JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

KUMPULAN KARYATULIS ILMIAH Dr. Anni Kusumaningsih 1995 – 2013

KUMPULAN KARYATULIS ILMIAH

Dr. Anni Kusumaningsih

1995 – 2013

 

 1              mfn=002158

Kusumaningsih, Anni; Ariyanti, Tati[Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor]. Pathogenic bacteria contamination in fresh dairy milk and its resistance to antibiotic. Cemaran Bakteri Patogenik Pada Susu Sapi Segar dan Resistensinya Terhadap Antibiotika. Berita Biologi. 2013. Vol.12(1), p.9-17.

                                                                           ABSTRAK

Susu sapi merupakan minuman dengan kandungan protein tinggi yang dapat diminum langsung atau dapat digunakan sebagai bahan tambahan dalam makanan yang aman dan sehat. Selain itu, susu sapi juga merupakan media yang sangat baik bagi pertumbuhan bakteri patogenik yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya cemaran bakteri patogenik pada susu sapi segar dan profil resistensinya terhadap beberapa antibiotika. Sampel susu sapi segar diambil dari tabung-tabung (can) pengumpul susu dari tiap-tiap peternak di sentra peternakan sapi perah di Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pengujian secara kuantitatif dan kualitatif dilakukan terhadap 34 sampel susu sapi. Beberapa parameter yang diuji merujuk pada Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 01-3141-1998 tentang Syarat Mutu Susu Sapi Segar dan SNI No. 7388-2009 tentang Batas Maksimum Cemaran Mikroba dalam Pangan, seperti total bakteri (Total plate count/TPC), angka paling mungkin (most probable number/MPN) Coliform, dan MPN E. coli. Hasil pengujian kualitatif isolasi dan identifikasi bakteri ditemukan sebanyak 14 (41,18%) isolat Escherichia coli, 8 (23,43%) isolat Streptococcus grup B, 3 (8,82%) isolat Staphylococcus aureus, dan tidak ditemukan (negatif) Salmonella spp. Uji resistensi terhadap 5 jenis antibiotika menunjukkan bahwa isolat E. coli resisten terhadap penisilin (14,3%), oksitetrasiklin (21,4%), khloramfenikol (57,1%), dan streptomisin (28,6%). Sementara isolat Streptococcus Grup B ditemukan resisten terhadap penisilin (12,5%), oksitetrasiklin (37,5%), khloramfenikol (25,0%), streptomisin (87,5%), dan siprofloksasin (87,5%). Ditemukan multi resistensi E. coli terhadap 2 antibiotika, sedangkan multiresistensi Streptococcus terhadap 2-3 antibiotika. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa sampel susu sapi segar dari peternak di Cibungbulang telah tercemar oleh berbagai jenis bakteri patogenik dan sebagian besar resisten terhadap antibiotika yang diuji.

 

Kata kunci: Cemaran, bakteri patogenik, susu sapi segar, resistensi, antibiotika

 

2              mfn=001846

Kusumaningsih, Anni[Balai Besar Penelitian Veteriner, .11. Re. Martadinata 30 Bogor, 16114]. Some Factors Trigger Increasing Foodborne Diseases Cases of Livestock Origin. Faktor Pemicu Kasus Foodborne Diseases Asal Ternak. Wartazoa.

  1. Vol.22(3), p.107-112.

                                                                    ABSTRAK

Pangan merupakan kebutuhan esensial untuk berbagai kegiatan tubuh manusia. Sebagai konsekuensinya, pangan tersebut harus terjamin bebas dari berbagai cemaran biologis, kimiawi, fisik dan bahan berbahaya lainnya yang dapat mengganggu kesehatan. Adanya berbagai cemaran berbahaya pada pangan dapat mengakibatkan timbulnya foodborne disease, yaitu penyakit pada manusia yang ditularkan melalui makanan dan minuman yang tercemar. Cemaran biologis pada pangan dapat berupa bakteri, virus, parasit, jamur atau cendawan. Diantara cemaran biologis yang sangat patogenik dan dapat mengakibatkan wabah pada manusia yaitu bakteri patogenik, seperti Salmonella spp., Escherichia coli, Bacillus anthracis, Clostridium spp., Listeria monocytogenes, Campylobacter spp., Vibrio cholerae, Enterobacter sakazakii, Shigella, dan sebagainya. Para peneliti berpendapat bahwa ada beberapa faktor penting yang dapat menjadi pemicu peningkatan kasusfoodborne diseases pada manusia seperti demografi masyarakat dengan meningkatnya kelompok individu yang lebih peka terhadap infelcsi foodborne patogenik, human behaviour yang menyangkut perubahan pola hidup dan pola konsumsi masyarakat, kemajuan sektor industri dan teknologi dengan meningkatnya industri makanan berskala besar yang terkonsentrasi pada satu tempat, perubahan dalam pola perjalanan dan perdagangan global antar negara, serta peningkatan resistensi bakteri patogenik terhadap antimikroba sebagai akibat dari peningkatan pemakaian antimikroba untuk pencegahan dan pengobatan penyakit pada hewan dan manusia.

