternyata uji in vivo sebagai sarana untuk mengukur tanggap kebal protektif vaksin myiasis pada domba masih belum dapat direkomendasikan.

 

 

14           mfn=000376

Sendow, Indrawati; Sukarsih; Bahri, Sjamsul ( Research Institute for Veterinary Science, Bogor, Indonesia)), Daniels, Peter W. (Australian Animal Health Laboratory, Geelong,Victoria, Australia)). Antibody prevalence of Akabane virus in Indonesia. Hemera Zoa. (1997). Vol.79(3) p.114-123.

 

Abstract

Detection of antibodies to Akabane virus using serum neutralization tests was conducted among large and small ruminants and other species of livestock from different sites in Indonesia. A total of 5633 sera comprising 3455 cattle sera, 950 goat sera, 401 sheep sera, 232 duck sera, 332 chicken sera, 179 horse sera and 84 pig sera collected between 1989 and 1994 were tested. The results were that 7% of cattle sera tested, 5% of goat sera , 2% of duck sera, 3% of chicken sera, 6% of horse sera and 3% of pig sera tested but no sheep sera had antibodies against Akabane virus reacted. Titres of reactive sera ranged from 1:4 to 1:128. Both large and small ruminants had low prevalence of neutralising antibodies.

 

 

15           mfn=000377

Sendow, Indrawati; Hamid, Helmy; Sukarsih; Soleha, E.;  Bahri, Sjamsul (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)), Pearce, M. (Indonesia International Animal Science Research And Development Foundation (Iniansredef), Bogor)), DANIELS, Peter W. (CSIRO Australian Animal Health Laboratory, Geelong, Australia)). Clinical and pathological changes associated with the propagation of Indonesian Bluetongue viral isolates in Merino sheep. Hemera Zoa.(1997).Vol. 79(3) p.124-134.

 

Abstract

Nine merino sheep imported from Australia and seronegative for antibodies to bluetongue viruses were inoculated intravenously or subcutaneously with cattle blood from which bluetongue virus (BTV) serotypes 1.9,21 or 23 had been isolated. Seven merino sheep were inoculated with uninfected cattle blood as placebo.Seroconversion occurred in 5 sheep inoculated with BTV serotypes 1,9 and 21 and  virus  was reisolated  in embryonated  chicken eggs.Embryos died  between 3  to  5  days post inoculation  (PI)  and  were  dwarfed  and  haemorrhagic. Passaging  in  BHK-21  cells  produced cythopathic effect.These infected cell and dead embryos reacted in a monoclonal antibody based BTV antigen capture ELISA, Pyrexia  occurred  in  7  sheep  inoculated  with BTV  serotypes 1,9  and  21 between 7 and 11 days PI, and very mild to moderate clinical signs were produced between 7 and 14 days PI, Hyperaemia of the buccal mucosa and coronitis were the most common signs in infected sheep. No sheep died or was severely affected during these experiments.

 

 

16           mfn=000441

Parede, Lies; Indriani, Risa; Sukarsih (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). The isolation of Gumboro virus from larvae and darkling beetles (Carcinops pumilio). Pengisolasian virus Gumboro dari larva dan kumbang "darkling" (Carcinops pumilio). Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner (1996) Vol. 2 (1) p. 38-41.

 

Abstract

Gumboro (infectious bursal disease, IBD) virus was isolated from darkling beetles (Carrinaps pumilin) and their larvae in a commercial pullet chicken farm with repeated outbreaks incidence of Gumboro disease in Tangerang, West Java. In addition, these over populated beetles and their larvae were suspected to be infected and then shed the virus or acted as vectors. Isolation was done by repeated passages of virus using chicken embryo fibroblast cells as prime media, which then showed the evidence of cylop: ihic effecis. The isolation was followed by antigen detection by means of ELISA test.

 

 

17           mfn=000813

Sukarsih; Kusumaningsih, Anni (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Infestasi tungau pada lebah madu Apis mellifera dan upaya penanggulangannya. Prosiding Temu Ilmiah Nasional Bidang Veteriner. Bogor. 12 - 13 Maret 1996 p.213-216.

 

Abstrak

Beberapa penyakit yang sering dijumpai pada lebah madu diantaranya  disebabkan oleh bakteri, fungi, virus dan parasit. Gangguan yang paling utama pada peternakan lebah madu di Indonesia adalah adanya infestasi tungau„ Tropaaelaps clareae dan Varroa Jacobson'. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan tiga macam perlakuan memakai campuran belerang- kamper dengan komposisi 4 gnu belerang + 2 grin kamper untuk pemberantasan T. clareae dan V. Jacobson' pada lebals madu Apis melhfrra. Untuk penelitian ini dipakai 4 kelompok yang mendapat perlakuan yang berbeda, whim hulan, satrap 2 minggu , setiap minggu sekali dan kelompok kontrol, masing-masing kelompok dengan 5 kali Mangan. Pengarisatan dilakukan pada waktu sebelum perlakuan dimulai keinudian setiap  bulan  sekali  selama  3  bulan.  Umuk  perhitungan  derajat  infestasi  tungau,  pada  setiap pengarnatan diambil scbanyak 500 larva pada setiap koloni. Hasil penelitian mi menunjukkan bahwa derajat infestasi T clareae dan V. Jacobson, pasta sernua koloni yang mendapat perlakuan berbeda nyata dengan kelompok kontrol (P Campuran belerang-kamper yang diherikan setiap sans minggu menunjukkan penwunan infestasi T. clareae yang herbed& nyata dengan pemberian setiap bulan .051, scdangkan pemberian setiap  dua minggu tidak menunjukkan perbedaan  yang nyata baik dengan pemberian setiap ininggu maupun setiap bulan (P> 0.05). Infestasi V. Jacobson' tidak menunjukkan basil  yang  berbeda  nyata  diantara  ketiga  perlakuan  lersebut.  Dililwl  dari  infestasi  sebelum  dan sesudah perlakuan dilakukan, ternyata basil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian setiap 2 minggu efektif dan ekonomis untuk pemberamassus T. clareae. Sedangkan untuk panberantasan V Jacobson; campuran hekrang-kamper kurang efektif. Hal ini dapal dilihat dari infestasi V Jacobson, yang masih cukup tinggi dari setiap perlakuan hingga Nngansatan yang terakhir.

