JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

KUMPULAN KARYATULIS ILMIAH Dr. Ngepkep Ginting 1972-1995

1              mfn=002085

Ngepkep,Ginting; Arifin,Zainal; Berliana(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)).Pengaruh Interaksi Dosis Aflatoksin Dan Tingkat Triptofan Terhadap Gambaran Darah Broiler.Kongres Nasional Perhimpunan Mikologi Kedokteran Manusia dan Hewan Indonesia I dan Temu Ilmiah.Bogor 21-24 Juli 1994.(1995).p.259-268.

 

Abstrak

limbah peternakan akhir-akhir ini menjadi masalah lingkungan yang banyak dibicarakan,Sehingga banyak pihak yang terlibat dalam menanganinya. Pembangunan masa kini adalah pembangunan yang berwawasan lingkungan dan telah menjdai kewajiban bagi setiap perusahaan seperti pabrik dan usaha peternakan untuk melaksanakannya.Karena usaha semacam itu akan mengandung risiko perubahan lingkungan dan pencemaran tinggi,Sehingga akan mempengaruhi ekosistem yang menjadi penunjang kualitas lingkungan hidup.

2              mfn=001785

Ginting, Ngepkep (Balai Penelitian Veteriner, Bogor).Kematian mendadak pada broiler.Hemera Zoa.(1993).Vol.76(1), p. 44-49.

 

Abstrak

Untuk menentukan penyebab kematian mendadak pada broiler, telah diadakan survei pada dua daerah ketinggian dan musim dengan model klasifikasi dua arch pola faktorial 2 (ketinggian) x 2 (musim). Diagnosis ditentukan berdasarkan anamnese, epidemiologi, gejala klinis dan autopsi. Hasil penelitian menunjuldcan bahwa kematian mendadak pada broiler sangat nyata (P < 0.01) dipengaruhi oleh musim kemarau dan tidak dipengaruhi oleh ketinggian tempat dan interaksi antara ketinggian tempat dan musim. Gejala klinis tidak tampak pada saat satu menit sebelum mati. Ayam yang terserang menunjukkan kehilangan keseimbangan, konvulsi dan tiba-tiba mau terbang. Pada umumnya ayam mati telentang dengan satu kaki atau keduanya menjulur ke atas akan tetapi kadang-kadang ada juga yang mati pada sisi kiri atau kanan. Pada autopsi tampak keadaan gizi ayam baik dan slat pencemaan bagian depan penuh dengan pakan. Hati membesar, pucat dan kenyal serta kantong empedu kosong.

Kata kunci : kematian mendadak, broiler, musim, ketinggian, klinis, autopsi.

3              mfn=001788

Ginting, Ngepkep.(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)).Pengobatan kudis (Sarcoptes Scabiei) dengan ivomec pada kambing (Laporan kasus).Hemera Zoa.(1993).Vol.76(1) p.50-54.

 

Abstrak

Untuk mengetahui efikasi ivomec terhadap penyakit kudis pada kambing  maka telah diadalcan penyuntikan terhadap 9 ekor kambing yang terserang kudis dalam dua tahap. Penyuntikan tahap pertama terdiri dari 4 ekor dan tahap kedua terdiri dari 5 ekor kambing. Inomec disuntiklcan tiga kali, selang 20 hari di bawah kulit pada leher dengan dosis 1 m1/50 kg berat badan. Ternyata hasil pengobatan tahap pertama dan kedua sama yaitu ivomec dapat menyembuhkan kudis pada kambing setelah 60 hari. Semua kondisi.kambing tampak maju pesat ditandai dengan pertumbuhan bulu dan kulit yang telah kembali seperti semula. Kata kunci : Sarcoptes scabiei, kudis kambing, pengobatan, ivomec.

4              mfn=000333

Ginting, Ngepkep; Arifin, Zainal(Balai Penelitian Veteriner, Bogor(Indonesia)).Hubungan antara berbagai dosis AFB1 dengan berat karkas, berat organ tubuh, jumlah PCV dan eritrosit broiler.PENYAKIT HEWAN.(1993).Vol.25(45) p. 56-60

 

 Abstrak

Untuk mengetahui hubungan antara dosis AFBI dengan berat karkas, berat organ tubuh, jumlah PCV den eritrosit broiler maka diadakan percobaan dengan rancangan acak lengkap dengan perlakuan terdiri dari 3 dosis AFBI ysitu 0,025 mg/kg beret badan, 0,075 rng/kb berat badan den 0,300 mg/kg berat badan serta air aqua steril sebagai kontrol (0,000 mg/kg berat badan) . Aflatoksin BI den air aqua diberikan setiap hari dengan carer dicekkokan dari umur satu had sampai umur 35 hari . Ulangan empat den setiap ulangan terdid dari 4 ekor ayam. Bprat karkas, organ tubuh den jumlah PCV serta eritrosit ditemukan pada hari ke 35 . Hasilnya adalah ditemukan hubungan antara kenaikan dosis AFBI dengan penunman berat karkas, jumlah PCV den eritrosit broiler merupakan regresi linier dengan korelasi negatif. Sedangkan hubungan antam kenaikan dosis AFBI dengan kenaikan berat hati, jantung, limps, ginjal den pankreas broiler meupakan regresi linier dengan korelasi positif. Kata kund: aftatoksi BI . karkas . hati, jantung, limps, ginjal pancreas, PCV,eritrosit, broiler.

            

5              mfn=000253

Darmono; Ginting, Ngepkep; Sudarisman(Balai Penelitian Veteriner,Bogor(Indonesia))Penyakit Pada Sapi Madura dan Penelitian Penyakit Yang Telah Dilakukan.Pertemuan Ilmiah Hasil Penelitian dan Pengembangan Sapi Madura.Sumenep.11-12 Oktober 1992.p.55-58.Proceedings Pertemuan Ilmiah Hasil Penelitian dan Pengembangan Sapi Madura.Grati.Sub Balai Penelitian Ternak Grati.1993.

 

 

             

6              mfn=000356

Sumanto; Juarini(Balai Penelitian Ternak, Ciawi (Indonesia)Ginting,Ngepkep(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)).Analisis dampak lingkungan usaha peternakan ayam ras pedaging dikecamatan Sawangan, kabupaten Bogor.PENYAKIT HEWAN.(1992).Vol. 24(43A), Edisi khusus p. 44-48.