 

Kata kunci: Faktor pemicu, foodbome diseases, cemaran, pangan, ternak

3              mfn=001793

Kusumaningsih, Anni (Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor, Indonesia) Sudarwanto, M. (Fakultas Kedokteran Hewan-Institut Pertanian Bogor, Indonesia).Salmonella enteritidis infection in chicken eggs and human and its antimicrobial resistance profiles. Infeksi salmonella enteritidis pada telur ayam dan manusia serta resistensinya terhadap antimikroba. Berita Biologi (Jurnal Ilmu-Ilmu Hayati). (2011).Vol.10(6), p.771-779.

                                                                         ABSTRAK

Salmonella enteritidis merupakan bakteri patogenik pada ayam dan manusia yang bersifat re-emerging foodborne pathogen. Pemakaian antimikroba yang tidak tepat untuk pencegahan dan pengobatan penyakit pada hewan dan manusia dikhawatirkan dapat mengakibatkan timbulnya resistensi antimikroba pada bakteri. Sampel berupa telur ayam diambil dari pasar, petemakan ayam petelur (layer), petemakan pembibitan (Grant Parent Stock); dan anal swab dari Rumah Sakit dan Laboratorium Milcrobiologi. Identifikasi bakteri dilakukan dengan isolasi dan biotiping menggunakan media khusus untuk Salmonella, sedangkan serotiping menggunakan antiserum spesifik somatik 0 (1, 9, dan 12) dan flagela H (m). Uji resistensi antimikroba menggunakan metode agar difusi memakai kertas cakram dengan metode tuang. Hasil isolasi dan identifikasi menunjukkan bahwa sebanyak 9 dari 122 (7,4%) sampel telur konsumsi dan 7 dari 23 (30,4%) sampel telur tetas mengandung (positif) Salmonella spp. Dari 51 sampel anal swab pasien penderita gastroenteritis semuanya negarif Salmonella spp. Hasil serotiping terhadap Salmonella spp. asal telur konsumsi temyata sebanyak 7 dari 9 (77,8%) dan 7 dari 7 (100%) asal telur tetas adalah S. enteritidis. Dan 15 isolat Salmonella spp asal manusia koleksi Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor ditemukan sebanyak 14 (93,3%) S. enteritidis. Profil resistensi antimikroba isolat S. enteritidis asal telur menunjukkan resistensi yang tinggi terhadap streptomisin (42,9%), neomisin (85,9%), doksisiklin (64,3%), dan siprofloksasin (57,1%); sedangkan isolat S.enteritidis asal manusia menunjukkan resistensi yang tinggi terhadap streptomisin (50,0%), neomisin (85,7%), tetrasilclin (42,9%), dan doksisildin (42,9%). Profil multiresistensi isolat S. enteritidis asal telur terbanyak terhadap 2-3 jenis antimikroba dan isolat S. enteritidis asal manusia terbanyak resisten terhadap lebih dari 5 jenis antimikroba.

Kata kunci: Salmonella enteritidis, telur ayam, manusia, resistensi, antimikroba

4              mfn=001662

Kusumaningsih, Anni (Research Institute for Veterinary Science, Bogor, Indonesia) Selleck, Paul (CSIRO-Australian Animal Health Laboratory, Geelong, Australia).Pathogenicity of Local Isolates of Salmonella enterica Serotype enteritidis in Chickens and Mice. Patogenisitas Salmonella enterica serotipe enteritidis isolat lokal pada anak ayam dan mencit. Berita Biologi (Jurnal Ilmu-Ilmu Hayati). (2011). Vol.10(4), p.463-469.

                                                                  ABSTRAK

Salmonera enterica serotipe enteriditis (.S. enteriditis) merupakan salah satu serotipe dari subjenis Salmonera enterica yang termasuk ke dalam suku Enterobacteriaceae. S. enteriditis dikenal sebagai bakteri patogen penting pada unggas, manusia, dan hewan lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui patogenisitas S. esteriditis pada anak ayam dan mencit. Sebanyak 36 isolat lokal S. enteriditis masing masing disuntikan pada 5 ekor anak ayam umur 3 hari dan 5 ekor muncit ukuran dewasa umur +- 2 bulan dengan dosis 0,2 ml x 10/8 CFU/ml. Secara intraporetonial. Pengamatan dilakukan pada hari ke 1, 2, 3, 4, 5, 6 dan 7 pasca penyuntikan. Hasil penelitian menunjukan bahwa secara keseluruhan kematian anak ayam dan mencit selama 7 hari berturut-turut sebesar 78,4% dan 63,9%. Kematian tertinggi terjadi pada hari ke satu pasca penyuntikan, yaitu sebesar 51,1% pada anak ayam dan 40% pada mencit, sedangkan terendah pada hari ke enam (0,0%) atau tidak ada kematian pada anak ayam dan hari ke tujuh (0.6%) pada mencit. Bakteri S. enteriditis dapat di isolasi kembali dari semua organ campur (Hati, jantung dan limpa) serta seka tonsil anak ayam dan mencit yang mati. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa bakteri S. enteriditis dapat diisolasi kembali  dari semua organ campur (Hati, jantung dan limpa) serta seka tonsil anak ayam dan mencit yang mati. Dari hasil penelitian ini dapat disimpukan bahwa bakteri S. enteriditis isolat lokal sangat patogen pada anak ayam dan mencit.