 

 

18           mfn=000970

Kusumaningsih, Anni; Sukarsih (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Tingkat infestasi tungau-tungau Tropilaelaps clareae dan Varroa jacobsoni pada lebah madu apis mellifera milik Apiari Pramuka di Desa Titisan, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat. Majalah Parasitologi Indonesia. (1995). V .8(2) p.47-53.

 

Abstrak

Aspergillus  nude fonsi  menamakan  kapang  patogenik  dari  kelompok  Aspergillus  glaucus,  dan termasuk salah satu penyebab aspergillosis panting pada taws di samping A. Jitasigans, A. flame, A. refer, A. tarots dan A. sideline. Koons A. amstelodami ini belum pernah berhasil diisolasi dari organ tubuh penderita aspergillosis, baik pada ayam, berbagai jenis burung dan unggas lain. Biasanya, kapang  yang  selalu  dapat  diisolasi  dari  organ  tabah  unggas  yang  didiagnosis  positif  aspegillosis admialtA. fumigants, A. Ames daavA. alga. Kapang yang disebut terskhir hi seringjup dapat Mantadart palm*, komposimmya dan alas kandang. Dalam maw studituauk mengisolasi kapang patogenik dari pakan dan komponennya yang dikoleksi dari perusahaan dan ioko pakan ternak di daerah Bandung, Bogor dan sekitarnya, A. runstelodandim teish berhasil diidentifikasi dan diisolasi dari pakan broiler, jagung gilidg, teptug jagung den dab& Penmanml merupabn pemnjuk bahwa japing, den& dan pins berindar japing, tinggi dapt dipandang latiagai *Sena yang balk bagi perunnbuban kapang ant, don deli= kudos tartan% populasi yang tinge din kapang to niemberi *tang cukup besar bags tedadinya aspeigillosiS pada ling*, sehinggga pain diwaspodai.

 

 

19           mfn=001426

P. W. Daniels; Sendow, Indrawati; Soleha, E.; Sukarsih; Bahri, Sjamsul (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia) Hunt, N.T. Australia-Indonesian collaboration in veterinary arbovirology-a review. Veterinary Microbiology. (1995). Vol. 46 (1-3) p. 151-174.

 

Abstract

Australian-Indonesian collaboration in veterinary development programs has led to significant advances in the study of arboviruses. This paper reviews the resulting knowledge of arboviral infections of livestock in Indonesia. The first recognized arboviral disease of animals in Indonesia was bovine ephemeral fever. Serology indicates that the virus is widespread, as are related rhabdoviruses. Local sheep appear resistant to bluetongue disease, but imported sheep have suffered mortalities. Bluetongue viral serotypes 1.7.9. 12, 21 and 23 have been isolated from sentinel cattle; 1.21 and 23 at widely separate locations. Bluetongue serotype 21 has been isolated from Ctc ficoides spp. Serological reactors to Akabane virus are widespread, as are reactors to the flavivirus group. Japanese encephalitis. isolated from sentinel pigs, is the flavivirus of most veterinary importance but the limit of its easterly distribution is unknown. Many of the arboviruses present in Indonesia are also present in Australia and elsewhere in Asia. Their patterns of mobility among countries in the region are largely undescribed, but there are opportunities for further regional collaboration.

 

 

20           mfn=000398

Sendow, Indrawati; Sukarsih; Soleha, E. (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)), Daniels, Peter W. (Indonesia International Animal Science Research and Development Foundation, Bogor (Indonesia)). [Isolation of bluetongue virus serotypes 21 from mosquitoes in West Java, Indonesia]. Isolasi virus bluetongue tipe 21 dari nyamuk di Jawa Barat, Indonesia. Penyakit Hewan (1994) Vol. 26 (48), Edisi khusus p. 21-25.

 

Abstrak

Isolasi bluetongue tipe 21 dari nyamuk dijawa barat, Indonesia. Penyakit Hewan 26 (48):21-25 Virus bluetongue tipe 21 telah berhasil diisolasi dari campuran kelompok Aedes spp.dan Anopheles spp.,Nyamuk,dari daerah daratan rendah di jawa barat dalam lampu perangkap  nyamuk  yang digunakan  untuk menangkap  insekta terutama  Culicoides spp.Suspensi nyamuk diinokulasikan terlebih dahulu pada telur embryo tertunas dalam sebelum diinokulasikan  pada  biakan  jaringan  Aedas  albopictus  dan  BHK-21.  isolate  virus  diidentifikasi dengan uji immunodut blotting dengan menggunakan antibody monoclonal yang spesifik terhadap bluetongue, dan yang bereaksi dikirim ke Laboratorium referen untuk konfirmasi dan serotype.

 

 

21           mfn=000749

Sendow, Indrawati; Marfiatiningsih, Sri; Sukarsih (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Prevalensi reaktor virus akabane di Propinsi Lampung. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Veteriner untuk Meningkatkan Kesehatan Hewan dan Pengamanan Bahan Pangan Asal Ternak. Cisarua, Bogor. 22 - 24 Maret 1994.p.107-111.

 

Abstrak

Pemeriksaan serologis terhadap penyakit Akabane (AKA) telah dilakukan dengan menggunakan uji serum netralisasi. Huil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi reakior AKA bervariasi dari 0% hingga 38% dengan rata-rata II % dari 360 sampel darah sapi yang diuji. Jenis nyamuk Wit:aides yang  berhasil  diidentifdcasi  di  wilayah  survey  Walsh  Corientatis,  C.  actoni,  C.  stanatrae,  C. peregrinus, C. amkawae, C. panduaneralts, C. films, C. geminus, C.arystoma dan C. patter, sebanyak 309 ekor. Hasil wawancara dengan peternak menunjukkan bahwa 2 ekor ternak mengandung antibodi terhadap virus AKA dari 12 ekor sapi yang pernah mengalami abortus ataupun kematian anak sapi pada saat dilahirkan atau beberapa  saat  setelah melahirkan. Dan basil tersebut di atas disimpulkan bahwa infeksi penyakit AKA telah terjadi di wilayah tersebut.

 

 

22           mfn=000764

Sukarsih; Sendow, Indrawati (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Distribusi culicoides pada kelompok sapi sentinel di Depok dan Cisarua. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Veteriner untuk Meningkatkan Kesehatan Hewan dan Pengamanan Bahan Pangan Asal Ternak. Cisarua, Bogor, 22 - 24 Maret 1994. p.238-242.