 

Abstrak

Sumanto, E.Juarini dan Ng.Ginting. 1992. Analisis dampak lingkungan usaha petemakan ayam ras pedaging di Kecamatan Sawangan, Kabupaten Bogor. (Suatu tinjauan sosial ekonomilc). Penyakit Hewan 24 (43A): 44-48. Suatu analisis dampak lingkungan usaha petemakan ayam ras pedaging telah dilakukan di Kecamatan Sawangan, Kabupaten Bogor. Hasil survei menunjukkan bahwa masyarakat sekitar belum merasa tercemari atau terganggu perubahan kondisi air sumur, suara gaduh dan terjadinya konflik sosial. Tetapi pengaruh yang sering dikeluhkan adalah adanya bau kotoran temak (93 %) dan adanya debu saat ayam ditangkap untuk dipasarkan. Bau yang ditimbulkan temyata berpengaruh terhadap selera makan penduduk sekitar atau tamu/saudara yang datang. Tetapi usaha ini jugs berdampak positif bagi masyarakat sekitar, diantaranya memberi tambahan kerja, menumbuhk an pekerjaan di bidang lain; misalnya membuat keranjang angkutan temak dan membantu kegiatan bidang sosial setempat.  Kata-kata kunci : petemakan ayam, bau, pengaruh lingkungan

   

7              mfn=000359

Darmono; Murdiati, Tri Budhi; Ginting, Ngepkep(Balai Penelitian Veteriner,Bogor (Indonesia)).Environmental impact of dairy cattle farms in DKI Jakarta and East Java:mineral.Analisis dampak lingkungan pada peternak sapi perah di DKI Jakarta dan Jawa Timur:mineral.PENYAKIT HEWAN. (1992).Vol. 24(43A), Edisi khusus p. 61-65.

 

Abstrak

Darmono,T.B. Murdiati, Yuningsih dan Ng, Ginting. 1992. Analisis dampak lingkungan pada peternakan sapi perah di DKI Jakarta dan Jawa Timur: Mineral. Penyakit Hewan 24 (43A):61-65 Penelitian kandungan mineral dalam air lingkungan pada peternakan sapi perah telah dilakukan dijakarta timur dan Malang, Jawa Timur. Sampel air diambil dari sumur atau sumber air lainnya yang digunakan penduduk dan air limbah yang berasal dari peternakan sapi perah. Semua sampel dianalisis kandungan Ca, Mg, Fe, Cu, Zn, Mn, Pb, S2, Ci1, SO4 dan P, dengan menggunakan metode spektrofometri serapan atom(AAS),cololimetri atau titrasi.hasil penelitian menunjukan bahwa kandungan sulfide pada semua sempel air terlihat lebih tinggi daripada kualitas air yang dibakukan, sedangkan kandungan mineral lain terlihat lebih rendah dari standar baku mutu air. ditinjau dari kandungan mineral dapat disimpulkan bahwa sulfidakemungkinan merupakan pencemar utama dari usaha peternakan sapi perah ini.

kata-kata kunci:sapi perah, lingkungan, mineral, DKI Jakarta, jawa timur

            

8              mfn=000360

Yuningsih; Murdiati, Tri Budhi; Darmono; Ginting, Ngepkep(Balai Penelitian Veteriner,Bogor (Indonesia)).[Analisis of water quality in the environment of broiler farm in Desa Pasir Putih Sawangan, Kabupaten Bogor.].Analisis kualitas air di lingkungan usaha peternakan ayam ras di Desa Pasir Putih Sawangan, Kabupaten Bogor. (1992).Vol. 24(43A), Edisi khusus p. 66-70.

 

Abstrak

Yuningsih, T.B Murdiati,Darnono dan Ng.Ginting.1992.Analisis kualitas air  di  dingkungan usaha perternakan ayam ras didesa pasir putih,Sawangan,Kabupaten Bogor.Penyakit Hewan 24(43A):66-70. Salah satu akibat perembesan air limbah peternakan yaitu terjadinya kontaminasi sumber air penduduk disekitarnya. Dalam penelitian ini dicoba menganalisis kualitas air secara fisika dan  kimia.sample air yang berasal dari beberapa sumber air peternakan,air limbah dari salah satu peternkan dan dari sumber air sumur penduduk di sekitar peternakan tersebut yang berlokasi di desa pasir putih, sawangan. kabupaten bogor. hasil pengamatan menunjukan bahwa lima sampel dari lima peternakan mempunyai kualitas air di bawah nilai baku mutu air yang diperbolehkan(baku mutu air golongan C ), kecuali dua sampel mengandung plumbum (pb)yang tinggi, kemudian,air limbah dari salah satu peternakan tersebut mempunyai nilai kualitas dibawah nilai baku mutu air limbah golongan IV, kecuali kandungan klorida nya tinggi depuluh sampel air dari sumur penduduk di sekitarnya mempunyai nilai kualitas air rata-rata dibawah nilai maksimum yang diperbolehkan(baku mutu air golongan B).

kata-kata kunci:dampak lingkungan, kualitas air, uji fisika, uji kimia, peternakan ayam

       

9              mfn=001051

Ngepkep, Ginting(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia).Research priorities in smal ruminant health.Sheep and goats research for development.Bogor, West Java ,October 18-19, 1989.p.57-65.Proceedings of Workshop Sheep and Goats Research for Development.Bogor.AARD Small Ruminant-Collaborative Research Support Program.1992.

 

10           mfn=001903

Ginting,Ngepkep (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia).The Agricultural Reserch Management Project At The Research Institute For Veterinary Science,Indonesia.International Seminar on Livestock Services For Smallholders.Bogor.15-21 November 1992.p.63-63.Bogor.Organised by The Indonesia International Animal Science Research and Development Foundation.(1992).

               

Abstrak

a critical evaluation of the delivery  of animal health and production services to the small-scale farmer in the developing world problem  identification planing and priorities problem resolution November 15-21, 1992 Yogyakarta, Indonesia   1992

11           mfn=000321

Arifin, Zainal; Ginting, Ngepkep; Safuan, Agus(Balai Penelitian Veteriner,Bogor (Indonesia))Berliana (Institut Pertanian Bogor (Indonesia)).Korelasi antara aflatoksin dan seng (Zn) serta tembaga (Cu) dalam serum darah ayam.Penyakit Hewan.(1992).Vol. 24(44) p. 136-138.

 

Abstrak

Arifin Zainal, Ng. Ginting, Berliana dean Agus Safuan, 1992. Korelasi antara aflatoksin dengan sang (7n) dean tembaga (Cu) dalam serum darah

ayam. PenyakitHewan 24(44) :136-138 .

Telah dilakukan penelitian tentang korelasi antara aflatoksin dengan Zn dean Cu dalam serum darah syam. Perlakuan yang diberikan dengan menggunakan syam jenis starbro, mulai umur wharf diberikan aflatoksin 0,5 dean 1,0 mg AFB: per berat badan &yam setiap hari . Data dianalisis dengan meaggunakan metode persamaan regresi dean korelasi. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa korelssi .positif nysta (P<0,05) antam aflatoksin dengan seng (Zo), tetapi korelasi antara aflatoksin dengan tembaga tidak nyata (P>0,05).

Kata-kata kund: Aflatoksin Bi, Aspergillusfavus, seng, tembega, syam.

 

12           mfn=000995

Bahri, Sjamsul; Zahari, Paderi; Maryam, Romsyah; Ginting, Ngepkep(Balai Penelitian Veteriner, Bogor(Indonesia))Residu aflatoksin M1 pada susu sapi asal beberapa daerah di Jawa Barat.Kumpulan Makalah Anggota PDHI Cabang Jawa Barat II, Bogor padaKongres XI dan Konferensi Ilmiah VPDHI.Yogyakarta.11-13 Juli 1991.11 p.Bogor.PDHI Cabang Jawa Barat II.1991.