 

Kata kunci : Patogenisitas, Salmonella enterica serotipe enteritidis, isolat, anak ayam, mencit.

 

5              mfn=001641

Kusumaningsih, Anni (Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor).Beberapa bakteri patogenik penyebab Foodborne Disease pada bahan pangan asal ternak. Wartazoa (2010). Vol.20(3), p.103-111.

                                                                          ABSTRAK

Pangan merupakan kebutuhan esensial untuk berbagai kegiatan tubuh manusia, oleh karena itu pangan harus terjamin bebas dari berbagai cemaran biologis, kimiawi, fisik dan bahan berbahaya lainnya yang dapat mengganggu kesehatan. Adanya berbagai cemaran berbahaya pada pangan dapat mengakibatkan munculnya foodborne disease , yaitu penyakit pada manusia yang disebabkan oleh makanan dan atau minuman yang tercemar. Cemaran biologis pada pangan dapat berupa bakteri, virus, parasit, kapang atau cendawan. Vemaran biologis yang paling berbahaya dan dapat mengakibatkan wabah penyakit pada manusia ialah bakteri patogenik, antara lain, Salmonella spp., Escherichia coli, Bacilus anthracis, Clostridium spp.,Listeria monocitegenes,Camplylobacter spp., Vibrio cholerae, Enterobacter sakazakii, Shigella, dan lain-lain. Bahan pangan yang terkontaminasi bakteri patogenik jika dikonsumsi oleh manusia akan menimbulkan gejala klinis antara lain berupa sakit perut, muntah, diare, kram (kejang) perut, sakit kepala, tidak ada nafsu makan, demam, bahkan dapat mengakibatkan dehidrasi.

 

Kata kunci : Bakteri patogenik, foodborne disease, pangan, ternak

 

 

6              mfn=001382

Ariyanti, Tati; Supar; Kusumaningsih, Anni( Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia) Cemaran Escherichia coli pada bahan pangan asal ternak periode 2000-2004 dan resistensinya terhadap antibiotika.Prosiding Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXVII: Dukungan Teknologi untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyrakat.Bogor(Indonesia). 21 Nop 2007. p.207 - 211. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta (Indonesia). Prosiding Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXVII : Dukungan Teknologi untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyrakat. Jakarta(Indonesia). Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2008. xiii, 287 p.

                                                                        ABSTRAK

Escherichia coli merupakan bakteri enterik bersifat oportunis patogen. Serotipe tertentu sangat patogen terhadap hewan dan manusia. Keberadaannya pada bahan pangan asal ternak sebagai cemaran berpotensi menimbulkan masalah pada konsumen. Tujuan pengujian ini adalah untuk mengetahui keberadaan cemaran Ecoli pada bahan pangan asal ternak berupa sampel daging dan jeroan ayam, daging sapi, telur Berta produk olahannya berupa sosis, daging sapi asap maupun pepes ayam selama periode tahun 2000-2004. E. coli diisolasi dari sampel dari sampel dan diidentifikasi menggunakan media agar selektif EMB/ Mc Conkey, TSIA, semisolid dan uji IMViC. Uji resistensi terhadap antibiotika dilakukan dengan metode agar difusi menggunakan cakram kertas yang mengandung antibiotik. Dari 292 sampel yang diuji ditemukan positif E. coli sebanyak 221 sampel (75,68%). Lima isolat dilakukan uji resistensi terhadap 10 macam antibiotika. Empat isolat diantaranya multi resisten terhadap 3-5 macam antibiotika dan 1 isolat resisten terhadap 1

macam antibiotika. Dari fiasff tersebut disimpulkan tingkat cemaran E. coli pada bahan-bahan pangan asal ternak maupun olahannya sangat tinggi. Perlu adanya peningkatan dalam penerapan sanitasi yang baik dari awal produksi sampai tingkat konsumen untuk memperoleh jaminan pangan asal ternak yang aman untuk dikonsumsi.

 

Kata kunci: E toll, cemaran, pangan asal ternak

 

7              mfn=001381

Kusumaningsih, Anni; Supar; Ariyanti, Tati( Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia)Sudarwanto, M.; Wibawan, IWT(FKH IPB).Profil resistensi terhadap antimikroba isolat Salmonella enterica serotipe Enteritidis yang diisolasi dari ayam dan produknya.Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXVII: Dukungan Teknologi untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyrakat.Bogor. 21 Nop 2007. p.200 - 206. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta (Indonesia) Prosiding Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia XXVII:Dukungan Teknologi untuk Meningkatkan Produk Pangan Hewani dalam Rangka Pemenuhan Gizi Masyrakat. Jakarta(Indonesia). Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2008. xiii, 287 p.

