JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Kumpulan Artikel Drh.Manurung Tahun 1991-2010

KUMPULAN ARTIKEL

Drh.Manurung

Tahun 1991-2010

 

1              mfn=001524

Murtiyeni; Juarini, E.(Balai Penelitian Ternak, Bogor)Manurung, J(Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Transfer inovasi teknologi pencegahan penyakit skabies dan cacing pada peternakan kambing di lahan marjinal, Lombok Timur. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor. 13 - 14 September 2009. p. 515-522. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. (2010).

 

Abstrak

A study of technology tranfer was conducted to prevnt parasitic diseases in goats in east lombokdistrict west nusa tenggara A group of 20 famers was involved in this study, innovations introduced were including skill in providing simple medicines for preveting worms and scabies infection the result showed that only 10% of 20 farmers have fairly good education with and average income at Rp 4,5 milion/year owing 8,2 goats per family farmers resported that 69,39% goats were infected by scabies during dry season and 6,12% showing diarrhea during wet seasons,more goats were suffering parasitic diarrhea(47,9%)and 26,0% goats were infected by scabies most farmers (56%) were still depended on animal health officers provided by the government to treat their animals against scabies and worms infections laboratory result showed that 36,7% goats were infected by scabies indicated by 90 eggs/g in adult goats and 70 eggs/g in toung goats.

 

Key words:scabies worm,goats farming in the marginal land transfer

 

2              mfn=001170

Wardhana, April H.; Manurung, J.; Iskandar, Tolibin(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Skabies: tantangan penyakit zoonosis masa kini dan masa datang. Wartazoa. (2006). V .16(1) p.40-52.

 

Abstrak

Skabies adalah penyakit kulit menular yang bersifat zoonosis dan disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei . Penyakit ini tersebar luas di seluruh dunia terutama pada daerah-daerah yang erat sekali kaitannya dengan lahan kritis, kemiskinan, rendahnya sanitasi dan status gizi, baik pada hewan maupun manusia . Penularan skabies terjadi melalui kontak langsung . Akibat infestasi tungau pada kulit menyebabkan rasa gatal yang hebat sampai timbulnya eritrema, papula dan vesikula hingga terjadi kerusakan kulit, bahkan pada kasus yang parah dapat menyebabkan kematian hewan (50 - 100%) . Sebanyak 300 juta orang per tahun di dunia dilaporkan terserang skabies . Diagnosis skabies dilakukan dengan melihat gejala klinis yang dikonfirmasi dengan ditemukannya telur, feses, dan tungau pada kerokan kulit penderita . Selain itu, dapat juga dideteksi keberadaan terowongan di bawah kulit dengan uji tinta, minyak mineral atau uji flourescence tetracycline. Metode ELISA untuk deteksi skabies pada manusia masih mempunyai kelemahan karena adanya reaksi silang antara kulit induk semang dan antigen varian S. scabiei . Pengembangan vaksin skabies juga masih mengalami kendala . Adanya beberapa kasus skabies pada manusia yang diduga tertular oleh ternak atau hewan kesayangan menuntut kerjasama yang sinergis antara Dinas Kesehatan dan Dinas Peternakan yang melibatkan dokter hewan, dokter manusia, para penyuluh dan petugas karantina termasuk para peneliti . Faktor-faktor di atas menjadi tantangan masa kini dan yang akan datang untuk mencegah penyebaran skabies semakin meluas dan meminimalkan kasus-kasus skabies baik pada ternak maupun manusia terutama di daerah endemik .

 

Kata kunci : Skabies, Sarcoptes scabiei, manusia, hewan, zoonosis

 

3              mfn=001258

Haryuningtyas, Dyah; Ahmad, Riza Zainuddin; Beriajaya; Manurung, J.(Balai penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Uji daya hidup tungau Sarcoptes scabiei pada berbagai macam serum. Prosiding Seminar Nasional Teknologi peternakan dan Veteriner. Bogor. 5-6 September 2006. p.1026-1031. (2006).

 

Abstrak

Scabies merupakan infestasi parasit pada kulit yang disebabkan oleh tungau sarcoptes scabiei .penyakit ini menyerang berbagai ternak termasuk kambing ,domba ,sapi,babi,kerbau,anjing /kucing ,kelinci dan hewan liar .tungau ini mengifestasi kulit dan membuat terowongan di bawah lapisan kulit sehingga menyebaka gatal-gatal ,kerontokan rambut dan kerusakan kulit .penyakit ini dapat menimbulkan kergian ekonomi yang sangat besar pada produksi ternak,antara lain penurunan berat badan ,produksi susu dan kematian .berbagai macam obat tradisional akan dan telah dikembangkan untuk memberantas penyakit ini.unutk penelitian obat tradisional diperlukan medium hidup bagi tungau ini secara in vitro.penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nya daya hidup Sscbiei pada berbagai macam serum pada suhu kamar.pada penelitian ini tungau secara alami.koleksi tungau dilakukan dengan cara pengerokan ketopeng pada kambing yang terinfestasi. Masing masing sebanyak 20 ekor tangau dimasukan pada masing masing gelas inkubasi yang telah berisi serum kambing, domba ,sapi dan kelinci .hasil penelitian menunjukan bahwa pada temperatur kamar(27-30%) tungau sarcoptes scabici mempunyai nilai LT yang lebih tinggi secara signifikan pada serum kambing dibandingkan dengan 3 serum yang lain yaitu kurang lebih selama 4 hari.

 

Kata kunci:sarcoptes scabici,kambing ,serum ,daya hidup

 

4              mfn=001106

Wardhana, April H.; Husein, Amir; Manurung, J.(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Efektifitas ekstrak biji srikaya (Annona squamosa L) dengan pelarut air, metanol dan heksan terhadap mortalitas larva caplak Boophilus microplus secara in vitro. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. (2005). V .10(2) p.134-142.