 

Abstrak

Adanya pencemaran aflatoksin pada pakan ayam diindonesia menimbulkan dugaan bahwa pakan ternak lainnya(seperti pakan sapi perah) kemungkinan juga telah banyak tercemar aflatoksin M1 pada susu yang dihasilkannya. Pada kesempatan ini telah dilakukan pengamatan terhadap residu aflatoksinM1 (AFM1) pada 97 sample susu besar dari beberapa daerah dijawa barat.Analisa AFM1 dilakukan dengan menggunakan khromatografi cair kinerja tinggi (HPLC). Hasil yang diperoleh memperlihatkan bahwa sekitar 75% (73 dari 97 sampel) positif mengandung AFM1 dengan kadar yang bervariasi dari 0,04 – 5,91 pbb dan nilai rata-ratanya 0,4 pbb. Sekitar 18% (13 dari 73 sampel yang positif) Mempunyai kadar diatas batas ambang (0,5 pbb) menurut standar FDA,Sedangkan sisanya 82% (60 dari 73 sampel positif asal kabupaten bandung ,20% (2 dari 10 ) sampel positif asal kabupaten sukabumi dan 6%(1 dari 17)sampel positif asal kabupaten bogor asal kodya bogor dan kotip depok kadar afm1 yang terdeteksi masih dibawah batas ambang tetepi perlu terus dipantau untuk waktu-waktu yang akan datang.

 

13           mfn=000192

Darmono; Bahri, Sjamsul; Ginting, Ngepkep; Stoltz,D.R.;Ronohardjo,Purnomo (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)).[Potential mineral deficiency diseases of Indonesian ruminantlivestock:].[zinc].Penyakit Hewan.(1988).Vol.20(35) p.42-46.

 

Abstrak

Two studies on zinc status of Indonesian ruminants are presented. Most serum zinc levels of slaughterhouse buffalo and grazing sheep fell into the marginal zone, less than 0.8 ppm but above 0.4 ppm, suggesting suboptimal zinc status . It is concluded that further study of ruminant zinc status is warranted.

 

14           mfn=001463

Ginting, Ngepkep(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia) Acute Experimentally Induced Anatoxicosis in Broiler Chicken. Proceedings of the Sixth Congress Federation of Asian Veterinary Associations (FAVA).Denpasar-Bali Indonesia October 16-19, 1988.p.275-279.Denpasar.Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia.

 

Abstrak

Sixty day-old unsex broiler chickens (starbro) were given single oral dose of aflatoxin B1 (AFR 1) to determine the acute aflatoxicosis (LD 50) and the pathology of aflatoxicosis. Dosages were : 0, 1, 2 and 3 mg/kg of body weight. Clinical signs,mortality, gross lesions and histopathologic changes in liver tissues were monitored for two weeks. Clinical signes were pale comb, innapetcance, weight loss, ataxia, recumber and rough feathers. The young broiler chickens, however,, bas a AFBI LD50 of 1.28 mg/kg body weight. The livers were enlarged and pale or discoloured. Kidneys were enlarged. pale or congested with a few petechial haemorrhanges. Breast, thigh and leg musculatures revealed petechial haemorrhanges. However, the pancreas was enlarged. Histopathologically the livers were congested, with cloudy swelling, fatty vhange, biliary hyperplasia and necrosis. 1988

15           mfn=000159

Ginting,Ngepkep (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Gambaran darah ruminansia di pulau Jawa.Penyakit Hewan.(1987).

 

Abstrak

Every year during the period 1983-1985, 50 blood samples each of Ongoles, Friesian Holsteins, buffalo, sheep, goats and Madura cattle were collected. Samples were analysed for blood parameters by the microhaematocrit centrifuge, Coulter counter, Coulter haemoglobinometer and Sahli technique. The significance of the difference between the means was assessed by student's t-test, and its regression and correlation were defined. The means of packed cell volume, haemoglobin concentration, red blood cell, white blood cell, neutrophil, lymphocyte and eosinophil counts were : 33,5%, 11,5% mg %, 6,5 x 106/ml, 9 x 103/ml, 30%, 60% and 8% in the Ongoles; 29,5%, 10 mg %, 5,75 x 106/ml, 7,7 x 103/ml, 24%, 69% and 6% in the Friesian Holsteins; 35%, 12 mg %, 6 x 106/ml, 9,5 x 103/ml, 30%, 64% and 6% in buffalo; 30%, 11 mg %, 10 x 106/ml, 9 x 10 3/ml, 42%, 49% and 8% in sheep; 30%, 11 mg %, 10 x 106/ml, 11 x 10 3/ml, 46%, 50% and 4% in goats and 31,8%, 11,31 mg %, 6,29 x 106/ml, 6,65 x 103/ml, 27%, 67% and 5% in the Madura cattle . There were seasonal and environmental variations in certain haematological constituents in the blood of all animals examined and the differences were statistically highly significant (P <0.01). There was no significant difference between the mean haemoglobin concentration measured by the Coulter haemoglobinometer and the Sahli technique. However, the haemoglobin concentration measured by the Coulter haemoglobinometer correlated (r = 0,951 in cattle, r = 0,907 in buffalo, r = 0,841 in sheep and r = 0,933 in goat) significantly (P< 0.01) with the haemoglobin concentration measured by the Sahli technique.

        

16           mfn=000178

Ginting, Ngepkep (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)).Korelasi antara aflatoksin dan seng dalam jagung dan ransum ayam.Penyakit Hewan.(1987).V.19(34) p.94-96.

 

Abstrak

Several studies have suggested a possible correlation between aflatoxin contamination of chicken feed and zinc content. Similar, in vitro studies have shown a striking stimulation of aflatoxin production by zinc salts . The present study examined the relationship between aflatoxin and zinc in corn as well as in complete chicken diet since corn appears be a major contributor of aflatoxin to chicken feeds in Indonesia . Forty-eight chicken feed and fifty-three corn samples from Bogor were analysed by thin layer chromatography for aflatoxin and atomic absorption spectroscopy for zinc . Data were analysed by nonparametric methods and rank correlation and showed a significant correlation between aflatoxin and zinc in both corn and chicken feed . The zinc content of the chicken feed samples was about ten times the reported nutrient requirement for chickens and might influence the production of aflatoxin in mouldy formulated feeds.

 

17           mfn=000138

Ginting, Ngepkep (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)).Variasi kejadian dan kandungan aflatoksin pada anjing yang bersumber dari Tegal,Thailand dan Lampung pada satu pabrik makanan ternak di Bogor.Penyakit Hewan.(1986).Vol.18(31) p.79-81.

Abstrak

Thirty corn samples from three districts (Tegal, Thailand and Lampung) were analysed by thin layer chromate graphy (TLC) for aflatoxin to determine the variations of aflatoxin in the ese districts.Data was analized by student’s test. The incidenses of aflatoxin in these districts were 80%. 100% AND 100% and the mean aflatoxin contents of the corns samples from these districts were incidences of aflatoxin in these districts were 21.3 + 20.8,-46 + 8,9 and 194.6 + 72.7 pbb respectively. There was a highly significance difference (P < 0.01) between mean aflatoxin content of the corn samples from tegal and thailand and lampung, as well as between thailand from 25 to62,5 pbb and from lampung 57.5 to 250 pbb.The data suggests that 0.0 to 50 ppb, from Thailand from 25 to 62.5 ppb and from lampung 57.5 to 250 ppb. The data suggests that environmental factors, in addition to kernel damage, may strongly influence the ultimate levels of aflatoxin contamination in the prehavervest, at harvest of post harvest of the corn.