                                                                        ABSTRAK

 Salmonella enterica serotipe Enteritidis merupakan bakteri patogen yang menginfeksi ayam dan manusia. Bakteri ini juga merupakan penyebab foodborne disease pada manusia. Pemakaian antimikroba pada ternak yang tidak terkendali dapat mengakibatkan timbulnya resistensi antimikroba pada bakteri patogen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengisolasi Salmonella enterica serotipe Enteritidis asal ayam dan mengetahui profil resistensi bakteri terhadap antimikroba. Bakteri diisolasi dari sampel berupa campuran hati dan jantung, Berta usapan rektal ayam yang diambil dari pasar dan peternakan ayam di Bogor dan Bandung. Identifikasi bakteri dilakukan pada media agar selektif xylose lysine deoxycholate, dilanjutkan serotiping Salmonella enterica serotipe Enteritidis menggunakan antiserum 0 dan H. Uji resistensi antimikroba disertakan pula isolat Salmonella enterica serotipe Enteritidis yang diisolasi sebelumnya dengan metode agar difusi. Hasil isolasi dan seotiping dari 81 campuran hati dan jantung ayam dapat diisolasi 11 Salmonella enterica serotipe Enteritidis, sedangkan dari 231 usapan rektal ayam negatif Salmonella enterica serotipe Enteritidis. Hasil uji resistensi dari 36 isolat Salmonella enterica serotipe Enteritidis berturut turut resisters terhadap neomisin (63,8%), doksisiklin (58,3%), tetrasiklin (44,4%), streptomisin (38,8%), siprofloksasin (34,2%), gentamisin (16,6%), oksitetrasiklin (16,6%), enrofloksasin (8,3%), trimetoprin sulfametoksasol (5,5%), dan kloramfenikol (5,5%). Multiresistensi isolat Salmonella enterica serotipe Enteritidis terhadap 2 sampai lebih dari 5 jenis antimikroba, terutama terhadap streptomisin, neomisin, gentamisin, tetrasiklin, doksisiklin, dan siprofloksasin. Dapat disimpulkan bahwa Salmonella enterica serotipe Enteritidis dapat diisolasi dari campuran organ hati dan jantung ayam dan adanya resistensi Salmonella enterica serotipe Enteritidis terhadap antimikroba dapat berdampak negatif terhadap manusia.

Untuk mengurangi resiko penularan Salmonella enterica serotipe Enteritidis dari ayam ke manusia dilakukan dengan cara memasak pangan tersebut dengan benar.

 

Kata kunci: Salmonella enterica serotipe enteritidis, isolasi, serotiping, uji resistensi antimikroba

 

8              mfn=001231

Bahri, Sjamsul; Masbulan, E.; Kusumaningsih, Anni(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Proses praproduksi sebagai faktor penting dalam menghasilkan produk ternak yang aman untuk manusia. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. (2005).

                                                                       ABSTRAK

Pangan asal ternak sangat dibutuhkan untuk menunjang kehidupan dan kualitas hidup manusia, sekaligus sebagai komoditas dagang. Oleh karena itu, produk peternakan dituntut memiliki mutu tinggi agar berdaya saing serta aman dikonsumsi. Makalah ini menyajikan data dan informasi mengenai berbagai cemaran dan residu senyawa asing pada produk peternakan di Indonesia, serta mengulas berbagai faktor yang terkait dengan rantai penyediaan pangan dan sistem keamanan produk peternakan. Dari bahasan ini diketahui bahwa penggunaan obat hewan, terutama yang dicampur dalam pakan sudah sangat meluas dan cenderung tidak mengikuti ketentuan. Sementara itu berbagai residu (antibiotik, preparat sulfa, mikotoksin, hormon, dan pestisida) ditemukan pada produk ternak seperti susu, telur, daging, dan organ hati ternak. Pakan, penyakit ternak, obat hewan, pengawasan dan manajemen pada proses

praproduksi memegang peranan penting dalam menghasilkan produk ternak yang bermutu tinggi dan aman dikonsumsi. Pengetahuan dan kesadaran peternak (produsen) untuk menghasilkan produk peternakan yang bermutu, bebas dari penyakit dan cemaran atau residu perlu ditingkatkan. Penerapan HACCP (hazard critical controle point) pada proses praproduksi diyakini dapat menghasilkan produk ternak yang bermutu dan aman untuk manusia.

 

Kata kunci: Pemeliharaan ternak, produk ternak, residu, kesehatan

 

9              mfn=001100

Bahri, Sjamsul; Kusumaningsih, Anni(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia).Potensi, peluang, dan strategi pengembangan vaksin hewan di Indonesia.Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. (2005).V .24(3) p.113-121.