 

Abstrak

Survei distribusi Culicoides telah dilakukan disekitar kelompok sapi sentinel di wilayah Depok dan Cisarua pada bulan Oktober 1992 sampai dengan September 1993. Sampel Culicoides dikoleksi setiap minggu dengan menggunakan perangkap Pirbright-type miniatur light trap. Berdasarkan hasil pengurnpulan sampel terlihat bahwa Culicoides lebih banyak ditemukan di wilayah Depok daripada Cisarua dan berbeda sangat nyata (P <0,01). Di Depok diidentifikasi sebanyak 21 spesies dengan jumlah 18.162 Culicoides selama sate tahun sedangkan di Cisarua 20 spesies dan jumlahnya 2.038. Di  Depok,  C.  actoni  yang  telah  terbukti  dapat  memindahkan  virus  bluetongue  di  Australia, merupakan spesies yang paling banyak ditemukan, dan diikuti oleh C. parahwneralis, C. swnatrae dan C. fulvta. Di Cisarua, C. parahumeralis paling banyak ditemukan, diikuti oleh C.  maculates, C. orientalis dan C. fulvus. C. fulvus dan C. actoni yang merupakan vektor virus bluetongue terdapat pada kedua lokasi tersebut.

 

 

23           mfn=001585

Sendow, Indrawati; Soleha E.; Sukarsih (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)) Daniels, Peter W.  (Indonesia  International  Animal  Science  Research  and  Development  Foundation,  Bogor Indonesia).   Epidemiological studies on Bluetongue virus infection in West Java, Indonesia. Proceedings of the Final Research Co-ordination Meeting of an FAO/IAEA Co-ordinated Research Programme organized by the joint FAO/IAEA Division of Nuclear Techniques in Food and Agriculture and held in Bangkok.  Thailand. 1-5 February 1993. p. 211-217.  Strengthening research on animal reproduction and disease diagnosis in Asia through the application of immunoassay techniques.  Austria. International Atomic Energy Agency.  (1994).

 

Abstract

In monitoring of sentinel cattle in West java, seroconversions to orbiviruses occurred mostly at the end of the wet season. A low altitude site gave more reactors than did ahigh altitude site. Due to perceived inefficiencies of the agar gel immunodiffusion (AGID) test, a competitive ELISA (C- ELISA)  was  applied  and  the  results  compared  with  the  AGID  test  results.  C-ELISA  detected antibodies at an earlier stage of infection than did the AGID test. Not all sera reacting in the AGUD test reacted in C-ELISA, suggesting that the C-ELISA is more specific in detecting bluetongue virus (BTV) antibodies than the AGID. However, as the infection status of most field sera was not Know, this could not be confirmed conclusively from the avaible data. A comparison of isolation methods indicated that isolates were obtained more frequently if samples were passaged in embryonated eggs before blind passage in A edes albopictus cells followed by passage in BHK-21 cell. Six BTV serotypes,1,7,9,12,20,21 and 23 were identifield and confirmed from apparently healthy sentinel actle blood at low altitudes; BTV serotype 21 was also isolated from a pool of the Avaritia sub-genus of the Culicoides spp which contained 227 C. fulvus and 20 C. orientalis

 

 

24           mfn=001913

Sendow, Soleja, E. Sukarsih, Ronohardjo P (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Epidemiological Studies On Bluetongue Virus Infection In West Java, Indonesia. Proceedings Of Final Reserch Co-ordination Meeting Of An FAO/IAEA Co-ordinated Research Programme. Thailand.1-5 February 1993. p.211-217. Thailand. International Atomic Energy Agency  (1994).

 

Abstrak

In monitoring of sentinel cattle in West Java, seroconversions to orbiviruses occurred mostly at the end of the wet season. A low altitude site gave more reactors than did a high altitude site. Due to perceived inefficiencies of the agar gel immunodiffusion (AGID) test, a competitive ELISA (C- ELISA)  was  applied  and  the  results  compared  with  the  AGID  test  results.  C-ELISA  detected antibodies at an earlier stage of infection than did the AGID test. Not all sera reacting in the AGID test reacted in C-ELISA, suggesting that the C-ELISA is more specific in detecting bluetongue virus (BTV) antibodies than the AGID. However, as the infection status of most field sera was not known, this could not be confirmed conclusively from the available data A comparison of isolation methods indicated that isolates were obtained more frequently if samples were passaged in embryonated eggs before blind passage in A edes cilbopictus cells followed by passage in BHK-21 cells. Six BTV serotypes, 1,7,9,12,20, 21 and 23 were identified and confirmed from apparently healthy sentinel cattle blood at low altitudes; BTV serotype 21 was also isolated from a pool of the Avaritia sub-genus of the Culicoides spp which contained 227 C. fulvus and 20 C. orientalis.

 

 

25           mfn=002120

Sendow, I; Sukarsih; Soleha, E[Research Institute JOr Veterinary. Science, PO BOX 52, Bogor, Indonesia] Daniels, P.W. Isolation Of Bluetongue Virus Serotype 21 From Mosquitoes In West Java, Indonesia. Penyakit Hewan.  Edisi Khusus. 1994. Vol.26 (48): p.21-25.

 

Abstrak

Virus bluetongue tipe 21 telah berhasil diisolasi dari campuran kelompok Aedes spp. dan Anopheles app., nyamuk, dari dacrah dataran rendah  di Jawa Banat dalam lampu perangkap nyamuk yang digunakan untuk menangkap insekta terutarna Culicoides spp. Suspensi nyamuk diinokulasikan terlebih dahulu pada telur embryo tertunas sebelurn diinokulasikan pada biakan jaringan Aedes albopictus   dan   BHK-2I   Isolat   virus   diidentifikasi   dengan   uji   immunodot   blotting   dengan menggunakan antibodi monoklonal yang spesifik terhadap bluetongue, dan yang bereaksi dikirim kc

 

 

                Lahoratorium referen untuk konfirmasi dan serotipe.

 

 

Key words: BTV type 21, mosquitoes, isolation

26           mfn=000330

Sukarsih(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Pengaruh tingkat kebasahan kotoran ayam pada masa bertelur beberapa lalat. Penyakit Hewan.  (1993).Vol. 25(45) p. 40-43.