 

18           mfn=000140

Ronohardjo, Purnomo; Partoutomo, Sutijono; Hastiono, Sukardi;Ginting,Ngepkep; Poernomo, Sri (Research Institute for Animal Disease (RIAD).[The status of duck disease in Indonesia].Penyakit Hewan.(1986).Vol.18(31) p.86-93.

 

Abstrak

The demand for a nutritional standard of animal protein originating from livestock for the Indonesia population of 160 million is at 4 gr/capita/day. At present, this nation protein requirement has not been kept up yet by the provision of2.31 gr/capita/day,of which 52.3% have come from meat, 14,7% from milkand 23.0% from eggs. Ducks play an important role in making a contribution of eggs at 81.4 milion kg/year which represents 25.8% of the total number of eggs produced by chicken and the duck itself (Livvestock Statistick 1984).

 

19           mfn=000146

Ginting, Ngepkep (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Pemberantasan dan pencegahan caplak pada sapi dengan mempergunakan Rhodiacide 60 EC.PENYAKIT HEWAN.(1986).V .18(32) p.141-145.

 

Abstrak

Two critical spraying trials were carried out to compare the efficiency of ethion at wash concentrations of 0,03%, 0,06% and 0,09% ethion with the control at a wash concentration of 0,00%. A randomized complete block design was used for the curative trial while the preventive trial used a completely randomized design. Data were analyzed by performing analysis of variance, followed by orthogonal contrasts. There was no significant difference (P 0,05) in tick numbers between the dry and rainy season as well as between treatments with 0,03%, 0,06% and 0,09% ethion. However, there was a highly significant reduction (P < 0,01) between the control and treated animals and a significant reduction (P < 0,05) in tick numbers due to the interaction between the tick stage and ethion in both trials. There was no sifnificant difference in tick numbers due to tick stage in the curative trial, but a significant difference (P < 0,05) was found in the preventive trial. Both curative and preventive trials suggest that for the control of tick ethion should be best used at a wash concentration of 0,03% at eightteen day interval.

   

20           mfn=000098

Ginting, Ngepkep; Stoltz, D.R.; Yuningsih (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). [Toxicology testing performed at the Research Institute for Animal Diseases, Bogor, during 1983]. Diagnosis toksikologi pada Balai Penelitian Veteriner dalam tahun 1983. Penyakit Hewan. (1985). Vol.17(29) p.287-291.

 

Abstrak

one hundred and five samples were received at the Toxicology Section for analysis in 1983. Most of the samples came from West Java and East Java. Many samples were in transit too long to be analysed . Fifty on bovine samples were received,but only three from buffalo. The number of samples received per month fluctuated, but no causal factor was identified. The commonest type of sample received was rumen contentwhich was not always the most appropriate sample andit did not travel well.Seventy five percent of samples were not accompanied by a request for a specific analysis. It is stressed that the role of toxicological analysis is to confirm a tentative diagnosis. Problems in the diagnostic toxicology service are identified and suggestion made for improvements .

 

21           mfn=000100

Ginting, Ngepkep; Tarigan, Simson; Ramli, Gunawan;Maryam,Romsyah(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)).[Mineral content of the blood of cattle and buffaloes in Indonesia,with reference to deficiencies of Ca, Mg and Cu].Gambaran mineral serum darah sapi dan kerbau di SumateraBarat.Penyakit Hewan.(1985).Vol.27(29) p.297-300.

 

Abstrak

one hundred and four blood sera from cattle and buffaloes were analyzed by Atomic Absorption Spectroscopy to determine the level of Copper and Zinc, and by Spechophotometrictodetermine the level of Calcium, Phosphor and Magnesium. The cattle and buffaloes were divided into six group as follows : 14 unsupplemented Friesian Holstein cattle, 22 supplemented Friesian Holstein cattle, 13 local cattle, 24 imported buffaloes outside Bayang district. 18 imported in Bayang district and 13 local buffaloes. The highest hypocalcemia ( <8 mg%) was found in unsupplemented Friesian Holstein cattle (35.7%), and followed by supplemented Friesian Holstein cattle (31.8%) . Imported buffaloes and lokal cattle were found to be between 6 to 13% hypocalcemia,while local buffaloes were free from hypocalcemia. The highest hypomagnecemia (< 2 mg%) was found in local buffaloes (30.8%), followed by supplemented Friesian Holstein cattle (14.3%) while local cattle and imported buffaloes ranged between 8.3 to 11%. Unsupplemented Friesian Holstein cattle were free from hypogmanecemm However, copper deficiency (<0.5 ppm) was found in all cattle and buffa. loes with a percentage between 60 to 87.5%.

 

22           mfn=000104

Tarmudji; Ginting, Ngepkep (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)).[The efficacy of the insecticide Neporex 2 WSG against dipterouslarvae].Efikasi insektisida NEPOREX 2 WSG terhadap larva lalat (diptera) pada lantai kandang dan efeknya bagi kesehatan dan produksi telur ayam di sekitarnya.Penyakit Hewan.(1985).Vol.17(29) p.312-316.

 

Abstrak

NEPOREX contains cyromazine (CGA 72662), a synthetic insect growth regulator which is effective against dipterous larvae developing in manure of livestock. Semifleld and field studies to determine the efficacy of NEPOREX WSG 2 against Musca domestica and Hermetia remitten larvae were carried out at the Research Institute for Veterinary Science (BALITVET) and at a Commercial Poultry farm. Larvae of M, domestica in poultry manure in 20 house fly cages (25 x 25 x 35 em, each cage) were randomized sprayed with NEPOREX, with four dosages were 0.00 gr a.i./m2 (A), 0.25 gr a.f/m2 (B), 0.50 gr a.i/m2 (C) and0.75 gr a.i/m2 (D). The same dosages of NEPOREX also were randomized sprayed on 20 surface of floors under cages of chickens (1 .3 x 1.3 m square in each floor), which many larvae of H. re mitten (Diptera). Three days after treatment, more than 7096 of M, domestica larvae were found dead and misformed pupae (ir-regular, longer and thinner than normal'pupae), in the dosages C andD were found. Population densities of larvae H, remitters decreased with NEPOREX treatment and the dosage up to 0.75 gr a.i/m2, no clinical symptoms were found in chickens and eggs production were normal.

 

23           mfn=001442

Ginting, Ngepkep; Widiastuti, Raphaela; Sani, Yulvian; D.R. Stoltz((Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia)Blaney, Barry J.(Queensland Department of Primary Industries,Australia).Penelitian mikotoksin di balai penelitian veteriner.Pertemuan 1 Mikrobiologiwan ASEAN.Jakarta.2 - 4 Desember 1985.p.1-8.