                                                                           ABSTRAK

Pembangunan peternakan perlu ditunjang oleh program peningkatan kesehatan hewan, karena dampak yang diakibatkannya dapat bersifat fatal dan sangat merugikan. Sampai saat ini kebutuhan obat hewan, terutama vaksin masih belum mencukupi baik jenis maupun jumlahnya. Sekitar 76,34% kebutuhan vaksin masih dipenuhi dari impor, sehingga dikhawatirkan akan muncul wabah penyakit karena pengendalian penyakit menjadi kurang efektif serta membuka peluang masuknya penyakit dari luar negeri. Sekitar 80% kebutuhan vaksin hewan di Indonesia

berupa vaksin unggas (ayam). Dari delapan jenis vaksin ayam yang umum dipergunakan, yaitu newcastle disease (ND), infectious bronchitis (IB), infectious bursal disease (IBD), snot (coryza), pox, swallon head syndrome (SHS), egg drop syndrome (EDS), dan infectious laryngotracheitis (ILT), 93,36% merupakan vaksin ND, IB, dan IBD dan sekitar 80% dipenuhi dari impor. Berdasarkan hasil kajian, Indonesia memiliki potensi dan peluang untuk mengembangkan vaksin hewan karena telah tersedia teknologi pembuatan vaksin, sumber daya manusia, produsen vaksin, serta sumber daya plasma nutfah berupa mikroorganisme lokal yang sesuai untuk mengatasi penyakit. Strategi yang perlu dilakukan untuk pengembangan vaksin hewan di dalam negeri adalah: 1) melakukan penelitian dan pengembangan vaksin hewan yang berorientasi pasar (terutama vaksin unggas), 2) memanfaatkan sumber daya secara terpadu antarinstitusi, 3) optimalisasi peningkatan kapasitas produksi vaksin yang telah dikuasai, dan 4) membentuk unit produksi vaksin pada perguruan tinggi dan lembaga penelitian.

 

Kata kunci: Vaksin hewan, potensi, peluang, strategi pengembangan, Indonesia

 

10           mfn=000644

Kusumaningsih, Anni; Poernomo, Sri(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Infeksius coryza (snot) pada ayam di Indonesia. Wartazoa. 2000. Vol.10(2) p. 72-76.(Diterima dewan redaksi 09 Oktober 2002)

                                                                     ABSTRAK

INDRIANI R., R.M ABDUL ADJID, DARMINTO, dan HELMY HAMID. 2002. Pengembangan teknik Enzyme Linked Immunosorbent Assay untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap virus Infectious laryngotrachitis dalam serum ayam. JITV 7(2): 130-137.

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Enzime-Linked Immunosorbents Assay (ELISA) yang berfungsi untuk mendeteksi adanya antibodi gallid herpes virus, penyebab penyakit infectious laryngotracheitis (ILT) pada ayam. Aplikasi ELISA pada serum ayam hewan percobaan pada kondisi laboratorium juga dievaluasi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ELISA telah berhasil dikembangkan dengan tingkat sensitifitas dan spesifisitas masing-masing secara berurutan 98% dan 97,14%. ELISA ILT yang dikembangkan dapat mengetahui dinamika respon antibodi pada hewan percobaan yang sengaja divaksinasi dan kemudian diinfeksi lagi dengan virus ILT. Disimpulkan bahwa ELISA yang dikembangkan dapat digunakan sebagai perangkat uji serologi untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap virus ILT dalam serum ayam, baik ayam yang divaksinasi maupun akibat infeksi.

 

Kata kunci : ELISA, antibodi, ayam, Infectious laryngotrachitis

 

11           mfn=000475

Martindah, Eny; Kusumaningsih, Anni; WidjajantiI, Sri; Partoutomo, Sutijono; Suhardono (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia))Frank, B.(Department of Agriculture, University of Queensland, Brisbane 4072(Australia)).. Program penyuluhan dalam upaya pengendalian fasciolosis pada sapi dan kerbau di Jawa Barat, Indonesia. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. (1998). Vol.3(3) p. 206-213.

                                                         ABSTARCT

Program penyuluhan dalam upaya pengendalian fasciolosis telah dilaksanakan melalui kerjasama antara Balitvet, Dinas Peternakan Kabupaten Sukabumi dan Kecamatan Surade serta peternak sapi di Kecamatan Surade, Jawa Barat. Materi penyuluhan merupakan hasil penelitian terdahulu tentang epidemiologi fasciolosis di Surade, yang merekomendasikan 4 strategi pengendalian penyakit, yaitu: (1) tidak menggembalakan sapi/kerbau di sawah yang dekat pemukiman atau kandang sapi pada saat panen; (2) hanya memotong jerami padi pada 2/3 bagian atas, bila jerami ini akan d ipakai sebagai hijauan untuk sapi/kerbau; (3) mencampur kotoran sapi/kerbau dengan kotoran ayam/itik yang secara alami telah diinfeksi Echinostoma revolutum, bila kotoran ini akan digunakan sebagai pupuk; (4) pengobatan dengan triclabendazole cukup satu kali setahun, yaitu pada bulan Juli atau sekitar 6 minggu setelah panen pada musim tanam terakhir. Survei pertama dilakukan pada bulan Januari 1996 untuk menentukan/menetapkan tingkat pengetahuan peternak tentang fasciolosis. Kemudian penyuluhan dilakukan pada bulan Pebruari segera setelah dilakukan penanaman padi pada musim tanam terakhir di empat desa. Dalam penyuluhan digunakan berbagai media seperti pembagian leaflet kepada setiap peternak, pemasangan poster di tiap desa, dilanjutkan dengan penyuluhan dan diskusi kelompok peternak pada tiap desa. Rekaman dalam bentuk kaset yang berisi wawancara antara peternak dan petugas penyuluhan diberikan kepada setiap kelompok peternak di tiap desa. Selain itu,