 

Abstrak

Boophilus microplus is the most important pest in livestock industries. The use of synthetic chemical acaricides is the main method of tick control, however, chemical acaricides are expensive, and they are harmful to environment and cause strain resistance. The aim of study was to investigate the affectivity of Annona squamosa L seeds extracted by diverse organic solvents such as water, methanol and hexane against mortality of Boophilus microplus larvae in vitro. Five hundred and fifty larvae were used in this study and divided into three groups e.g. water (3, 4 and 5% concentration), methanol and hexane extract groups (0.25, 0.50, and 0.75% concentration). Coumaphos (0.50%) was used as a positive control. The larvae were dipped into extract solution for 10 seconds and dried using filter paper. Their mortality was observed from one to five hours. The mortality data were transformed to Abbot formula and analyzed using probit analysis with 95% significant level. This study showed that the active compound of Annona squamosa L seeds had effectively contact toxic property for B. microplus larvae at 5, 0.50, and 0.75% for water, methanol and hexane extractions, respectively. The lethal concentrations of methanol extract (LC50, LC90, and LC95) were lower than hexane extract e.g. 0.32, 0.86, and 1.13%, respectively and for hexane extract were 0.35, 1.11, and 1.54%, respectively at fifth hour. The lethal times of methanol extract on 0.50% concentration were shorter than hexane extract e.g. 3.12 hours (LT50), 5.86 hours (LT90), and 7.00 hours (LT95) and for hexane extract on 0.75% concentration were 3.26 hours (LT50), 6.21 hours (LT90), and 7.45 hours (LT95). Water extract of 5% concentration was effective for traditional farmer in rural area due to easy and cheap method. The lethal concentrations of water extract on fifth hour were 2.02% (LC50), 4.00% (LC90), and 4.85% (LC95) and the lethal time on 5% concentration were 2.54 hours (LT50), 4.13 hours (LT90), and 4.75 hours (LT95).

 

Key Words: Annona squamosa, Boophilus microplus, Water Extract, Methanol, Hexane

 

5              mfn=001183

Beriajaya; Manurung, J.; Haryuningtyas, Dyah(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Efikasi cairan serbuk kulit buah nanas untuk pengendalian cacing Haemonchus contortus pada domba. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 12 - 13 September 2005. p.934-940. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. (2005).

 

Abstrak

Gastro-intestinal nematodes found in sheep and goats are causing of economic loss due to retardation of growth rate and causing of death. Regular control with anthelmintic treatment is leading to development of resistance and residue in the tissue. Pineapple (Ananas comosus) is one of herbal medicine probably to be used as anthelmintic. The purpose of these studies is to determine the efficacy the extract of pineapple skin against sheep experimentally infected only with Haemonchus contortus. A number of 25 male sheep aged 5-6  months was divided into 5 groups of 5 head. Groups 1, 2 and 3 were dren hed with filtered fruit skin of pineapple 250 mg/kg, 750 mg/kg and 1250 mg/kg body weight respectively on days 1, 3, 7, 10 and 14; meanwhile groups 4 and 5 as a group of untreated and treated with ivermectin at a dose rate of 200 mcg/kg respectively. Parameters measured were egg and larvae counts; and egg hatch. Faeces were collected individually on day 1, 3, 7, 10 and 14. The results indicated that even water extract of skin of pineapple 250 mg/kg did not eliminate eggs, however the egg and larvae counts did not increase and hatchability of egg was 1.3% inhibited as compared to the control group.

 

Key Words: Haemonchus contortus, Sheep, Fruit Skin of Pineaaple, Ananas comosus

 

6              mfn=001184

Elieser, Simon; Junjungan(Loka Penelitian Kambing Potong, Sei Putih Sumatera Utara)Manurung, J.(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia)Suibu, Toni(CV Raja Benua Mas). Efektivitas pemberian monolaurin dan obat alternatif lainnya dalam memberantas penyakit scabies pada kambing. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 12 - 13 September 2005. p.941-949.

 

Abstrak

Research aim to know effectiveness gift of monolaurin and drug of alternative other in detaining against disease of scabies at goat have been executed at Station Attempt Lolit Kambing Potong Sungei Putih. Activity of research use 25 disease infection goat which have scabies divided to become 5 group treat by 5 restating tail. Group of T0 as control without gift of drug, Group of T1 given by monolaurin (Mo) 0.5 g/tail /day in concentrate, Group of T2 given by drug coming from Sulphur (Klt) dissolved in water with comparison 1 g : 25 ml irrigate and sweeped at all body, Group of T3 given by drug coming from tobacco leaf extract (Edt) thinned with water 1 : 10 sweeped at all body and Group of T4 given by drug coming from plant leaf extract (Etb) thinned with water 1 : 10 sweeped at entire/all body. Result of research of obtain that attacked by area is natural scabies of highest degradation at treatment of T4 ( early = 1219 mm become 828 mm) later;then treatment of T3 (early = 1282 mm become 897 mm); treatment of T1 (early = 980 mm become 830 mm) while treatment of T0 and treatment of natural T2 improvement (early = 784 mm become 2240 mm) and (early = 1045 mm become 4135 mm). Obstetrical of Eosinofil at blood show difference of reality at each treating. Content of Eosinofil in highest blood compared to before gift of drug (early research) met at treatment of T1 mount (280,55μl); treatment of T3 mount (180,55μl treatment of T2 mount (161,15μl); treatment of T0 mount (27,77μl) and treatment of T4 mount (24,92μl) obstetrical and so do Neutrofil in blood at treatment of T3 mount (8%); treatment of T1 mount (7,75%); treatment of T4 mount (5,25%); treatment of T2 mount (4,25%); and treatment of downhill T0 (- 0,5%). Content of Lympocyt in blood at treatment of T1 mount (3%); treatment of T3 mount (2,25%); treatment of T4 mount (1,5%); treatment of T0 and treatment of natural T2 degradation equal to (- 1,25%) and (- 6,75%). Content of Monocyt in blood at treatment of treatment of T3 mount (1,25%); treatment of T4 mount (0,75 %); treatment of T1 mount (0,5%); treatment of T0 mount (0,25%); while treating natural T2 of degradation equal to (- 0,25%). Result of research conclusion whereas that gift of tobacco leaf extract and flant leaf extract give expectation to fight against disease of scabies at goat.

 

Key Words: Goat, Monolaurin, Scabies, Efectivity

 

7              mfn=001195

Suhardono; Manurung, J. (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia) Batubara, Aron (Loka Penelitian Pengembangan Kambing, Sei Putih, Sumatera Utara)Wasito(Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara)Harahap, Hasnan(Dinas Peternakan dan Kehewanan, Deli Serdang, Sumatera Utara). Pengendalian penyakit kudis pada kambing di Kabupaten Deli Serdang. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor 12 - 13 September. 2005. p.1001-1013. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian. (2005).