 

Abstrak

Rata-rata kandungan aflatoksin (dihasilkan oleh Aspergilius Favun) pada musim hujan dan kemarau dari daratan rendah, sedang dan tinggi adalah 34ppb, Rata-rata pada musim hujan dari ketiga wilayah adalah 33,6 ppb sedangkan dimusim kemarau adalah 23,6 ppb. disetiap daerah ditemukan perbeddaan yang sangat nyata(p< 0,01) diantara rata-rata kandungan aflatoksin dimusim hujan da kemarau. Perbedaan yang sangat nyata tersebut ditemukan juga diantara rata-rata kandungan aflatoksin dataran rendah dan dataran tinggi.

             

24           mfn=000012

Ginting, Ngepkep(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Kaskado di Kalimantan Selatan. Wartazoa. (1984). Vol.1(3), p. 13-16.

 

Abstrak

Bubberman clan Kraneveld melaporkan adanya kaskado di Minahasa (Sulawesi) clan di Lampung (Sumatera) pada sapi sekitar tahun 1933 dengan lesio terutama pada leher, gelambir, gumba clan di sekitar mata (1) . Dua tahun kemudian, Kraneveld melaporkan kaskado pada kambing clan sapi di pulau Jawa, Sumatera clan pulau Belitung (2) . Pacla tahun yang sama Kraneveld melaporkan adanya kaskado di Makasar (Sulawesi) clan Sumbawa (Nusa Tenggara Barat) pada kerbau clan kambing (3) . Muchlis clan Sutijono menemukan cara pengobatan yang sangat efektif clan efisien terhadap kaskado clan myasis kuku pada sapi,yaitu dengan mempergunakan salep asuntol 2% (4) . Tulisan ini melaporkan situasi kaskado di Propinsi Kalimantan Selatan, dengan maksud untuk menambah data penyebaran penyakit tersebut di Indonesia, clan kemudian dapat dicari cara penclekatan yang paling baik untuk pencegahan clan pemberantasannya.

     

25           mfn=000069

GINTING, Ngepkep(Balai Penelitian Penyakit Hewan, Bogor (Indonesia)). [Aflatoxin in commercial broiler feed during the rainy and dry season: I. In the province of Bogor].Aflatoksin di dalam bahan baku pakan dan pakan ayam pedaging: I Di Daerah Bogor. Penyakit Hewan. (1984). Vol. 16 (27) p. 152-155.

 

Abstrak

Seventy nine samples of commercial broiler ingredients and complete diets in the rainy season and 92 samples of commercial'broiler ingredients and complete diets in the dry season were analysed for aflatoxins . Eight samples were found to contain aflatoxin at a concentration between .121 -140 ppb, nine samples between 81 - 100 ppb, seven samples between 61 - 80 ppb, nine samples between 41 - 60 ppb while 12 samples had between 21 - 40 ppb and 34 samples showed between 0 - 20 ppb in the rainy season . Six samples were found to contain aflatoxin at a concentration between 21 - 40 ppb and 86 samples showed 0 - 20 ppb in the dry season. In the positive samples 65,8%, nine samples showed the presence of bothBland B2 toxins, while two samples (out of 65,8%) contained only B2 toxin in the rainy season . In the dry season, four samples showed the presence of both B1 and B2 toxins from the positive samples (47,8%), while six samples (out of 47,8%) contained only B2 toxin . The maximum level of aflatoxin B1 was 125 ppb in the rainy season, rather than 37,5ppb in the dry season . The average level of aflatoxin Bl was 44,7 ppb in the rainy season, while 11,8 ppb in the dry season.

 

26           mfn=000074

Bahri, Sjamsul; Hamid, Helmy; Ginting, Ngepkep; Arifin, Zainal;Yuningsih(Balai Penelitian Penyakit Hewan, Bogor (Indonesia)). [Effect of bitter cassava (Manihot esculenta) on growth and thyroid glands in chickens].Pengaruh pemberian singkong pahit (Manihot esculenta) terhadap pertumbuhan dan keadaan kelenjar thyroid ayam pedaging.Penyakit Hewan.(1984). Vol. 16 (27) p. 173-178.

 

Abstrak

An experiment to study the effects of bitter cassava (Manihot esculenta) on the body growth rate and macroscopic and microscopic appearances of the Broiler chicken thyroid glands has been done at Balai Penelitian Penyakit Hewan, Bogor. The experimental diets contained bitter cassava at levels of 0%, 15% 30%, 45%, and 60%, and given daily to one day old chicks until the 7th week . The results showed mean body weight gain was decreased significantly by diet containing cassava more than 30% (P<0.05) . Thyroid weights were not affected by diet containing bitter cassava 15 to 60%q(P>0.05), but histological examination of thyroid glands from the group fed a 60% diet showed slight hyperplasia of epithelial cells and colloid deficiency in small follicles.

 

27           mfn=000080

GINTING, Ngepkep(Balai Penelitian Penyakit Hewan, Bogor (Indonesia)). [Aflatoxin in broiler feed from Daerah Khusus Ibukota, Jakarta region and Pontianak, West Kalimantan]. Aflatoksin pada pakan ayam pedaging di daerah khusus Ibukota Jakarta Raya dan Kotamadya Pontianak. Penyakit Hewan.(1984). Vol. 16 (28) p. 212-214.

 

Abstrak

Samples of broiler diets were collected from two areas with the same altitude, during the wet season and analyzed for aflatoxin contentby thin layer chromatography. Eight seven samples were from Jakarta and thirty one samples from Pontianak (West Kalimantan). The incidence of aflatoxin - contamination in diets was 85 and 64.5% respectively . The average aflatoxin levels in samples collected in Jakarta and Pontianak were 53 and 26 .5 ppb, respectively . There was a highly significant difference (P < 0 .01) in aflatoxin levels between the two areas, possibly due to environmental differences . 'there was no sample containing more than 200 ppb, the lowest level considered toxic for chickens.

 

28           mfn=000081

TARMUDJI; GINTING, Ngepkep(Balai Penelitian Penyakit Hewan, Bogor (Indonesia)). [Influence of Vegimax, a growth promoter, on clinical and pathological characteristics in broilers]. Pengaruh vegimax terhadap pertumbuhan, gejala klinik dan patologik ayam pedaging. Penyakit Hewan.(1984). Vol. 16 (28) p. 215-220.

 

Abstrak

A preliminary study using Vegimax, a growth stimulatant of animal (broiler chickens) was conducted at the Research Institute for Animal Diseases (BAKITWAN) from December 1983 to February 1984 . Vegimax was added to the drinking water at the levels of 0.0000% (a), 0.0025% (B), 0.0050% (C), 0.0075% (D) and 0,0100% (e). The results of the study showed that with same broiler ration, There were no significant increased in body weights between the five groups (P>0.05) . There were no clinical symptoms and no mortality occurred . The blood values were normal . No toxic substances were found in the different organs and tissues of slaughtered broilers drinking water with the highest (0.0100%) Vegimax level. Micros6opical examination of tissues from broilers in the groups B, C, D and E showed increased infiltration of lymphocyt cells in the sub mucous of the alimentary tractus (proventriculus) as the physiological reaction .  1984

 

29           mfn=000083

GINTING, Ngepkep (Balai Penelitian Penyakit Hewan, Bogor (Indonesia)).[Haematology of Holstein Friesian cattle in Bogor andPontianak]. Gambaran darah sapi Friesian Holstein di Bogor dan Pontianak. Penyakit Hewan. (1984).Vol. 16 (28) p. 224-227.