penyuluhan disiarkan juga melalui stasiun radio setempat. Pada bulan Agustus dilakukan survei terakhir untuk mengetahui adanya peningkatan pengetahuan dan perilaku peternak terhadap fasciolosis setelah diberi penyuluhan. Dalam menganalisis setiap tahap kegiatan digunakan hirarkhi Bennett. Berdasarkan analisis tersebut diketahui bahwa hanya 2 strategi pengendalian penyakit yang dapat diterima peternak, yaitu memotong jerami padi 2/3 bagian atas jika akan digunakan sebagai pakan ternak dan tidak menggembalakan sapi/kerbau di sawah dekat pemukiman atau kandang sapi pada saat panen. Dua strategi tersebut dari segi sosial dan ekonomi lebih menguntungkan dibandingkan dengan 2 strategi lainnya.

 

Kata kunci : Pengendalian fasciolosis, program penyuluhan, sapi, kerbau

 

12           mfn=001784

Kusumaningsih, Anni; Martindah, E.; Bahri, S. (Balai Penelitian Veteriner, Bogor).The Delivery of veterinary medicines on the commercialm poultry farms in West Java and Jakarta. Hemera Zoa. (1997). Vol.79(1-2), p. 79-80.

                                                              ABSTRACT

Sebuah studi tentang pengiriman obat-obatan hewan pada unggas komersial

peternakan, yaitu peternakan broiler dan layer, dilakukan di Jawa Barat dan Jakarta,

dimana populasi broiler dan layer relatif tinggi. Lokasi provinsi Jawa Barat meliputi lima kabupaten:  Sukabumi, Bogor, Tangerang, Cianjur dan Bandung, sedangkan Jakarta meliputi jakarta Selatan dan Timur. Data dikumpulkan dengan wawancara

dan mengisi kuesioner yang dirancang untuk mengidentifikasi ketersediaan

dan permintaan obat-obatan di peternakan. Informasi tentang bagaimana obat-obatannya dipasok dan digunakan serta jenis dan jenis obat itu sendiri juga

dikumpulkan. Peternakan tersebut dalam penelitian ini diklasifikasikan menjadi tiga kategori, peternakan skala kecil adalah petani yang memiliki kurang dari 5.000 burung, peternakan skala sedang petani yang memiliki antara 5.000 hingga kurang dari 100.000 burung, dan skala besar peternakan memelihara lebih dari 100.000 burung. Hasilnya menunjukkan bahwa 86,8% peternakan lapisan dan 53,3% peternakan broiler mendapat distributor / importir sedangkan peternakan scall layer besar 100% Ini juga terjadi di peternakan broiler, yang merupakan 68,7% dari skala menengah dan 100% dari peternakan broiler skala besar mendapatkan obat-obatan langsung dari fistributor / importir. Namun, hanya 33,3% dan 30,8% dari lapisan skala kecil dan peternakan broiler masing-masing yang mendapat obat-obatan langsung dari distributor / importir.

 

 

13           mfn=001375

Kusumaningsih, Anni; Martindah, Eny; Bahri, Sjamsul(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Jalur pemasaran obat hewan pada peternakan ayam ras di beberapa lokasi di Jawa Barat dan DKI Jaya. Hemera Zoa. (1997).Vol.79(1-2) p.72-80.

                                                               ABSTRAK

Suatu penelitian lapang telah dilakukan untuk mengetahui  jalur pemasaran/peredaran obat hewan pada peternakan ayam ras petelur (Layer) dan pedaging (Broiler) di beberapa lokasi di Jawa Barat dan DKI jaya, yaitu Kabupaten Sukabumi, Bogor, Tangerang, Cianjur dan Bandung (Jawa Barat), Sedangkan DKI jaya meliputi Kotamadya Jakarta Selatan dan Kotamadya Jakarta Timur. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara dan pengisian kuesioner, yaitu meliputi bangsa dan jumlah ayam yang dipelihara, serta cara mendapatkan obat-obat hewan baik sediaan farmakologik, sediaan biologik, maupun premiks. Pada penelitian ini skala usaha peternakan digolongkan ke dalam 3 kategori, yaitu skala usaha kecil dengan pemilikan 5.000 ekor ayam, skala usaha sedang dengan pemilikan antara 5.000 sampai kurang dari 100.000 ekor ayam, dan skala usaha besar dengan pemilikan sama dengan atau lebih dari 100.000 ekor ayam. Dari hasil yang diperoleh ternyata 86,6% peternak layer dan 53,3% peternak broiler mendapatkan obat hewan langsung dari distributor /importir. Hampir semua peternak layer dengan skala usaha sedang (96,6%) dan seluruh peternak dengan skala usaha besar (100%) langsung memperoleh obat-obatan dari distributor/importir. Hal yang sama terjadi pada peternak broiler, dimana 68,7% merupakan peternak dengan skala usaha sedang dan 100% peternak dengan skala usaha besar. Untuk peternakan kecil hanya 33,3% peternakan layer dan 30,8% peternakan broiler yang mendapat suplai obat hewan langsung dari distributor/importir.