 

Abstrak

Sukarsih . 1993  . Pengaruh tingkat  kebasahan  kotoran syam pada mesa bertelur beberapa lalat. Penyakit Hewan 25(45): 40-43 Empat spesies lalat (Musca domestics, Muscina stabulsns, Fannia femoralis, dan Ophyra aenescens) dipakai untuk menguji pemilihan peletakan telur pads kotoran ayam dengan bermacam-macam tingkat kebasahan. Enam tingkat kebasahan yang dipakai pada percobaan ini adalah: 40, 50, 60, 70, 80, dan 90%. Keempat spesies lalat tersebut lebih memilih tingkat  kebasahan  70% dibandingkan  dengan  tingkat  kebasahan  yang  lainnya,  meskipun  tingkat pemilihannya berbeda untuk sedap spesies . O. aenescens paling tinggi tingkat pernilihannya pada kebasahan 70% (86,6% dari jumlah telur yang ads pad, semua tingkat kebasahan), dan F. femoralis paling rendah (51,5%).

Kata kunci: M. domestic,, M. stabulanns, F. femoralis, O. aenescens, mass bertelur

27           mfn=000338

Sendow, Indrawati; Soleha, E.; Sukarsih(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia))Daniels, Peter W. (Indonesia International Animal Scinece Research and Development Foundation, Bogor (Indonesia)). Metoda isolasi virus bluetongue. PENYAKIT HEWAN.(1993).Vol. 25(46) p. 87-93.

 

Abstrak

Sendow I ., E. Soleha, Sukarsih, dan P.W. Daniels. 1993. Metoda isolasi virus bluetongue . PenyakitHewan25(46) : 87-93 . Beberapa metode isolasi virus bluetongue (BT) telah dilaksanakan . Sampel lapangan yang berupa darah berheparin dan serangga setelah diproses diinokulasikan pada biakan sel BHK-21, Aedes albopictus (C6t36) atau telur bertunas . Lain daripada itu kombinasi ke- tiga metode tersebul,jugs dilakukan . Dengan kesemua melmle Indi isolat virus dupat dipcrolch, lelapi jumluhnyu ukan lebih banyak bila sampel ini lerlcbih dahulu diinokulasikan kodalatn tolur bertunam .

 

Kata kunci: Bluetongue (BT), sapi, isolasi, JawaBarat, Irian Jaya, Timor Barat, Bali, Kalimantan

Selatan

28           mfn=000342

Sukarsih(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Pemakaian belerang-kamper untuk pemberantasan Tropilaelaps clareae pada lebah madu (Apis mellifera) yang disesuaikan dengan siklus hidup lebah. PENYAKIT HEWAN.  (1993).Vol. 25(46) p. 107-110.

 

Abstrak

Sukarsih . 1993 . Pemakaian belerang-kamper untuk pemberantasan Tropilaelaps clareae pada lebah madu (Apis mellifera) yang disesuaikan dengan siklus hidup lebah. Penyakt Hewan 25(46) :107-110 . Sebanyak 15 koloni A. mellifera dipakai untuk penelitian dua macam cars pemakaian campuran belerang-kamper untuk pemberantasan T. clareae pads A . mellifera Koloni-koloni ini dibagi menjadi tiga kelompok : A. Mendapat perlakuan setiap hari selama 10 had pertama kemudian setiap 10 had

 

 

                sekali untuk 6 kali perlakuan ; B. Mendapat perlakuan setiap 10 had sekali untuk 7 kali perlakuan dan

  1. Tidak mendapat perlakuan  (kontrol). Demjat infestasi  T. clareae  pada masing-masing  koloni ditentukan dengan mengambil sebanyak 500 larva/pupa dari tiga sisir yang masih berada dalam sel yang tertutup dan dihitung ads atau tidaknya T. clareae pads setiap larvatpupa tersebut . Setelah 16 hari perlakuan derajat infestasi T. clareae pada kelompok A adalah 0,08 %, hasil ini lebih rendah dan berbeda sangat nyata dengan kelompok B dan C (P<0,01) dimana derajat infestasi pads kelompok tersebut masing- masing 11,36 % dan 24,48 %. Setelah 70 hari perlakuan tidak ditemukan T. clareae pada kelompok A dan B.

 

Kate kunci: A. mellifera, T. clareae, belerang-kamper

29           mfn=000379

Sukarsih; Sendow, Indrawati; Soleha, E.(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia))Daniels, Peter W.(Indonesia International Animal Science Research and Development Foundation, Bogor(Indonesia)). Longitudinal studies of Culicoides associated with livestock in Indonesia. Proceedings Sixth Symposium. Arbovirus Research in Australia.Brisbane, Australia. December 7 -

11, 1993. p.203-209. (1993).

Abstrak

Culicoides  spp,  or the biting midges, belong to  the  family  Ceratopogonidae,  and  include many important  medical  and  veterinary  pests  biting  man  and  animals.  Some  species  are  vectors  of pathogens, especially of viruses of domestic livestock including bluetongue (BLU), African borse sickness (AHS), bovine ephemeral fever (BEF) and Akabane (AKA) viruses (Kettle 1984).

30           mfn=000827

Sendow, Indrawati; Sukarsih; Soleha, E.(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia))Erasmus, B.J.(Veterinary Research Institute, Onderesteport, South Africa)Daniels, Peter W.(Indonesia International Animal Sceince Research and Development Foundation, Bogor Indonesia). Isolation of bluetongue virus serotype 21 from Culicoides spp. in Indonesia. Veterinary Microbiology.(1993).  V

.36 p.349-353.

 

 

Abstrak

Bluetongue (BLU) virus is an arbovirus infecting ruminants and causing disease in sheep (Erasmus,

1975 ). In Indonesia, clinical bluetongue disease has been reported in imported but not in local sheep (Sudana and Malole, 1982). Antibodies to BLU and related orbiviruses have been reported (Sendow et al., 1986; Sendow et al., 1991a), BLU viral serotypes 7 and 9 have been isolated from sentinel cattle in West Java (Sendow et al., 1991b), but there is no information on BLU vectors in Indonesia. This paper reports the isolation of a BLU virus from Culicoides spp.

31           mfn=000966

Sukarsih(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Parasit pada lebah madu (Apis mellifera dan Apis cerana) di Kabupaten Jayapura dan Jayawijaya, Irian Jaya. MAJALAH PARASITOLOGI INDONESIA. (1993). Vol.6(2) p.115-119.