 

Abstrak

Masalah kudis pada kambing umumnya terlihat pada musim kemarau dan yang digembalakan. Penyakit ini mengakibatkan rendahnya harga jual ternak penderita, kematian.dan dapat menular ke manusia. Hasil penelitian di Balai Penelitian Veteriner (BALITVET) Bogor, oli bekas dan belerang dapat mengobati kudis. Bahan-bahan ini lebih murah, mudah didapat dan pengobatannya dapat dilakukan sendiri oleh para peternak dibandingkan dengan obat scabies paten. Karena itu obat murah ini perlu didiseminasikan ke peternak untuk melihat potensinya di lapang dan sekaligus melihat daya serap peternak terhadap teknologi yang diperkenalkan. Kegiatan ini dilakukan bekerjasama dengan Dinas Peternakan dan Kehewanan Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Ada tiga kelompok peternak yang dilibatkan dalam kegiatan ini, yaitu Kelompok I diberikan 3 kali penyuluhan (pengenalan dan pengendalian) penyakit kudis, praktek pembuatan obat murah dan pengobatan kudis. Perwakilan kelompok berkunjung ke intansi pemerintah yang memiliki fasilitas untuk pengembangan kambing. Kelompok II, diberikan penyuluhan penyakit kudis 3 kali, memperkenalkan dan memberi obat anti kudis. Kelompok III, diberikan sekali penyuluhan tanpa diberi obat kudis. Daya serap alih teknologi ini diketahui dari hasil uji praktek pengobatan kudis, berkurangnya kasus kudis pada kambing di kelompok peternak hingga pertengahan Desember 2004 dan tanggapan Dinas Peternakan setempat terhadap kegiatan ini. Tingkat kejadian skabies di 3 kelompok sebelum kegiatan alih teknologi bervariasi antara 12,5–20%. Potensi oli dan belerang secara klinis cukup efektif mengontrol kudis seperti obat paten (ivermectine dan coumaphos), namun salep belerang kurang disukai karena menimbulkan ketombe. Serapan teknologi oleh peternak ternyata lebih baik pada kelompok I dan II (kasus kudis menjadi 0%) dibandingkan dengan kelompok III (kasus kudis tidak berkurang). Dinas Peternakan setempat akan meneruskan kegiatan ini di seluruh tempat di kabupaten Deli Serdang dengan cara akan mengusahakan biaya 40% dan sisanya swadaya masyarakat.

 

Kata Kunci: Skabies, Kambing, Alih Teknologi, Oli Bekas, Salep Belerang

 

8              mfn=001310

Manurung, J.; Beriajaya(Balai Besar Penelitian Veteriner). Uji in vitro ekstrak daun dan kulit buah nanas (Ananas comosus) terhadap daya tetas telur dan mortalitas cacing Haemonchus contortus. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 4 - 5 Agustus 2004. p.724-731. (2004).

 

Abstrak

The purpose of this study is to determine the efficacy of extract of pineapple leaves and fruit skin on hatching rate of nematode eggs and mortality rate of adult worm of H. contortus in vitro. Pineapple leaves and fruit skin (Bogor and Subang) were processed to be fresh solution (80-100%), solution from powder (5-

20%) and methanol extract (0.125.%-1.5%). Adult worms were collected from abomasums of sheep and goats slaughtered at abattoir in Tanah Abang Jakarta. Each Petri-dish containing 15 ml extract solution was put 10 adult worms for 12 hours. Mortality rate in each Petri-dish were monitored every 2 hours for 12 hours. Faecal samples from donor sheep infected with H. contortus were collected to get nematode eggs. About 20-40 eggs were put into each well containing 50 μl methanol extract of leaves or fruit skin concentration of 0.125%-

0.5% and 0.9 μl fungizon. Hatching rate (%) in each well was monitored after 24 and 48 hours. The results showed that adult worms were death (P<0.05) in 12 hours on fresh solution of old fruit skin Subang 80% and old fruit skin Bogor 90%. Powder solution fruit skin (Bogor and Subang) 15% killed adult worms 84-94%. Methanol extract of fruit skin 15% killed adult worms (P<0.05) in 12 hours. Methanol extract of old fruit skin Bogor and Subang concentration 0.5%, young fruit skin Subang 0.5% and extract of old leaves Subang 0.5% prevent eggs to hatch. Solution of fresh fruit skin 80-90% and methanol extract of old and young fruit skin (Bogor and Subang) 0.5% are needed to be tested in vivo.

 

Key words: In vitro assay, pineapple, Ananas comosus, Haemonchus contortus, sheep, goats

9              mfn=000668

Natalia, lily; Priadi, Adin; Manurung, J.(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Clostridial necrotic enteritis: peran vaksinasi koksidiosis terhadap kejadian penyakit pada ayam pedaging. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. (2003). Vol.8(1) p.55-63.

 

Abstrak

NATALIA, L., A. PRIADI. 2003. Clostridial necrotic enteritis: Peranan vaksinasi koksidiosis terhadap kejadian penyakit pada ayam pedaging. JITV 8(1): 55-63. Pengamatan terhadap kejadian enteritis nekrotika pada ayam pedaging telah dilakukan di lapang (Jawa Barat). Isolat toksigenik Clostridium perfringens tipe C telah didapat dari kasus clostridial necrotic enteritis di lapang, yang sering terjadi jika ayam divaksinasi dengan vaksin hidup koksidia. Percobaan pada ayam pedaging telah dilakukan untuk menentukan faktor predisposisi clostridial necrotic enteritis yang berupa pemberian pakan kadar protein hewani yang tinggi, vaksinasi dengan vaksin hidup koksidia, dan pemberian pakan dengan C. perfringens type A dan C. Dari hasil pengamatan dapat diperlihatkan adanya lesi pada usus ayam yang divaksinasi dengan vaksin hidup koksidia. Kematian tertinggi dan kerusakan usus yang nyata terjadi pada kelompok ayam yang diberi vaksin hidup koksidia dan spora C. perfringens tipe A dan C (P<0.01). Lesi koksidia

akibat vaksinasi dan C. perfringens tipe A dan C ternyata merupakan suatu faktor predisposisi untuk terjadinya clostridial necrotic enteritis. Hasil ini menunjukkan bahwa adanya infeksi bersama antara koksidia dan C. perfringens mempunyai efek sinergis untuk terjadinya kematian dan kerusakan usus pada kasus enteritis nekrotika.

 

Kata kunci: Clostridial necrotic enteritis, ayam pedaging, coccidiosis

 

10           mfn=000843

Manurung, J.; Ahmad, Riza Zainuddin(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia)). Pengobatan caplak (Boophilus microplus) pada sapi peranakan ongole (PO) Ciracap Sukabumi dengan ekstrak biji srikaya (Annona squamosa). Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 29 - 30 September 2003. p.205-209. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. 2003.