 

14           mfn=001374

Kusumaningsih, Anni; Hardjoutomo, Suprodjo(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia).Tuberkulosis sapi potong di kabupaten padat ternak di Jawa Timur dan Jawa Tengah.Hemera Zoa. (1997). Vol.79(1-2) p.13-21.

                                                            ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian lapang terhadap tuberkulosis pada sapi potong di 3 kabupaten di Jawa Timur (Ngawi, Magetan, dan Madiun pada bulan Juli 1995 dan di 3 kabupaten di Jawa Tengah (Rembang, Blora dan Pati) pada bulan Januari 1996. Dari setiap kabupaten dipilih 3 kecamatan dan dari setiap kecamatan dipilih 2 desa untuk di teliti. Penentuan lokasi penelitian tersebut berdasarkan metode purposif. Dalam penelitian ini digunakan uji tuberkulinasi dengan suntikan tunggal tuberkulin pada lipatan kulit pangkal ekor. Secara keseluruhan telah diuji sebanyak 641 ekor sapi potong, yang terdiri dari 113 ekor sapi kereman dan 528 ekor sapi yang dipelihara secara tradisional. Sapi-sapi sempel penelitian tadi dibagi menjadi 3 kelompok berdasarkan tingkat umur, yakni kelompok dewasa, kelompok muda dan kelompok anak. Dari keseluruhan sapi yang dituberkulinasi tersebut (641 ekor) ternyata tidak ditemukan seekorpun sapi reaktor. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tuberkulosis sapi potong tidak ditemukan di 12 Desa di Jawa Timur dan Jawa Tengah yang di teliti.

 

Kata kunci : Tuberkulosis, sapi potong, Jawa Timur, Jawa Tengah

 

15           mfn=000951

Kusumaningsih, Anni(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)).

Kontrol biologi terhadap penyakit cacing nematoda saluran pencernaan ruminansia dengan kapang nematofagus. MAJALAH PARASITOLOGI INDONESIA.

(1997). V .10(2) p.78-85.

                                                    

16           mfn=001564

Kusumaningsih, Anni; Murdiati, Tri Budhi; Bahri, Sjamsul(Balai Penelitian Veteriner, Bogor).Pengetahuan peternak tentang waktu henti obat dan hubungannya dengan residu antibiotika pada susu.Media Kedokteran Hewan. (1996). Vol.12(4) p.260-267.

 

17           mfn=001562

Murdiati, Tri Budhi Kusumaningsih, Anni; Martindah, Eny; Balai Penelitian Veteriner Bogor).Pemakaian obat tradisional untuk sapi perah.Prosiding Simposium Penelitian Bahan Obat Alami VIII. Bogor.24-25 Nopember 1994. p.235-238. Bogor.Perhimpunan Peneliti Bahan Obat Alami (PERHIPBA) kerjasama dengan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (BALITTRO). (1996).

                                                              ABSTRAK

Seperti halnya pemakaian obat tradisional untuk kesehatan manusia, pemakaian obat tradisional untuk kesehatan hewan telah diketahui sejak lama secara turun menurun. Dari suatu penelitian lapangan terhadap peternakan sapi perah di Jawa Barat dan DKI Jakarta ditemukan bahwa 72,13% dari peternak mempergunakan obat tradisional yang diracik sendiri. Sedangkan sebanyak 62,30% mempergunakan obat tradisional yang ada di pasaran yang berbentuk jamu bungkus, dan 13,11% peternak mempergunakan keduanya baik jamu bungkus atau racikan sendiri. Dari penelitian ini terungkap bahwa obat tradisional memegang peranan penting dalam sistem kesehatan hewan.

18           mfn=000813

Sukarsih; Kusumaningsih, Anni(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)).Infestasi tungau pada lebah madu Apis mellifera dan upaya penanggulangannya.Prosiding Temu Ilmiah Nasional Bidang Veteriner. Bogor. 12 - 13 Maret 1996.p.213-216.

                                                           ABSTRAK

Beberapa penyakit yang dijumpai pada lebah madu diantaranya disebabkan oleh bakteri, fungsi, firus dan parasit. Gangguan yang paling utama pada peternakan lebah madu di indonesia adalah adanya infestasi tungau, Tropilaelaps claeare dan Varroa jacobsoni. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan tiga macam perlakuan memakai campuran belerang, kamper dengan komposisi 4 gram belerang + 2 gram kamper untuk pemberantasan T. claeare dan V. jacobsoni  pada lebah madu Apis mellifera. Untuk penelitian ini dipakai 4 kelompok yang mendapat perlakuan yang berbeda, setiap bulan, setiap 2 minggu, setiap minggu sekali dan kelompok kontrol. Masing-masing kelompok dengan 5 kali ulangan. Pengamatan dilakukan pada waktu sebelum perlakuan dimulai kemudian setiap bulan sekali selama 3 bulan. Untuk perhitungan derajat infestasi tungau, pada setiap pengamatan diambil sebanyak 500 larva pada setiap koloni. Hasil penelitian ini menujukan bahwa derajat infestasi T. claeare dan V. jacobsoni yang mendapat perlakuan berbeda nyata dengan kelompok kontrol  (P <0.05). Campuran belerang-kamper yang diberikan setiap satu minggu menunjukan penurunan infestasi