 

Abstrak

Ten adult female Friesian Holstein cattle were chosen at Bogor and Pontianak, respectively to study the haematology. Blood samples were collected twice with seven days interval, in the wet season . Red blood cells (RBC) and white blood cells (WBC) were estimated by Coulter-Counter method. Haemoglobin (Hb) was estimated by Haemoglobinometer, Packed Cell Volume (PCV) and leucocyte differentiation were estimated by haematocrit centrifugation technique and by looking the blood smear under ordinary microscope, respectively. Student's and Chi - Square tests were used to analyze these data . RBC, WBC, Hb and PCV of the Friesian Holstein cattle at Bogor were 6.1 x 106/ml, 4.9 x 103/ml, 14 .7 mg %and 33 .9%, respectively. The respective lymphocyte, eosinophil and neutrophil were 72 .6%, 5.8% and 21 .4% . RBC, WBC, Hb and PCV of the Friesian Holstein cattle at Pontianak were 5.1 x 106/ml, 7.7 x 103/ml, 11 mg % and 28%, respectively . However, the respective lymphocyte, eosinophil and neutrophil were 55 .6%, 13.6% and 31%. There was a highly significant difference (PG0.01) in RBC, WBC, Hb, PCV, lymphocyte, eorinophil and neutrophil between those areas but there was no significant difference between those data and data reported by Schalm et al. (1975).

 

30           mfn=000877

Ginting, Ngepkep(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Aflatoksikosis pada ternak itik.JURNAL PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN.(1984)V .3(1) p.17-19.

 

Abstrak

Aflatoksikosis adalah  suatu penyakit yang disebabkan oleh aflatoksin sejenis racun yang dihasilkan oleh cendawan Aspergillus flavus [1]. Aspergillus flavus dapat tumbuh secara baik di seluruh dunia terutama di daerah tropik dan subtropik karena kelembabannya. Di Indonesia banyak sekali bahan makanan yang sering dicemari oleh Aspergillus flavus yang menghasilkan aflatoksin antara lain bungkil kacang tanah, bungkil kelapa, jagung, tepung ikan dan tepung kedelai [5]. Menurut hasilpengamatan di Jawa Barat, aflatoksikosis banyak terdapat pada itik [4, 5] dan manusia [6]. Di luar negeri telah diteliti bahwa semua unggas peka terhadap aflatoksin terutama itik dan kalkun [3]. Aflatoksin dapat menimbulkan kanker hati baik pada ternak maupun pada manusia.

 

31           mfn=000004

Ginting, Ngepkep(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Aflatoksikosis pada ternak itik. Wartazoa. (1983). Vol.1(2), p.1-3.

 

Abstrak

Aflatoksikosis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh aflatoksin, yaitu sejenis racun yang dihasilkan oleh cendawan Aspergillus flavus (1). Aspergillus flavus tumbuh secara baik di seluruh dunia terutama di negara-negara tropik clan subtropik karena kelembabannya yang sangat sesuai. Di Indonesia banyak sekali bahan makanan yang sering dicemari Aspergillus flavus clan merighasilkan aflatoksin antara lain bungkil kacang tanah, bungkil kelapa, jagung, tepung ikan dan tepung kedelai (6) . Menurut hasil pengamatan di Jawa Barat, aflatoksikosis banyak terdapat pada itik (5, 6) dan manusia (7). Di luar negeri telah diteliti bahwa

semua unggas peka, terutama itik dan kalkun (4). Aflatoksin dapat menimbulkan kanker hati baik pada ternak maupu.n pada manusia.

 

32           mfn=000052

Ginting, Ngepkep (Balai Penelitian Penyakt Hewan, Bogor (Indonesia)). Marek's disease in Kedu chickens (case report). Penyakit Hewan.(1983). Vol.15(25) p.79-81.

Abstrak

Two cases of Marek's Disease (nerve and visceral) in Kedu chickens were examined . The main clinical signs were ataxia and paralysis of the legs . Macroscopic examination of one case revealed that the sciatic nerve was enlarged and grey in colour, and in the other case tumours were foun in the ovaries, liver and spleen . On histological examination pleomorphic lymphoid cells were found in the sciatic nerve of the first case and in the liver, ovary and spleen of the second case.

 

33           mfn=000053

Tarmudji; Ginting, Ngepkep (Balai Penelitian Penyakit Hewan, Bogor (Indonesia)). Derajat kerusakan hati akibat Fascioliasis pada sapi-sapi Friesian Holstein betina di Kabupaten Malang, Jawa Timur (suatu tinjauan histopatologik). Penyakit Hewan. (1983). Vol.15(25) p. 83-85.

 

Abstrak

Fifty cases of Fascioliasis ; n female Friesian Holstein cattle were studied with special reference to histopathological changes in the liver . The specimens were received in 1982 from Malang (East Java) and were examined on arrival at Balai Penelitian Penyakit Hewan. The changes were devided into three types, namely : low (+), medium (+ +) and high (+ + +) lesions . The frequency of the three types of lesions were : 2%u low, 30%u medium and 68% high lesions.

 

34           mfn=000039

Ginting, Ngepkep(Balai Penelitian Penyakit Hewan, Bogor (Indonesia)).Kasuskeracunan pakis pada kerbau. Penyakit Hewan. (1982).Vol.14(24) p.35-37.

 

Abstrak

From one farm at Bogor, 5 buffaloes died within a week . Bracken fern were being fed 25% to the buffaloes when some of them suddenly

developed frothing, fever, anorexia, depression, salivation, nasal and rectal bleeding, bloody urine, bleeding in the external mucous

membrane andenteritis with frequent blood clots in the faeces and died whithin 3 days. Samples of fodder and rumen contents without any

preservative were collected and analysed for alkaloid contents (spot test). The poisoning was evidenced by the high content of alkaloid in

fodder and rumen contents and haemorrhagic diathesis throughout the body and ulcer at the digestive tract.

        

35           mfn=000049

Tarmudji; Ginting, Ngepkep (Balai Penelitian Penyakt Hewan, Bogor (Indonesia)). Pengaruh Fermented Mother Liquid (FML) dan Cane Molasses (CM) pada ayam broiler, ditinjau dari aspek klinik dan patologik. Penyakit Hewan. (1982). Vol.14(24) p.55-59.

 

Abstrak

Apreliminary study using Fermented Mother Liquid (FML), a by-product from the manufacture of monosodium glutamate (Vetsin) by Ajinomoto as a partial substitute for Cane Molasses (CM) in broiler ration, was conducted at the RESEARCH INSTITUTE FOR ANIMAL DISEASE (BAKITWAN), Bogor, from July to September 1982 . FMLand CM were added to the ration at the level 0% + 0% (T,), 0% + 5% (T,), 1% + 4% (T,), 2% + 3% (T,), 3% + 2% (T4),4% + 1% (T,), dan 5% + 0% (T.) . The results of the study showed that no significant (P >0.05) clinical symptoms and mortality occurred . There were no significant differences in blood values from broilers in groups T,, T,, T,, T,, and T.. These blood values were normal . The total leucocyte counts in groups T, and T, were significantly (P < 0.01) decreased. No toxic substances were found in the different organs and tissues of slaughtered broilers fed with the highest (5%) FMLlevel. Histophatological examination of tissues from broilers at the highest level compared with controls (T,) revealed no changes.