 

Abstrak

Produksi madu dari peternakan lebah di Irian Jaya, khususnya di Kabupaten Jayawijaya menurun dengan drastis disebabkan oleh adanya infestasi tungau Tropilaelaps clareae dan Varroa jacobsoni dan  adanya  protozoa,  Nosema  apis.  Infestasi  T.  clereae  hanya  ada  pada  koloni  Apis  mellifera,

 

 

                sedangkan Karoo jaeobsoni pada koloniApis cerana. Derajat infestasi T. clereae pada 14 koloni A.

mellifera yang diamati bervariasi antara 0% - 59%, sedangkan derajat infestasi V jacobsoni antara

0,95% - 1,2%. Nosema apis ditemukan pada 2 koloni A mellifera. Pemakaian campuran belerang dan kamper untuk memberantas tungau belum digunakan oleh petemak lebah dengan perbandingan yang tepat (2 gram belerang dan 1 gram kamper) serta dengan jadwal yang tertentu, sehingga campuran tersebut tidak bekerja dengan hasil yang memuaskan.

32           mfn=001581

Sendow, Indrawati; Soleha, E.; Daniels, Peter W. Sukarsih (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Bluetongue virus in Indonesia. Proceedings Sixth Symposium. Arbovirus Research in Australia. Brisbane, Australia. December 7 - 11, 1993. p.194-197. Arbovirus Research in Australia. Australia. Queensland Institute of Medical Research. (1993).

 

Abstrak

Bluetongue  (BLU)  viruses  have  a  wide  distribution  around  the  world.  Some  countries  may  be unaware of their bluetongue situation, while some have limited serological data suggesting the infection of their livestock by BLU viruses. In tropical countries of central and southern America and the Caribbean region, BLU antibodies and BLU viral isolates have only recently been detected,while clinical disease has not been reported (Gibbs et al 1989). This situation appears similar to that in indonesia.

33           mfn=001590

Sendow, Indrawati; Daniels, Peter W.; Soleha, E.; Erasmus, B. Sukarsih Ronohardjo, Purnomo (Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor)    Isolation of bluetongue virus serotype new to Indonesia from sentinel cattle in West Java.  Veterinary Record.  (1993).  Vol.133 (7) p.166-167.

 

Abstrak

The bluestongue viruses are arboviruses of ruminants that cause economically important disease in sheep.  Certain  Culicoides  species  are  the  vectors  (Erasmus  1975).  Recent  epidemiological observations have shown that bluetongue infections are endemic in tropical areas of the world but without associated disease in the local sheep population (Gibbs and others 1989, Sendow and others

1986, 1991a).

34           mfn=000295

Adiwinata, Gatot; Sukarsih(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Gambaran darah domba yang terinfeksi cacing nematoda saluran pencernaan secara alami di Kabupaten Bogor (Kec. Cijeruk, Jasinga dan Rumpin). Penyakit Hewan.(1992).Vol. 24(43) p. 13-17.

 

Abstrak

Sebanyak 33 ekor domba muda (umur 3-11 bulan) yang terinfeksi cacing nematoda saluran pencernaan di daerah Kec. Cijeurk, Jasinga dan Rumpin, telah diperiksa kadar Hb, PCT dan jumlah eritrositnya. Domba muda yang memiliki jumlah tpg. feses lebih dari 6.000 butir cacing nematoda saluran pencernaan, memperlihatkan kadar Hb, PCV dan jumlah eritrosit di bawah  normal.  Perbandingan  jumlah  domba  muda  yang  memiliki  kadar  Hb.,  PCV  dan jumlah eritrosit di bawah normal antara domba tpg. 6.000 butir atau kurang dengan lebih dari

6.000 butir memperlihatkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01). Dari 30 ekor domba

 

 

                dewasa (12-30 bulan) tidak ada yang memperlihatkan kadar Hb., PCV dan jumlah eritrosit di

bawah normal walaupun tpg-nya mencapai 19.960 butir. Perbandingan jumlah domba yang memiliki kadar Hb.,PCV dan jumlah eritrosit di bawah normal antara domba muda dengan domba dewasa berbeda sangat nyata (P<0,01). Infeksi campuran cacing nematoda saluran pencernaan pada domba didominasi oleh Haemonchus dan Strongyloides.

 

 

Kata-kata kunci: Nematoda,anemia.

35           mfn=001233

Daniels, Peter W.(Indonesian International Animal Science Research and Develo pment Foundation Bogor)Soleha, E.; Sendow, Indrawati; Sukarsih(Balitvet). Bovine ephemeral fever in Indonesia. Proceedings of the 1st International Symposium held in Beijing, PRC, Beijing. 25 -27 August 1992. p.41-44. ACIAR PROCEEDINGS NO.44.

 

Abstrak

Ephemeral fever is considered an important disease of cattle in Indonesia.  Serological surveys have shown that large ruminants throughout the country are infected. Monitoring of groups of sentinel cattle at intervals of 1000 or 2000 km across the country is starting to yield information on the seasonal pattern of infections, and also to allow opportunities for isolation of viruses.

36           mfn=001234

Soleha, E.; Sendow, Indrawati; Sukarsih(Balitvet)Daniels, Peter W.(Indonesian International Animal Science Research and Development Foundation Bogor). A study of bovine ephemeral fever group rhabdoviral infections in West Java, Indonesia. Proceedings of the 1st International Symposium held in Beijing, PRC,  Beijing. 25-27 August 1992. p.45-50. ACIAR PROCEEDINGS NO.44.

 

Abstrak

The bovine ephemeral fever group of viruses includes, among others, bovine ephemeral fever, Berrimah, Kimberley and Adelaide River viruses. Serological studies of these four viruses were conducted in West Java to obtain preliminary information on the prevalence of infection in cattle and buffalo. Groups of sentinel cattle were monitored  weekly to  establish the seasonal  incidence of infections. Viruses were isolated from sentinel cattle and from pools of Culicoides and mosquitoes. Serological evidence of infection with all four viruses has been found in cattle or buffalo. Some sheep and goat sera also contain antibodies to bovine ephemeral fever group viruses. Isolations of viruses included several that may be placed in the ephemeral fever group, subject to confirmation

.

37           mfn=001589

Sendow,   Indrawati;  Daniels,   P.W.;  Soleha,   E.   Sukarsih  (Balai  Penelitian  Veteriner,   Bogor (Indonesia))      Epidemiologic   studies   of   Bluetongue   viral   infections   in   Indo nesia   livestock. Proceedings  of  the  Second  International  Symposium  Bluetongue,  African  Horse  Sickness,  and Related Orbiviruses. Thailand. 1-5 February 1993. p.147-154. Bluetongue, African Horse Sickness, and Related Orbiviruses.  London Austria CRC Press.  (1992).