  1. claeare yang berbeda nyata dengan pemberian setiap bulan (P <0.05). Sedangkan pemberian setiap dua minggu tidak menunjukan perbedaan yang nyata baik pemberian setiap minggu maupun setiap bulan (P <0.05). Infestasi V. jacobsoni tidak menunjukan hasil yang berbeda nyata diantara ketiga perlakuan tersebut. Dilihat dari infestasi sebelum dan sesudah perlakuan dilakukan, ternyata hasil penelitian ini menunjukan bahwa pemberian setiap 2 minggu efektif dan ekonomis untuki pemberantasan T. claeare. Sedangkan untuk pemberantasan V. jacobsoni campuran belerang-kamper kurang efektif. Hal ini dapat dilihat dari infestasi V. jacobsoni yang masih cukup tinggi dari setiap perlakuan hingga pengamatan yang terakhir.

 

Kata kunci : A. mellifera, T. claeare, V.jacobsoni

 

19

                mfn=000809

Manurung, J.; Kusumaningsih, Anni(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)).Pengaruh kudis pada kambing terhadap minat peternak untuk beternak kambing di Desa Cigombong dan Desa Srogol Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.Prosiding Temu Ilmiah Nasional Bidang Veteriner. Bogor. 12 - 13 Maret 1996.p.195-199.

                                                                     ABSTRAK

Telah dilakukan studi kasus di Desa Cigombong dan Desa Srogol. Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Untuk mengetahui kudis pada kambing terhadap minat peternak untuk memelihara ternak tersebut. Pengambilan data dilakukan dengan cara pengisian kuesioner dan wawancara. Dari hasil yang diperoleh diketahui bahwa dari 15 dari 30 peternak (50%) peternak di kedua desa tersebut pernah mendapatkan bantuan kambing PE dari pemerintah. Sebanyak 11 dari 30 (36,7%) peternak melaporkan bahwa kambingnya pernah terserang kudis, tetapi hal ini tidak mempengaruhi minat mereka untuk membudidayakannya (P,0,05%) Hal ini disadari karena manfaat memelihara kambing jauh lebih besar daripada kerugian akibat serangan kudis. Manfaat tersebut dapat menambah penghasilan, hobi, sebagai tabungan dan lain-lain. Untuk penanggulangan penyakit kudis dapat dilakukan pencegahan dengan meningkatkan kebersihan kandang dan lingkungan, serta bagi kambing yang telah terserang kudis dapat dilakukan pengobatan selagi serangan kudis masih ringan.

 

Kata kunci : scabies, minat memelihara kambing

20           mfn=000970

Kusumaningsih, Anni; Sukarsih(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)).Tingkat infestasi tungau-tungau Tropilaelaps clareae dan Varroa jacobsoni pada lebah madu Apis mellifera milik Apiari Pramuka di Desa Titisan, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat. MAJALAH PARASITOLOGI INDONESIA. (1995).V .8(2) p.47-53.

                                                             ABSTRAK

Hastiono, S. dan R. Z. Ahmad. 1995. Isolasi Aspergillus amstelodami  dari pekan dan beberapa komponennya, khususnya jagung dan dedak. Maj parasitol. Ind. 8 (2): 59 – 64. Aspergillus amstelodami  merupakan kapang patogenik dari kelompok Aspergilus glaucus, dan termasuk salah satu penyebab Aspergillosis penting pada unggas di samping A. funsigatus, A. flavus, A. niger, A. terreus dan A. Nidulans.  Kapang A. amstelodami  ini telah berhasil diisolasi dari organ tubuh penderita aspergilosis, baik pada ayam, berbagai jenis burung atau unggas lain. Biasanya kapang yang selalu dapat diisolasi dari organ tubuh unggas yang didiagnosis positif aspergillosis adalah A. funsigatus, A. flavus, dan A. niger. Kapang yang disebut  terakhir ini sering juga dapat diisolasi dari pakan, komponennya dan alas kandang. Dalam suatu studi untuk mengisolasi kapang patogenik dari pakan dan komponennya yang dikoleksi dari perusahaan dan toko pakan ternak di daerah Bandung, Bogor dan sekitarnya, A. amstelodami ini telah berhasil diindentifikasi dan diisolasi dari pakan broiler, jagung giling, tepung jagung dan dedak. Penemuan ini merupakan petunjuk bahwa jagung, dedak dan pakan berkadar jagung tinggi dapat dipandang sebagai subrat yang baik bagi pertumbuhan kapang ini, dan dalam keadaan tertentu, populasi yang tinggi dari kapang ini memberi peluang cukup besar bagi terjadinya aspergillosis pada unggas, sehingga perlu diwaspadai.

 

*Disampaikan pada Seminar Parasitologi Nasional VII dan Kongres P4I VI

di Denpasar, Bali, 23-25 Agustus 1993