 

36           mfn=000025

Bahri, Sjamsul; Iskandar, Tolibin; Ginting, Ngepkep(Lembaga Penelitian Penyakit Hewan)Ipin, R; Manggung, R. Ipin Rosadi(Fakultas Kedokteran Hewan), Bogor (Indonesia). Pengaruh pemberian monosodium glutamat pada mencit putih (Mus musculus albinus) betina terhadap berat badan dan jumlah fetus. Bulletin L.P.P.H. (1981). Vol.8(22), p. 38-45.

 

 

              

37           mfn=001053

Ginting, Ngepkep(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia).Reticuloendotheliosis pada ayam (Ditinjau dari aspek histopatologi).ULLETIN L.P.P.H.(1981).V .13(21) p.15-18.

 

Abstrak

The occurrence of reticuloendotheliosis in chicken in Indonesia is placed on record. During routine microscopic examinations of chickens belonging to the State Chicken Farm and private owners for the past six years (1975 — 1980), liver, lung, heart, spleen and other organs from 1266 specimen were investigated. Microscopic examination revealed characteristic reticuloendotheliosis in 17 chickens. Histopathologically, the affected organs revealed varying degrees of proliferation of mononuclear cells around blood vessels and in lymphoid follicles.

The affected cells, which belonged the reticuloendothelial system, were characteristically primitive with large or oval nuclei, prominent nucleoli and

abundant defined, neutrophilic or basophilic cytoplasm.

           

38           mfn=001057

Ginting, Ngepkep; Poernomo, Sri; Supar; Tarmudji(Balai Penelitian Veteriner,Bogor Indonesia).Penggunaan desinfektansia IOSAN CCT untuk Mastitis masih merupakan problema dimana-mana di muka bumi ini. Lembaga Penelitian Penyakit Hewan, Bulletin No. 21, 1981

 

Abstrak

Test on disinfectants are made in order to determine their exact germ killing capacity to determine whether their activity is reproducible. This preliminary investigations of the disinfectant in particular test situations are appropriate. The

first tests carried out in the preliminary investigation of the disinfectant IOSAN

CCT were of its bactericidal effects against the Staphylococcus aureus and Streptococcus sp.

 

39           mfn=001058

Ginting, Ngepkep; Tarmudji; Indraningsih(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia).Data tentang efikasi insektisida asuntol 50 WP terhadap caplak pada sapi.BULLETIN L.P.P.H.(1981).V .13(21) p.54-62.

 

Abstrak

To determine the efficacy of Asuntol 50 WP. a spraying trial has been conducted for 18 days, using thrirtytwo adult cattle, applying the eross over design in two groups, Group one was designed to determine the efficacy of Asuntol 50 WP against ticks on stable cattle, using sixteen cattle which were infested(curatived). Group two was designed to determine the efficacy of Asuntol 50WP against tricks on grazing cattle, using sixteen cattle which were clean(preventive). Sixteen cattle from each group used in this exoerment were divided into 4 groups which received different concentration of Asuntol 20 WP, The groups were A: 0,02% Asuntol 50WP, B:0,04% Asuntol 50WP, C: 0,06% Asuntol 50WP and D: 0,00% Asuntol 50 wp(control). Results showed a signiticant (P <0,01) reduction of tick number in group  A, B, B when compared with group D(control), but no signiticant (P > 0,05) differences were found among group A, group B and group C, A concentration of 0,02% Asuntol found among group A, B,and groupC,A concentration of0,02% Asuntol 50WP is recommended to kill ticks on stabled or grazing cattle, it is suggested that spraying must be done with on interval 18 days,

               

40           mfn=001059

Ginting, Ngepkep; Yuningsih; Indraningsih(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia).Tanaman-tanaman beracun di daerah Jawa Barat.BULLETIN L.P.P.H.(1981).V .13(21) p.63-74.

 

Abstrak

survey and qualitative analysis have been held to study poisonous plants in west Java, Fine hundred and eighty three plants from west java were tested for alakaloid cyanide and oxalate content. Results showed that 33% of the plants were alkaloid positive Cinparing the results of the present survey with the results of a former survey of poisonous plants in the municipality of bogor, we have found poisonous plants from an extra 8 familes and 60 species Most of the poisonous plants found in west java are of the familes Leguminosae, Compositae abd Euphorbiacae.

 

41           mfn=001064

Bahri, Sjamsul; Iskandar, Tolibin; Ginting, Ngepkep; Manggung, R. Ipin Rosadi(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia).Pengaruh pemberian monosodium glutamat pada mencit putih (Mus musculus albinus) betina terhadap berat badan dan jumlah fetus.BULLETIN L.P.P.H.(1981.V .13(22) p.38-45.

 

Abstrak

To study the influence of monosodium glutamate (MSG) on the foetal body weight of mice (Mus musculus albinus), 112 females 13 days of age were used four treatments of MSG and given over a period of 54 days before mating with a normal male. The first sign of fertilization was shown by the appearance of the vaginal plug or spermatozoa in a vaginal plug smear. On day 18 after mating, all mice were killed with ether and examined in the postmortem room. It was concluded that treatment of 6 mg of MSG/g body weight caused a significant (P < 0,01) reduction of total foetal body weight compared to other treatments

 

42           mfn=001067

Indraningsih; Ginting, Ngepkep; Yuningsih; Arifin, Zainal(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia).Tanam-tanaman beracun di daerah Jawa Tengah.BULLETIN L.P.P.H.(1981).V .13(22) p.60-72.

 

Abstrak

Survey and qualitative analysis have carried out to study poisonous plants in Contral Java, Six hundreds and eighty there plants from Central java were tested for alkaloid, cyanide, nitrale and nitrile abd oxalate conctent. Result showed that 35% of the plants were alkaloid positive.Comparing the results of the present survey with the results of a previons survey of poisonous plants in west java, we have found poisonous plants from an additional 10families and 64 species, Most of the poisonous plants founds in central java are of the families compositae, Euphorbiacease, Graminae and Leguminosae.

 

43           mfn=001065

Ginting, Ngepkep(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Beberapa kasus colloid goitre (Gondok) pada kambing.BULLETIN L.P.P.H.(1981).V .13(22) p.46-52.

 

 

44           mfn=001029

Ginting, Ngepkep; Tarmudji; Radjagukguk, B.P.A.(Balai Penelitian Veteriner,Bogor Indonesia).Data tentang efikasi insektisida bovine terhadap caplak pada sapi.BULLETIN L.P.P.H.(1980).V .12(19) p.24-32.

 

Abstrak

Dewasa ini banyak sekali insektisida diperdagangkan dengan nama dagang yang beraneka ragam pula. Bovinox adalah salah satu insektisida yang diproduksi oleh Wellcome Foundation Ltd, 183 Euston Road, London dengan bahan aktif ethion (5, 7, 10, 11). Ethion adalah salah satu senyawa organophosphor (8) yang telah diakui keunggulannya sebagai insektisida di luar Inggeris antara lain di Australia, Argentina dan Afrika Selatan (7, 10, 11). Sudah menjadi keharusan di Indonesia bahwa setiap insektisida harus diuji kembali efikasinya, baik produksi luar negeri maupun dalam negeri (3).