 

Abstrak

Clinical BLU disease has not yet been diagnosed in Indonesian ruminats, although sheep imported from Australia have suffered severe mortalities with clinical signs and pathology consistent with BLU. Seropidemiologic studies have show that BLU virus infection are widespread throughout the

 

 

                islands of Indonesia, affecting buffaloes, cattle, sheep, and goats. Livestock at higher altitudes have a

lower preavalence of infection than those in low altitude areas. Hence, the absence of clinical disease is in spite of the presence of large popilations of naive animals. Studies with sentinel groups of animals are showing that there is a seasonal pattern of infection with BLU group viruses, with a pattern of viral activity at the end of  the wet season emerging. Confirmed isolations of BLU viruses in  Indonesia are allowing more precise serioudemiologic studies  to  be conducted, in  which  the geographic distribution and species susceptibility of the isolated serotypes are being determined.

 

38           mfn=000285

Sukarsih(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Infestasi parasit tungau Tropilaelaps clareae dan Varroa jaconsoni pada lebah madu (Apis mellifera dan Apis cerana) setelah mendapat perlakuan campuran belerang-kamper. Penyakit Hewan.(1991).Vol. 23(42) p.19-21.

 

Abstrak

Sukarsih, 1992. Infestasi parasit tungau T}opilaelaps clareae dan Varroa jacobsoni pada lebah madu (Apis melli era dan Apis cerana) setelah mendapat perlakuan campuran belerang-kamper . Penyakit Hewan 23 (42) : 19-21. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui derajat infestasi dari Tropilaelaps clareae dan Varroa jacobsonipada 12 koloni Apis mellifera dan 8 Apis cerana yang telah mendapat perlakuan campuran belerang dan kamper dengan perbandingan 2 :1 . Infestasi dari T. clareae pads A. melli era koloni setelah 3 hari perlakuan kurang dari 10% (4,9-9,7%) dan pads koloni setelah satu bulan perlakuan adalah 15,7%-33,6%. V. jacobsoni ditemukan pads 2 koloni dari A. mellifera setelah satu bulan perlakuan dengan derajat infestasi 0,2% . Sedang derajat infestasi dari V. jacobsoni pada koloni A. cerana setelah 3 bulan perlakuan adalah 0,5%-1,7% . T. clareae tidak ditemukan pads semua koloni A. cerana yang diamati .

 

Kata kunci: Apis cerana, Apis mellifera, Tropilaelaps clareae, Varroa jacobsoni

39           mfn=000993

Sukarsih; Mangunwiryo, Hariyadi(Balai Penelitian Veteriner, Bogor(Indonesia)). Infestasi ektoparasit Tropilaelaps clareae dan Varroa jacobsoni pada peternakan lebah madu di Kabupaten Jayawijaya, Irian Jaya. Kumpulan Makalah Anggota PDHI Cabang Jawa Barat II, Bogor pada Kongres XI dan Konferensi Ilmiah V PDHI.Yogyakarta.11-13 Juli 1991.5 p. Bogor. PDHI Cabang Jawa Barat II.

1991.

 

 

Abstrak

40           mfn=001972

Sukarsih H,Mangunwiryo (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Infestasi Ektoparasit Tropilaelaps Clarea Dan Varroa Jacobsin Pada Peternakan Lebah Madu Di Kabupaten Jayawijaya,Irian Jaya. Konferensi Ilmiah Nasional V Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia 1991. Yogyakarta. 12-13 Juli 1991.

p.59. Yogyakarta. Perimpunan Dokter Hewan Indonesia  (1991).

 

 

Abstrak

41           mfn=000231

Sukarsih; Adiwinata, Gatot(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Kaskado pada ternak sapi

 

 

                peternakan Ongole di daerah Surade, Sukabumi, Jawa Barat. Penyakit Hewan.(1989). Vol. 21(38) p.

111-113.

 

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab dermatitis pada ternak sapi PO di daerah Surade, Sukabumi, Jawa Barat. Kerokan kulit diambil dari 9 ekor sapi yang menderita dermatitis di sekitar mata, leher, gelambir dan bahu. Dari kerokan kulit tersebut berhasil ditemukan cacing-cacing filaria sebanyak 16 ekor jantan dan 20 betina yang ada dalam keadaan utuh . Hasil identifikasi menunjukkan bahwa cacing-cacing tersebut adalah Stephanofilaria dedoesi.

42           mfn=000232

Sukarsih; Knox, Malcolm(Research Institute for Veterinary Science, bogor(Indonesia))Tozer, Robert (CSIRO, Division of Entomology, Long Pocket.  Collection and cose incidence of the old world screw-worm fly, Chrysomya bezziana, in three localities in Indonesia. Penyakit Hewan. (1989). Vol.

21(38) p. 114-115.

 

 

Abstrak

Penelitian lapangan mengenai lalat screw-worm sebagai penyebab utama myiasis, Chrysomya bezziana, dilakukan di tiga lokasi Timor Barat, Sumba Timur dan Jawa Barat. Lalat screw-worm dikumpulkan sebagai bagian dari studi umum tentang variasi genetik dari C. bezziana. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa  Sumba  Timur  dan Jawa Barat  merupakan daerah  yang  serasi bagi perkembangan C. bezziana . Hewan inang dari lalat ini adalah sapi Ongole, domba, kambing, kuda dan babi .

43           mfn=000948

Sukarsih; Partoutomo, Sutijono; Adiwinata, Gatot(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia))Partodihardjo, S.(Badan Tenaga Atom Nasional, Jakarta). Uji l apangan terhadap potensi vaksin koksidia (Koksivet) pada peternakan ayam rakyat di Cimanglid, Bogor.MAJALAH PARASITOLOGI INDONESIA.(1989). V .2(34) p.31-36.