 

Abstrak

Ticks (Boophilus Microplus) in PO cattle at Ciracap Sukabumi district need to be controlled as they suck the blood, damage the skin, cause failure and can be a vector for various diseases. In vitro, they have been successfully controlled by using 20% Sugar apple seed extract, so in January 2003 it was tried to control ticks (Boophilus Microplus) in PO cattle at Ciracap Sukabumi using 20 PO cattle (age 6 months-4 years), divided into four groups. Group one (5 cattle) were infected with larva in cattle ventral skin of neck, the fifth day post infection the cattle were treated by smearing them with 20% sugar apple seed extract, then 24 and 48 hours after the treatment, they were observed for the number of dead larva (%). Group two (4 cattle) were infected with ticks larva in cattle glambir, the fifth day post infection, they were treated by smearing them with distilled water (control group), then 24 and 48 hours after the treatment, they were observed for the number of dead larva. Group three (6 cattle) that were naturally infected by nymph were once treated by smearing with 20% sugar apple seed extract, then 24 hours after the treatment, they were observed for the number of dead larva (%). Group four (4 cattle) that were naturally infected by engorged adult female ticks, were treated by smearing them with 20% sugar apple seed extract. Four hour after the treatment the engorged ticks were observed for the number of ticks fallen due to the medication. The engorged ticks were taken from the cattle bodies and observed (for 11 days) for the number of dead ticks (%), the number of engorged ticks that failed to lay eggs (%) and the decline in egg production (%). The result shows that 20% sugar apple seed extract succeeded in killing up to 93% larva, and 53% nymph. The adult ticks 39% died, 51% adults have not eggs and total eggs product were only 9%. Due to the toxic effect in the form of eye irritation (misty eyes-then blind), it is necessary to conduct further research on the dosage and treatment method.

 

Key words: Treatment ticks, Boophilus microplus, cattle, Sukabumi, Annona squamosa

 

11           mfn=000847

Manurung, J.; Priadi, Adin(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Studi peranan kutu damalina ovis terhadap kegundulan bulu domba (studi kasus). Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 29 - 30 September 2003. p.223-226. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian. (2003).

 

Abstrak

The objective of this research was to determine what causes alopecia in 8 female sheep, 8 month old, on 8 August 24, 1995 at Balai Penelitian Veteriner pen. Method used in this research by observing clinic symptom and parasite checking on surface skin. The result showed that alopecia on sheep tends to be happened because lice infection Damalinia ovis, in addition with factor of concentrate given without giving adequate grass. 

 

Key words: Role, lice, Damalinia ovis, alopecia, sheep, pen, RIAP

 

12           mfn=000868

Manurung, J.; Beriajaya(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Efikasi ekstrak tanaman tembakau, srikaya dan mimba terhadap caplak Boophilus microplus secara in vitro. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Ciawi - Bogor. 30 Sep. - 1 Okt. 2002. p.346-350.

 

Abstrak

The purpose of this trial is to determine the efficacy of tobacco leaves (Nicotiana virginia), seed of sugar apple (Annona squamosa) and neem (Melia azadirachta); and a mixture ofthem against tick, Boophilus microplus, in vitro. Three hundred sixty nymph and three hundred sixty engorged ticks were divided into 12 groups with replication 3 times of 10 ticks respectively fold in filter paper and exposed for 15 minutes with tobacco leaves or seed of sugar apple or seed of neem; or a mixture of them. Asuntol or distilled water serves as control groups. The results showed that the mortality rate in tobacco leaves (20%, 30% and 40%) and seed ofneem (40%,50% and 60%) was higher in nymph (57%,46.7% and 42%) and (27%,47% and 37%) compared to engorged ticks (7%, 0 % and 20%) and (20.9%, 0% and 0%) respectively . In contrast with seed of sugar apple (40%, 50% and 60%), mortality rate was higher in engorged (91 .8%, 23% and 30%) than nymph ticks (43 .6%, 42% and 42%). Fecundity of engorged ticks was firstly affected by seed of sugar apple (84.5%; 78.5% and 84.5%), secondly by seed of neem (14.5%, 14.5% and 0%) and thirdly by tobacco leaves (0%, 17.5% and 19.5%). A mixture of 20% tobacco leave, 40% sugar apple and 40% neem, mortality rate of nymph (47%) was higher than engorged ticks (25%). Effect of a mixture on fecundity was 54.5% . Effect of coumaphos (asuntol) 0.4% on mortality rate of nymph (46.2%), mortallity rate of engorged ticks (9.5%) and fecundity was 43.5%. Further trial is needed to determine the dose rate of tobacco leave, sugar apple, neem and their mixture in vivo study if the concentration of solution is decreased to meet cheaper material .

 

Key words : Nicotiana virginia, Annona squamosa, Melia azadirachia, Boophilus microplus, tick

 

13           mfn=000869

Manurung, J.(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Studi Prevalensi infeksi caplak pada sapi di kecamatan cilacap dan kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi Jawa Barat dan cara-cara peternak menggulanginya. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Ciawi - Bogor. 30 Sep. - 1 Okt. 2002. p.351-356.

 

Abstrak

A case study on the prevalence of tick investation in cattle and its control was undertaken (24 - 26 June 2002) in two sub districts of Surade and Ciracap, three villages each. Forty five farmers each sub district (15 farmers per village) were chosen purposively. Prevalence of tick investation was based on direct examination into cattle belong to 45 farmers and its control was based on questionary and discussion with farmers. In the sub district of Ciracap 82 of 187 cattle (44%) in April - May (69%) and October – Maret (29%). In Surade was 32 of 107 cattle (30%) were invested by tick in April - May (82%). Control of ticks done by farmers in the sub district of Ciracap by killing them manually (93.3%), fed by village chicken (64.4%). In the sub district of Surade, daily examination of cattle to tick investation done by farmers and kill them (86.7%). The use of acaricides such as asuntol or ivermectine, was very rarely done by farmers except free of charge provided by staffs of local Livestock Services.

 

Key words: Prevalence, tick infection, cattle, tick control

 

14           mfn=000709

Manurung, J.(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Obat alternatif dari tanaman untuk pembasmi kutu ternak. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor. 18 - 19 Oktober 1999. p.598-601. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. (2000).

 

Abstrak

Kutu pada hewan khususnya pada kambing dan domba perlu diperhatikan karena kambing dan domba yang terinfeksi kutu adalah mencapai angka 41, 4-85% dan  mengakibatkan kegatalan, peradangan kulit, kekuntsan serta kerontokan bulu.  saha menanggulangi dengan menggunakan obat pembunuh kutu (insektisida) yang umumnya masih diimpor harganya menjadi malial . Untuk itu perlu diganti dengan obat alternatip seperti dari dari tanaman. Berdasarkan studi pustaka tanaman yang dapat digunakan sebagai alternatip untuk memberantas kutu adalah larutan 8% dari biji Annona squamosa atau A . muricata serta campuran dari 0, 5 kg daun mimba (Melia azadirachta L), 1 kg daun tembakati, 0, 5 kg biji A. squamosa dengan 0, 5 liter air.

 

Kata kunci: Alternatip, obat kutu ternak, tanaman

 

15           mfn=000691

Manurung, J.; Iskandar, Tolibin; Beriajaya(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Penagggulangan kudis pada kambing di kecamatan Cigudeg, Tenjo dan Parung Panjang kabupaten Bogor. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor. 1 - 2 Desember 1998. p.999-1003. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. (1999).