 

Abstrak

An irradiated coccidia vaccine was given in the drinking water of 11 days old layers-type chicks at a dose of _±.100.000 oocystes/bird. The birds were reared on litter at a breeding farm in the village of Cimanglid, Bogor. The coccidia vaccine, Koksivet diluted in althydrogel solution was made by Pusat Veterinaria Farma Surabaya, and is still in an experimental stage. For the trial, 120 male chickens were used, which were divided into six groups with 20 birds in each group. The groups were treated as follows: (a) vaccinated and challenged 2 weeks after vaccination; (b) vacccinated and challenged 4 weeks after vaccination; (c) vaccinated without being challenged; (d) not vaccinated and challenged 2 weeks after observation; (e) not vaccinated and challenged 4 weeks after observation and; (f) not vaccinated and challenged and used as controls. The inoculum used for the challenge was 100.000 oocysts/bird from an Eimeria tenella Sukabumi isolate, passage 1 and 2. The parameters observed to asses the protection capacity of  the vaccine were the mortality rate, the weight gain, the number of oocysts per gram faeces and the immunoglobin response in the serum (conducted by BATAN, Pasar Jumat, Jakarta). A significant difference in the number of oocysts per gram faeces was observated between the vaccinated and unvaccinated groups at week 6 (P = 0,05). No significant differences were observed (P > 0,05) in the mortality and weight gains.

 

 

44           mfn=000199

Sendow,  Indrawati;  Sukarsih;  Ronohardjo,  Purnomo  (Research  Institute  for  Veterinary  Science, Bogor (Indonesia))Sigit, S.H. (Faculty of Veterinary Medicine IPB, Bogor (Indonesia)).  [Preliminary studies  on  arboviruses  in  goats  and  cattle  near  Bogor,  West  Java.].Penyakit  Hewan.  (1988). Vol.20(36) p.74-76.

 

Abstrak

A serological survey was conducted in dairy cattle and goats in an area near Bogor, West Java, for antibodies to bluetongue group viruses . Cattle showed over 50% prevalence of reactors while goats had 19% prevalence. Insect collections were also conducted in the study area using the live bait technique. Culicoides actoni, C. palpifer, C. orientalis, C. humeralis, and C. schultzei were present and biting cattle . The results confirmed a high prevalence of infection in cattle and provided more information about the Culicoides sp . that could possibly be involved in transmission .

 

45           mfn=000201

Sukarsih (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). [The effect of temperature on growth and development of Musca domestica, Fannia canicularis and Ophyra aenescens.]. Penyakit Hewan(1988). Vol.20(36) p.81-84.

 

Abstrak

Percobaan ini bertujuan  untuk mengetahui  pengaruh suhu terhadap  daya hidup  dan  waktu yang diperlukan untuk perkembangan lalat Musca domestics, Fannia canicularis dan Ophyra aenescens. Empat tingkat suhu yang dipakai pads percobaan ini adalah : 20, 25, 30 dan 35°C . Tingkat perkembangan maksimum yang dicapai olehM. domestica adalah pada suhu 35°C, sehingga pads tingkat suhu ini, waktu yang diperlukan untuk perkembangan lalat ini adalah yang terpendek dibandingkan dengan dua spesies lainnya. Tingkat perkembangan maksimum untuk F. canicularis adalah pada suhu 30°C dan tidak ads yang hidup pada suhu 35°C . Untuk O. aenescens, tingkat perkembangan maksimum dicapai pada suhu 35°C dan minimum pada suhu 25°C, sedangkan pads suhu 20°C tidak ads yang hidup.

 

 

46           mfn=000145

Sukarsih (Research Institute for Veterinary Science, Bogor (Indonesia)). [Growth and development of some filth flise in relation to moisture content of poultry manure.]. PENYAKIT HEWAN. (1986).  V

.18(32) p.134-140.

 

 

Abstrak

This experiment was conducted to investigate the influence of manure moisture on survival and development time of Musca domestica, Muscina stabulans, Ophyra aenescens, Fannia femoralis, Fannia canicularis, and Hermetia illucens. When eggs of the above species of flies were introduced into manure at moisture levels ranging from 20-90%, no flies emerged from manure with moisture level exceeding 70% and very few emerged at the 20 and 30% levels. With the exception of Ophyra aenescens, which showed the most rapid development at 70%, development time varied little among the moisture levels that supported development.

 

 

47           mfn=000038

Darmono;  Partoutomo,  Sutijono;  Sukarsih;  Adiwinata,  Gatot  (Balai  Penelitian  Penyakit  Hewan, Bogor (Indonesia)). [Simultaneous administration of disophenol and tiabendazole against gastrointestinal nematodes of sheep]. Pengaruh pengobatan dengan kombinasi disophenol dan thibendazole terhadap cacing nematoda saluran pencernaan pada domba.PENYAKIT HEWAN. (1982). Vol.14(24) p.31-33.

 

Abstrak

The use of disophenol and thibenzole at the sametime for thecontrol of gastrointestinal nematode infestations in sheep was studied in Sindang Barang in Bogor. Twelve sheep, naturally infected with gastrointestinal nematodes were devided into two groups of 6 animals each . One group was treated simultaneously with disophenol injection (7.5 mg/kg body weight) and with thibenzole drench (50 mg/kg body weight). This treatment was conducted at 12 weeks interval . The second groupwas left untreated. The faecal egg count of each animal was recorded every 4 weeks for 20 weeks after the first treatment.  The  result of  this study indicated  that disophenol  and  thibenzole given  together reduced the faecal egg counts to very low levels (mean 20 epg on week 20) while in the control group high egg counts persisted (mean 1316 epg on week 20).

48           mfn=001932

Darmono Partoutomo,S Sukarsih Soetejo,R   (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Parasit Darah Pada Ayam Kampung Di Tiga Kecamatan,Kabupaten Bogor. Proceedings Seminar Penelitian Peternakan   Bogor. 8-11 pebruari 1982.   p.518-521.Bogor. Pusat Penelitian Dan Pengembanganan Peternakan  (1982).