 

Abstrak

Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui kasus kudis dan cara penanggulangan penyakit kudis pada kambing di Kecamatan Cigudeg, Tenjo dan Parung Panjang Kabupaten Bogor. Sebanyk 90 peternak kambing yang tersebar di 9 desa dari 3 kecamatan digunakan sebagai sampel untuk wawancara dan pemeriksaan kasus kudis pada ternaknya . Kasus kudis ditentukan dengan cara melakukan kerokan kulit pada hewan yang secara Minis dicurigai menderita penyakit kudis dan tanda positif ditentukan dengan ditemukan parasit Sarcoptes scabiei pada hasil kerokan kulit. Pengamatan pada bulan Maret 1998 inenunjukkan bahwa kasus kudis terdapat pada kambing milik dari 4,4% peternak, sedangkan peternak yang menyatakan bahwa ternaknya pernah diserang oleh penyakit kudis ada sebanyak 30%. Cara yang dilakukan peternak untuk menanggulangi kasus ini adalah menjual ternak dengan harga yang murah (48,4% peternak) . Peternak yang lain (51,6%) berusaha mengobati ternak dengan obat alternatif seperti oli bekas (50% peternak), salep belerang (18,8% peternak), daun paci (Leucas lavandulifolia Smith) dicampur dengan oli bekas (12,5%), sereh wangi atau Andropogon nardus (6,2% peternak) dan kunyit (Curcutna donrestica) dicampur tape (6,2% peternak) .

 

Kata kunci : Sarcoptes scabiei, kudis, kambing, penanggtilangan, Bogor

 

16           mfn=000692

Iskandar, Tolibin; Manurung, J.(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Prevalensi dan upaya penagggulangan skabies pada kambing di beberapa Kecamatan di Kabupaten Bogor. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor. 1 - 2 Desember 1998. p.1004-1008. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. (1999).

 

Abstrak

Penyakit skabies masih banyk dijumpai di peternakan kambing, terutama peternakan yang kurang bersih seperti di Kecamatan Cigudeg, Tenjo dan Parung Panjang, Kabupaten Bogor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui waktu (hari) kesembuhan kambing penderita skabies yang diobati ivermectin di lapangan dan pemakaiannya oleh peternak . Telah dilakukan wawancara dan pengisian kuesioner pada peternak kambing dan dilakukan pemeriksaan dan pengobatan pada kambing selama bulan Maret 1998 . Ditemukan kejadian skabies pada pengamatan 1 .133 ekor kambing sebanyak 18 ekor positif skabies, 9 ekor (0,8'/0) di Kecamatan Tenjo, 2 ekor (0,2%) di Kecamatan Cigudeg, dan 7 ekor (0,6%) di Kecamatan Paning Panjang . Sepuluh ekor diobati ivermectin dengan 2 kali pengobatan dan 8 ekor sebagai kontrol disuntik garam fisiologis. Lama kesembuhan kambing yang menderita Skabies yang diobati ivermectin rata rata 27,9 hari

 

Kata kunci : Kudis, kambing, ivermectin

 

17           mfn=001510

Manurung, J; Iskandar, Tolibin(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Kendala beternak kambing di kecamatan Cigudeg, Tenjo dan Parung Panjang di kabupaten Bogor. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor. 1 - 2 Desember 1998. p.825-829. Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. (1999).

 

Abstrak

Kendala beternak kambing di Kecamatan Cigudeg, Tenjo dan Parung Panjang Kabupaten Bogor diketahui dari wawancara dan pengisian kuesioner pada 90 peternak kambing yang tersebar di 9 desa (setiap desa secara acak dipilih 10 peternak kambing) di Kecamatan Cigudeg, Tenjo dan Parung Panjang Kabupaten Bogor (secara acak dipilih 3 desa dalam 1 Kecamatan). Hasil wawancara yang dilakukan pada bulan Maret 1998 menunjukkan bahwa 70 (77,8%) peternak mengalami kendala . Kendala itu berupa 16 (17,8%) peternak takut akan serangan dari kudis, 10 (11,1%) peternak sulit mendapatkan rumput, 10 (11,1%) takut serangan dari anjing, 6 (6,6%)peternak sulit mendapatkan tenaga kerja, 5 (5,5%) peternak sulit mendapatkan modal . Kendala karena orf, abortus, miasis masing-masing ada sebanyak 4 (4,4%), akibat diclurit orang, keracunan ubi kayu, tertabrak oleh kenyataan bermotor masing-masing ada sebesar 3 (3,3%), 2 (2,2%), dan 2 (2,2%). Sedangkan hambatan yang lain karena terlilit oleh tali, penyakit mata, diare clan dicuri orang masing-masing ada sebanyak 1 (1,1%) peternak .

 

Kata kunci: Kendala, kambing

 

18           mfn=001631

Manurung, J.; Iskandar, Tolibin; Tarigan, Simson; Koswadi, A (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia) Uji keefektifan suatu larutan (campuran belerang 1,5 persen, kunyit 5 persen dan sirih 5 persen) pada kambing penderita kudis yang disebabkan oleh Sarcoptes scabiei. Prosiding Seminar hasil-hasil Penelitian Veteriner. Bogor. 18-19 Pebruari, 1998. p.168 -171. Bogor. Balai Penelitian Veteriner. 1998.

 

Abstrak

 

Sarcoptes scabiei sebagai penyebab kudis masih sering dilaporkan menyerang hewan khususnya peternakan kambing.untuk usaha penaggulangan,dilakukan penelitian pengobatan dengan larutan campuran dari belerang (akarisida) 1,5% kunyit (bakterisida) 5% dan sirih (anti gatal) 5% dan dengan ivernectin (ilvonec indonesia) sebelas ekor kambing kacang  betina umur 8 bulan ,masing-masing diinfestasi dengan 150 ekor tungau S.scabiei (aplikasi pada daun telingga bagian luar dengan ukuran 2 cm x 2 cm) kambing ditempatkan pada kandang panggung .diberi konsntrasi .rumput dan air ad libium.setelah 1 bula dari infestasi maka terlihat kambing-kambing menderita kudisan dengan derajat ringan 6 ekor dan derajat sedang 5 ekor kambing dibagi menjadi 3 kelompok secara acak .kelompok 1 (2 ekor derajat sedang ) diobati 3 akli berturut turut dengan selang waktu 7 hari dengan larutan campuran dari belerang 1,5%.kunyit 5 % dan sirih %% (disemprotkan pada daun telinga ),kelompok II (2 ekor derajat ringan dan 2 ekor derajat sedang ) diobati 2 kali berturut turut (selang waktu 7 hari ) dengan ivernectin secara subkutan dengan dosis 0,2 mg/kb berat badan .kelompok ke 3 yakni sisa (2 ekor derajat ringan dan 1 ekor derajat sedang ) sebagai kelompok kontrol.efek perlakuan diamati sekali dalam 7 hari selama 1 bulan.