 

Abstrak

Penelitian parasit darah pada ayam kampung belum banyak dilakukan, sehingga perlu dirintis untuk mencegah timbulnya kendala-kendala peningkatan produksi daging dan telur dari ayam kampung yang saat ini masih merupakan salah satu sumber yang potensial. Disamping itu pemberantasan penyakit pada ayam kampung akan mengurangi infeksi pada ayam ras. Penelitian ini  dilakukan selama bulan Pebruari sampai dengan bulan Oktober 1981 di 3 kecamatan yaitu Cijeruk, Ciampea dan Sawangan. Pengambilan Spesimen dilakukan sebanyak 4 kali di setiap Kecamatan dari ayam yang berbeda. Setiap pengambilan dilakukan dengan membuat preparat ulas darah sebanyak 50 ekor ayam.  Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  rata-rata  infeksi  Leucocytozoon  sp.  di  Kecamatan Cijeruk, Ciampea dan Sawangan berturut-turut 22,5%, 20% dan 47%. Rata-rata infeksi Plasmodium sp. 3%, 4% dan 1,5%. Rata-rata infeksi Trypanosoma sp. 0,5%, 1% dan 2,5% sedangkan rata-rata infeksi Microfilaria berturut-turut 0,5%, 2% dan 1%. Parasit Trypanosoma sp. pada ayam kampung berukuran panjang 12,92 - 18,48 U (± 1,7 - ± 1,59) dan Microfilaria berukuran panjang 104,91 -

124,15 U ( ± 9,04 - ± 13,58). Dari hasil tersebut jelaslah bahwa infeksi Leucocytozoon sp. menduduki tempat yang utama (29,83% ± 14,92) baru disusul Plasmodium sp. (2,83 ± 1,26) kemudian Trypanosoma sp. (1,33 ± 1,04) dan Microfilaria (1,17 ± 0,76).

49           mfn=001052

Partoutomo, Sutijono; Beriajaya; Soetedjo, R.; Sukarsih(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Adanya cacing muda/larva Stephanofilaria pada lalat siphona exigus, musca conduces, sarcophaga species, serta kemungkinannya lalat-lalat tersebut sebagai vektor stephanofilariasis di Sulawesi Utara.BULLETIN L.P.P.H. (1981). V .13(21) p.5-14.

Abstrak

 

 

                Stephanofilariasis  is  a  verminous  dermatitis  in  cattle,  buffaloes  and  goats  caused  by  a  filarial

nematode of the genus Stephanofilaria. Flies are known to be the vectors of this disease. It has been reported that a single species of Stephanofilaria can be transmitted by more than one species of fly, e.g. S. zaheeri in buffaloes in India/Bangladesh by M. planiceps and M autumnalis and S. kaeli in cattle and goats in Malaysia by several species of flies of which M. conducens is the most important transmitter.

50           mfn=001061

Beriajaya; Partoutomo, Sutijono; Soetedjo, R.; Sukarsih(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia).Percobaan lapangan obat wormolas terhadap infeksi cacing nematoda gastro intestinal pada domba.BULLETIN L.P.P.H.(1981).V .13(22) p.9-15.

 

Abstrak

Anthelmintics used to control gastro-intestinal helminths in sheep are not widely used by farmers due to the high cost of these drugs, inexperience in their

administration etc. One of the most well-known anthelmintics in use is Phenothiazine. Wormolas is a combination of 2,5% Phenothiazine and molasses. This drug, in block form, was attached to the side of the sheep pens in such a way that the animals had ready access to lick it. After a few licks of this block which provides an effective dose of its special formulation, an unpleasant under-taste comes through and the animal stops licking. However, after approximately 12  – 24 hours, the animals appetite is once again stimulated by the odour of the molasses component and the beast returns to lick the block again and receive its next daily dose.

51           mfn=001066

Sukarsih(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia).Raillietina cacatuina (Johnston, 1911) pada burung kakatua.BULLETIN L.P.P.H. (1981).V .13(22) p.53-59.

 

Abstrak

52           mfn=001942

Partoutomo,S Beriajaya Soetedjo,R Sukarsih (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Adanya Cacing Muda/Larva Stephanofilaria Pada Lalat Siphona Exigua,Musca Conducens Sarcophaga Species, Serta Kemungkinannya Lalat Tersebut Sebagai Vektor Stephanifilariasis Di Selawesi Utara. Proceedings Seminar Penelitian Peternakan   Bogor. 23-26 Maret 1981. p.215-219. Bogor.   Pusat Penelitian Dan Pengembangan Peternakan. (1981).

 

Abstrak

Dalam rangka mempelajari daur hidup Stephanofilaria dedoesi, sejumlah lalat ditangkap dari borok- borok pada sapi didaerah Sulawesi Utara. Setelah diadakan deteminasi, diproleh empat jenis lalat yaitu Siphona exgua, Musca conducens, sarcophagi sp. dan stomoxys calcitrans di mana dari ke tiga spesies yang pertama telah dapat ditemukan larva/cacing Stephanofilaria. Dengan demikian ketiga lalat tadi diduga keras menjadi vector parasin ini untuk daerah Sulawesi Utara

53           mfn=001038

Darmono; Soetedjo, R.; Partoutomo, Sutijono; Sukarsih(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Siklus hidup cacing Mecistocirrus digitatus pada sapi dan kerbau. BULLETIN L.P.P.H. (1980). V

.12(20) p.13-20.

 

 

               

Abstrak

Mecistorrus digitatus (von Linstow,1906) dalam abomasum sapid an kerbau adalah cacing Nematoda yang bila dilihat dengan mata telanjang sulit dibedakan dari Haemonchus placei dan H, contrus. Nama lain dari M. digitatus menurut penemu 1908, S. gibsoni Stephens 1909, Nematodirus digitatus Railliet dan Henry 1909, N. fordi Leiper 1911, N,gibsoni Raillier 1912, Nematodirus (Mecistoeirrus) digitatus Railliet dan Henry 1911,N. (Mecistocirrus) fordi Railliet dan Henry 1912, Meci stocirrus digitatus Neveu-Lemaire 1914, M. tangumai Morishita 1922 (Neveu-Lemaire,1936) dan menurut Yamaguti(1961)M. digitatus juga synonym dengan M, digitatus javanica Salm 1918,M. sheateri(smit,1922) Skrjabin et Orloff 1934.

54           mfn=001039

Darmono; Soetedjo, R.; Partoutomo, Sutijono; Sukarsih(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Morfologi cacing Mecistocirrus digitatus pada sapi. BULLETIN L.P.P.H. (1980). V .12(20) p.21-28.

 

Abstrak

Mecistocirrus digitatus (von Linstow,1906) Neveu-Lemaire pada lambung asam sapi Ongole (Bos indicus) telah dilaporkan pertama kali oleh von Linstwo (1906)Ceylon sebagai Strongylus digitatus. Cacing ini termasuk dalam family trichostrongylidae dan dalam genus mecistocirrus. Selanjutnya terbukti bahwa parasit ini banyak ditemukan di dalam perut asam sapid an kerbau, disamping itu telah dilaporkan pula adanya parasit ini pada domba, kambing,babi dan juga pada manusia(Soulsby,1971).