 

19           mfn=001923

Manurung,J Knox,M.R Beriajaya (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). A Field Trial To Control Sarcptes Scabiei Infection In Goats Using Invermectin At Cibaliung, Pandeglang. Uji Lapangan Penggunaan Ivermectin Untuk Mengontrol Infestasi Sarcoptes Scabiei Pada Kambing Di Cibaliung,Pandeglang. Proceedings Pertemuan Ilmiah Ruminansia Jilid2. Bogor. 8-10 Nopember 1988. p.119-122. Bogor. Pusat Penelitian Dan Pengembanganan Peternakan (1988).

 

Abstrak

Penyakit kudis (disebabkan oleh sarcoptes scabiei)adalah salah satu penyakit yang umum ditemuikan pada kambing. Sebagai kegiatan dalam penelitian yang luas telah dilakukan uji lapangan pada kambing milik rakyat di Kecamatan Cibaliung, Kabupaten pandeglang. Sebanyak 30 kambing yang terserang kudis secara alami dibagi 2 kelompok yang masing-masing terdiri dari 15 kambing. Kelompok 1 diobati dengan ivermectin (Ivomec, Merck, Sharp and Dohme Ltd) dengan dosis 0,2mg/kg bobot dalam badan secara subkutan. Diberikan 2 kali dengan selang waktu 7 h. Kelompok 11 tidak diobati. Tingkat infeksi diamati setiap 2 minggu sekali selama 42 h dan diuji jumlah rata-rata tungau/4cm2 kerokan kulit dari 3 lokasi tubuh kambing(telinga,hidung dan leher). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa invermectin menurunkan (P<0,05)rata-rata jumlah tungau, mencegah penurunan bobot badan dan mencegah kematian.

 

20           mfn=000607

Soepeno(Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor (Indonesia))Manurung, J.(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Beberapa kendala dalam pemeliharaan ternak domba/kambing dengan sistem ekstensif di Jawa. Wartazoa. (1996). Vol.5(1) p.17-20.

 

Abstrak

Pulau Jawa dengan luas daratan 132 .168km2 atau sekitar 6,88% dari luas Indonesia, pada tahun 1990 dihuni oleh 107.581 .000 jiwa atau sekitar 59,97% dari jumlah penduduk Indonesia (BPS, 1991) . Disamping padat penduduk, pulau

Jawa juga padat ternak clan antara lain ternak domba/kambing . Populasi kedua jenis ternak tersebut pada tahun 1991 mencapai 12 .200.756 ekor atau sekitar 69,35% dari populasi domba/ kambing di Indonesia . Padatnya ternak clan padatnya penduduk mengakibatkan semakin kurangnya tempat penggembalaan ternak, karena semakin banyak lahan digunakan untuk pemukiman clan non pertanian .

 

21`          mfn=000809

Manurung, J.; Kusumaningsih, Anni(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Pengaruh kudis pada kambing terhadap minat peternak untuk beternak kambing di Desa Cigombong dan Desa Srogol Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Prosiding Temu Ilmiah Nasional Bidang Veteriner. Bogor. 12 - 13 Maret 1996. p.195-199.

 

Abstrak

Telah dilakukan Audi kasus di Dina Cigondiong dan Desa Srogol, Kecamatan  cijeruk, Kabupaten Bogor, untuk mengetahui pengaruh kudis pada kambing terhadap minat peternak untuk memelihara temak tersebut. Sebanyak 30 petemak dipilih manta purposif di kedua dna tersebut. Pengambilan data dilakukan dengan cara pengisian kuesioner dan wawancara. Dan hasil yang diperoleh diketaliui bahwa 15 dui 30 petemak (50%) petemak di kedua dma tersebut pcmah mendapatkan bantuan kambing PE dari pcmerintah. Sebanyak 11 dari 30 (36,7%) peternak nielaporkan baliwa kambingnya pernah terserang kudis, tempi hal in tidak niempengaruhi minat mereka untuk tetap membudidayakannya (ps0,05). I lal ini disadan karena marilaat memelihara kambangiauh lebih hamar daripada karugian akibat serangan kudis. Manfaat tersebut dapat berupa tambahan penghasilan, hobi, sebagai tabungan, dan lain-lain. Untuk penanggulangan penyakit kudis dapat dilakukan pencegahan dcngan meningkatkan kebersihan kandang dan lingkungam sena bagi kambing yang telah terserang kudis dapat dilakukan pengobatan selagi serangan kudis frusih fungal'.

 

kata kunci : scabies, minat nacnieUhara kambing

 

22           mfn=000967

Manurung, J.(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Studi pendahuluan pengobatan kudis pada kambing rakyat di Kabupaten Bogor dengan kombinasi larutan sabun dan belerang dalam air dan belerang dalam vaselin. MAJALAH PARASITOLOGI INDONESIA. (1994). V .7(1) p.17-23.

 

Abstrak

Manurung, J. 1994. A preliminary study on treatment of mange in people goats in the district of Bogor with a combination of detergent and sulphur in water and sulphur in vaseline.Maj. Parasitol. Ind. 7 (I) : 17 — 23 Mange caused by Sarcoptes scabiei is one of several diseases which still affect goats and also may worry people, especially those who take care of diseased animals. Many drugs have been recommended to be used in the control of mange, but it seems they are rarely applied, because their prices are out of ordinary farmers reach, still difficult to get and not easily applicable by the farmers them selves. For this reason, here with is choosen an alternative drug, a combination of 2.5% sulphur in vaseline with a mixture of detergent - sulphur in water (1.5% sulphur and 0,75% detergent). There were used 9 goats suffering from mange (severity mild to intermediate) caused by S. scabiei. The goat were divided into 3 groups (each of 3 goats). Group I was treated by rubbing the clinical part with mange of the skin with 2,5% sulphur in vaseline, while the other surface of the skin is wetted with sulphur detergent solution, each on day 0; 7; 14 and 21. Group II was treated in the same way as in groupl  on day 0; 10 and 20. Group III was treated in the same way as above on day 0; 10; 20 and 30. There is an indication that the best result is obtained in group II, because S. scabiei seemed to be eliminated and the affected skin was cured at day 40.

 

23           mfn=000942

Manurung, J.(Balai Penelitian Veteriner, Bogor indonesia))Muladi(PUSLITBANGNAK, Bogor). Penyakit kudis (Scabies) pada kambing. WARTA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN. (1993). V .15(3) p.4-6.

 

Abstrak

24           mfn=000298

Manurung, J.; Murdiati, Tri Budhi; Iskandar, Tolibin(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Pengobatan kudis pada kambing dengan oli, vaselin belerang dan daun ketepeng (Cassaia alata L.): Penyempurnaan percobaan. Penyakit hewan. (1992). Vol. 24(43) p. 27-32.

Abstrak

 

25           mfn=001601

Manurung, J. (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)) Derajat infestasi kutu pada kambing di kecamatan Cijeruk dan Caringin kabupaten Bogor. Prosiding Sarasehan Usaha Ternak Domba dan Kambing Menyongsong Era PJPT II. Bogor. 13-14 Desember 1992. p.190-193. Domba dan Kambing untuk Kesejahteraan Masyrakat. Bogor. Ikatan Sarjana Ilmu-Ilmu Peternakan Indonesia (ISPI) Cabang Bogor dan Himpunan Peternakan Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) Cabang Bogor. (1992).

 

Abstrak

Kambing sebanyak 115 ekor,jenis peranakan etawah (PE),umur 2 bulan – 4 tahun,dipelihara oleh 31 peternak yang tersebar dalam 2 desa di kecamatan cijeruk dan satu desa di kecamatan caringin,kabupaten bogor,diamati dua bulan sekali selama satu tahun ,terhadap jenis kutu ,derajat infesiasi dan geala klinik yang ditimbulkan.jenis kutu yang ditemukan adalah dalaminia caprae dan linonathus stenopsis. Jumlah kambing yang terinfestasi kutu ada 98 ekor (85%)dengan perincian terinfestasi hanya oleh D.caprae sebanyak 59%,hanya oleh L.stenopsis 8% dan oleh campuran D.caprae dengan L.stenopsis sebanyak 18% gejala klinik yang ditimbulkan oleh infestasi kutu (8-25 EKOR KUTU DI 3 lokasi permukaan kulit yang masing masing luas nya 4 cm)terlihat pada 12 ekor (10,4%)dengan perincian terjadi pruritis pada 8 ekor (6,9%),denatitis pada 1 ekor (0,86%)DAN KEKURUSAN PADA 3 EKOR (2,6%.)

 

26           mfn=001603

Manurung, J. (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)) Soepeno; Semali, ArmiadiPusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, a Cimarga dan Sudamanik, kecamatan Cimarga, kabupaten Lebak Jawa Barat. Prosiding Sarasehan Usaha Ternak Domba dan Kambing Menyongsong Era PJPT II. Bogor. 13-14 Desember 1992. p.202-205. Domba dan Kambing untuk Kesejahteraan Masyrakat. Bogor. Ikatan Sarjana Ilmu-Ilmu Peternakan Indonesia (ISPI) Cabang Bogor dan Himpunan Peternakan Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) Cabang Bogor. (1992).

 

Abstrak

Populasi domba dan kambing (bantuan dari dana ARMP puslitbangnak) setelah satu tahun diperihara peternak di desa cimarga dan sudamanik.kecamatan cirmarga ,kabupaten lebak,jawa barat ,tidak bertambah .untuk mengetahui penyebabnya di lihat dari parasit (endo dan ecto-parasit( dengan cara pemeriksaan jumlah telur (endo-parasit) dalam 1 gram tinja (TGT) dan kerokan kulit (ectoparasit) .hasil pengamatan terhadap 20 ekor domba dan 24 ekor kambing menunjukan bahwa yang dewasa,100% terinfestasi cacing nematoda dan koksidia ,20-25% terinfestasi cacing fita dan cacing hati.keadaan ini akan menimbulkan kerusakan dan produksi air susu kurang untuk membesarkan anak.domba umur 3-6 bulan sebanyak 100% dan 20% kambing umur 3-6 bulan menderita anemia (TGT 5000).dengan pola pemeliharaan secara di gembalakan,maka pada ternak yang terinfestasi cacing akan menurunkan daya tahan tubuh ternak yang dapat menimbulkan kematian.kambing yang terinfestasi ectoparasit (S.scbiel) sebanyak 50% ,bila dibiarkan dan masih digembalakan disamping akan mati (populasi yang akan diamati berkurang 50%) jga akan menular pada kambing yang lain dan kepada orang yang terkontak.

27      mfn=000277

Manurung, J.(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Trials of various combinations of oil and sulphur in the treatment of sarcoptic mange (Sarcoptes scabiei). Pengobatan kudis (Sarcoptes scabiei) pada kambing dengan oli dan belerang serta campurannya. Penyakit Hewan. (1991). Vol. 23(41) p.45-49.

 

Abstrak

Kudis yang disebabkan oleh sarcopter scabiel adlah penyakit yang sering ditemukan di indonesia pada ternak kambing.pengobatan dengan oli bekas,campuran oli bekas dan belerang,vaselin belerang dan campuran salisil dan belerang lebih sering digunakan daripada obat baru yang telah dianjurkan.untuk itulah maka serangkaian penelitian dilakuakan terhadap 20 ekor kambing PE yang terinfestasi sarcoptes scabiel secara alami. Kambing dibagi menjadi 5 kelompok (tiap kelompok terdiri dari 4 ekor )kelompok 1 diobat dengan oli bekas,kelompok 2 diobat dengan campuran oli bekas dan belerang (4:1) kelompok 3 diobat dengan vaselin belerang (4:1) kelompok 4 diobat dengan campuran sasisil 3% dan belerang 10 % dalam air dan kelompok 5 tidak diobat.observasi terhadap tunggu yang hidup yang dilakukan setipa seminggu sekali selama 3 bulan menunjukan bahwa penurunan jumlah jungau diperhatikan oleh 3 ekor kambing (75% secara bermakna (p 0,005) dikelompok 1,3 dan dikelompok 4(P0,05) hanya pada 2 ekor dikelompok 2(P 0,05) khusus pada 1 ekor di setiap kelompok jumlah tungau tidak dipengaruhi bahkan makin meningkat . dikelompok 5 dalam 1 minggu jumlah tungau meningkat menjadi lebih dari 2 kali.klinis kulit pada yang diobat makin membaik kecuali pada kelompok 4 kulit berketombe dan ada satu ekor yang sampai buta .mortalitas setelah perlakuan pada kelompok 1,2 dan 3 mencapai 75% pada kelompok 4 mencapai 50% dan pada kelompok 5 mencapai 100%.dari hasil diatas perlu penelitian lanjutan tentang pengobatan dengan oli bekas dan vaselin belerang khususnya ditekankan untuk mengurangi kematian.

 

Kata-kata kunci:sarcoptes scabiel, pegobatan ,oli, belerang ,kambing.

 

28           mfn=000278

Murdiati, Tri Budhi; Manurung, J.(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Study of the efficacy of ketepeng leaf (Cassia alata L.) against psoroptic mange (Psoroptes cuniculi) in rabbits.Uji daun ketepeng (Cassia alata L.) untuk pengobatan penyakit kudis (Psoroptes cuniculi) pada kelinci. Penyakit Hewan. (1991). Vol. 23(41) p.50-52.

 

Abstrak

Suatu penelitian pendahuluan untuk mengetahui khasiat daun ketopeng(cassia alata) dalam pengobatan penyakit kulit telah dilakukan pada sepuluh ekor kelinci (new zaeland) yang terinfeksi oleh psoroptes cunicull secara alami. Kelinci dibagi secara acak menjadi dua kelompok ,yaitu satu kelompok mendapat pengobatan suspensi daun ketoprng dan satu kelompok kontrol tidak diobati . suspensi 50% daun ketepeng dalam air di oleskan setiap minggu pada kedua telingga yang terinfeksi dari kelinci dalam kelompok perlakuan .jumlah tungau yang hidup dihitung setiap minggu dari kerokan yang diambil dari kedua telingg.setelah empat minggu terjadi penurunan yang nyata (P0,05) dari jumlah rata-rata tungau yang hidup pada kelompok yang diobati suspensi daun ketepeng.area yang terinfestasi pada kedua telingga menjadi lebih sempit dan jumlah ketepeng berkurang.

 

Kata-kata kunci: cassia alata,ketepeng,psoroptes cunicull.

 

29           mfn=000158

Manurung, J.; Beriajaya; Stevenson, P. (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Efikasi invermectin untuk pengobatan kudis pada kerbau. Penyakit Hewan. (1987). V .19(33) p.26-29.

 

Abstrak

Nineteen buffaloes housed on the institute estate were used . Eleven buffaloes had a natural infection with Sarcoptes scabiei (5 were treated and 6 remained untreated) and 8 buffaloes were infested with Psoroptes (4 were treated and 4 remained untreated) . Treatment with Ivermectin (Ivomec, MSDAGVET, UK) was undertaken at a dose rate of 200 mcg/kg bodyweight . Treatment was carried out twice with an interval of3 weeks between treatments . Results of skin scrapings and clinical observation demonstrated that good control of Sarcoptes was achieved and treatment appeared to be associated with an increased in bodyweight . The treated animals increased in weight by an average of 8.7% during the course of the experiment . In the untreated animals bodyweight decreased by an average of 3 .7%. Two young buffaloes died with a severe infection of Sarcoptes. Of the buffaloes infested with Psoropta three responded to treatment but one buffalo continued to harboured living mites throughout the experiment .

 

30           mfn=000173

Manurung, J.Beriajaya; Knox, Malcolm (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Pengamatan pendahuluan penyakit kudis pada kambing di kabupaten Pandeglang, Jawa Barat. Penyakit Hewan. (1987). V .19(34) p.78-81.

 

Abstrak

Mange caused by Sarcoptes scabiei is a frequently reported disease of goats in Indonesia. Clinically the disease is characterised by thickened, encrusted skin, itching and scratching, hair loss, weight loss, reduced productivity and if infestation levels are high, high mortality of host animals. A preliminary survey was undertaken to gather information on sarcoptic mange in goats kept under traditional management in the district of Pandeglang, West Java. Atotal of 59 goats showing clinical signs of sarcoptic mange were sampled by taking skin scrapings from areas suspected of infection. Ticks found during the survey were also collected for identification . Examination of samples revealed that S. scabiei was found in 35.6% of samples, Chorioptes sp . in 5.08% and ticks in 13.6%. Two species of ticks were found, namely Haemaphysalis bispinosa and Amblyomma testudinarium . Sarcoptic mange was most prevalent in the subdistricts of Cibaliung and Cikeusik while in the Cigeulis subdistrict ticks were the major ectoparasite .

 

31           mfn=000133

Manurung, J.; Beriajaya; Partoutomo, Sutijono; Stevenson, P. (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Pengobatan kudis kambing yang disebabkan oleh tuangai Sarcoptes scabiei dengan Ivermectin dan Asuntol. Penyakit Hewan. (1986). Vol.18(31) p.58-62.

 

Abstrak

The mite,sarcopters scabiel is a common parasite of goats in indonesia and it is the cause of a serious skin di sense called scabies or mange. A study has been carried out to examine method of treating the disease.A total of 25 goats , bought from local market and naturally infected with sarcopters were diviled into 3 groups. One group of 9 goats was given ivernectin (ivomec ,MSD,AGVET,UK) subcutaneously at a dose rate of 0.2 mg/kg body weight on three occasions at intervals of 20 days,one group of 8 goats was dipped in a 0.1% asuntol (bayer ,indonesia )bath 5 times at 10 days intervals .the third group of 8 remainned untreated.Both ivernectin and asuntol terament led to a algmificant reduction in mite numbers ,and in mortality rates of the goats .however during 90 days of the study complete resolution of lesions was not seen and living mites persisted in some goats to the end of the observation period.further work is required to determine whether an increased dose rate of ivernectin will completely cure the disease,as the drug and its method of administrasion would seem ideally suited for use in the villages.

 

32           mfn=000103

Manurung, J.; Partoutomo, Sutijono; Stevenson, P. (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). [Treatment of rabbit ear mange, caused by Notoedres cati, with ivermectin and Neguvon]. Pengobatan kudis kelinci lokal (Notoedres cati) dengan invermectin atau neguvon. Penyakit Hewan. (1985). Vol.17(29) p.308-311.

 

Abstrak

Mange in rabbits caused by the mite Notoedres cati is a common and serious diseases in West Java.There is a lack of published reports on the treatment of this infection in rabbits. Astudy carried out to determine the effect of two compounds Ivermectin and Neguvon on mange in rabbits is reported here . Atotal of 30 local rabbits naturally infected with Notoedres Cati were purchased from Bogor market. The rabbits were divided into three groups of 10 animals in each group. One group was given Ivermectin (Ivomec, MSD AGVET, UK) subcutaneously at a dose rate of 0.2 mg/kg body weight on two occasions at an interval of 3 weeks. One group was dipped in a 0.16% Trichlorfon (Neguvon, Bayer, Indonesia) dip three times at 10 day intervals. The third group remained untreated. Skin scrapings were taken each week and the number of mites present was counted. By two weeks after the day of first treatment mite numbers were greatly reduced in both treated groups. Six weeks aftertreatment no mites were found in any of the treated rabbits but all the surviving untreated rabbits were heavily infected. In both treated groups there was a rapid resolution of lesions.

 

33           mfn=001971

J,Manurung (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Studi Prevalensi Caplak Pada Kambing Di Tiga Kecamatan Kabupaten Pandeglang,Jawa Barat. Konferensi Ilmiah Nasional V Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia 1991. Yogyakarta. 12-13 Juli 1991. p.56. Yogyakarta. Perimpunan Dokter Hewan Indonesia (1991).

Abstrak