 

45           mfn=001030

Ginting, Ngepkep; Radjagukguk, B.P.A.(Balai Penelitian Veteriner,Bogor Indonesia).Data tentang penyakit marek pada ayam.BULLETIN L.P.P.H. (1980).V.12(19) p.33-41.

 

Abstrak

Penyakit marek atau marek’s disease (MD)sebetulnya telah dikenal sejak 1907 (1).Mulai saat itu hingga 1967 MD masih dimasukkan ke dalam Leucosis complex(2,8, 16) Tahun 1967 term MD dipisahkan dari Leucosis complex(3). setelah disesuaikan dengan biggs (1967) maka ternyata MD telah ditemukan di Britania raya pada tahun 1929 oleh gelloway (6,7) Sejak 1907 itu banyak sekali kasus-kasus MD di negara-negara penghasil ungga diseluruh dunia abtara lain diamerika serikat(9), negeri belanda (10), Britania raya dan india (9,11,15,18) kerugian akibat MD di Amerika Serikat US$ 150 juta dan dibritania raya US$ 20 juta per tahun (3,6) diamerika serikat kasus yang paling banyak  adalah pada  broiler (9) MD adalah salah satu penyakit unggas yang sangat infectios ditandai oleh pembengkakan dari pada  saraf dan tumor pada organ-organ visceral, seperti paru-paru,jantung,mesentrium ginjal,hati,limpa,proventriculus dan usus disamping itu sering juga ditemukan pada iris, urat daging, kulit dan gonad tumor tersebut adalah akibat dari infitrasi dari proliferas dari “pleomorphic clymphold cells” MD disebabkan oleh DNA Virus termasuk group B atau Cell associated dari herpes virus(17) ayam ayam yang diserang  MD pada jaringan-jaringannya dapat dideteksi “virus associated antigens”dan membentuk antibodies terhadap horpes virus antigens (13-17) Morbidity dan mortality pada umumnya sama berkasar pada 60%(3)

               

46           mfn=001041

Ginting, Ngepkep; Indraningsih;Arifin, Zainal(Balai Penelitian Veteriner,Bogor Indonesia).A survey of the nitrate and cyanogenetic status of certain Bogor,West Java Plants.BULLETIN L.P.P.H.(1980).V .12(20) p.41-49.

 

Abstrak

A survey was made of 241 species of plant in municipality of bogor with emphasis on common weeds.edible herbs and grasses and shrubs in order to assess the potential hazards for grazing animal and to appreciate their role in poisonings due to plant various sites were selected including rubber and banana platations pady-fields and roadsides.

 

47           mfn=001010

Ginting, Ngepkep; Radjagukguk, B.P.A.(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia).Lethal dosis 50 prosen (LD50) dari neocidol 40 WP pada anak ayam.BULLETIN L.P.P.H.(1979).V .11(17) p.1-6.

 

Abstrak

Insektisida senyawa organophosphor telah lama dikenal di dunia ini. Menurut hasil penelitian di luar negeri, senyawa organophosphor sangat toksik bagi mamalia (2, 3, 5). Neocidol adalah salah satu nama dagang insektisida dari senyawa organophosphor dengan bahan aktif diazinon (8, 11). Dewasa ini Neocidol sangat banyak dipergunakan untuk memberantas caplak antara lain di  Australia, New Zealand, Afrika Selatan, dan Amerika Selatan dengan hasil yang  memuaskan (1, 4, 7, 9). Efikasi, safety, residu, dan dosis dari pada suatu insektisida tentu tidak sama di setiap tempat, karena bermacam-macam faktor, antara lain faktor lingkungan. Oleh karena itulah perlu diadakan percobaan di Indonesia sebelum insektisida tersebut dipasarkan.

 

48           mfn=001011

Ginting, Ngepkep(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia).Kasus penyakit ingusan (Bovine Malignant Catarrhal) pada sapi Bali di Jawa Barat.BULLETIN L.P.P.H.(1979).V .11(17) p.7-22.

 

Abstrak

Penyakit ingusan dikenal di Indonesia sejak tahun 1894, ditemukan pertama kali oleh Paszotta pada kerbau di daerah Kediri (4). Tahun 1910, C.A. Penning melaporkan bahwa penyakit ingusan telah menyebar ke seluruh Indonesia eskipun sifatnya sporadis. Hewan-hewan yang diserang adalah kerbau dan sapi, termasuk sapi perah. Dalam tahun 1916 di daerah Purwokerto pernah ditemukan penyakit ini oleh Van Der Poel dengan sifat enzootik (4). Penyakit ingusan ditemukan di mana-mana di muka bumi ini. Penyakit ini tidak dapat dihilangkan karena cara penularannya belum diketahui secara pasti, kekebalannya dapat dikatakan tidak ada dan pengobatannya belum ditemukan hingga saat ini. Di beberapa negara pemberantasannya telah dicoba melalui vaksinasi, namun hasilnya kurang menggembirakan (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8). Maksud penelitian ini adalah mengadakan evaluasi penyakit ingusan di Jawa Barat setelah sekian lama tidak dilaporkan kepada  halayak ramai.

 

49           mfn=001013

Ginting, Ngepkep; Maidie, Moch. Sjaban(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia).Cacar pada kerbau di daerah Lubuk Gadang(SumateraBarat).BULLETIN L.P.P.H.(1979). V .11(17) p.29-41.

 

Abstrak

Infeksi virus pox telah dikenal pada manusia dan hewan beberapa abad

yang lalu (Hubbert, et al. 1975). Jenner adalah orang pertama yang menemukan infeksi pox yang bersifat Zoonosa, dengan cara mendemonstrasikan hubungan antara variola dan cowpox dan juga menemukan infeksi pox itu pada kuda dan babi. Hubbert, et al. (1975) menemukan bahwa penularan dari semua infeksi pox yang bersifat zoonosis, terjadi dengan cara kontak langsung antara kulit manusia dengan lesio dari pada hewan yang ditulari pox atau sebaliknya. Pertama-tama virus masuk kulit yang lecet dan kemudian menimbulkan lesio-lesio lokal.

 

50           mfn=001014

Ginting, Ngepkep(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Aspek patologik akibat pemberian zinc, phosphida pada tikus sawah di laboratorium.BULLETIN L.P.P.H.(1979).Vol.11(17) p.42-48.

 

Abstrak

Problema hama tikus telah lama dikenal di seluruh dunia. Bukan solo merusak tanaman pangan di sawah atau di ladang, bahkan setelah dipanen dan diproses tikus masih mengakibatkan kerusakan (Bikovskij, 1964). Pada umumnya di mana ada manusia di situ ada tikus. Di rumah-rumah sering kita jumpai tikus merusak dinding, kabel listrik, bahan pakaian, peti, kertas/karton dan peralatan rumah tangga lainnya. Suatu bukti nyata bahwa tikus merupakan pengganggu kehidupan manusia yang sangat penting (Ingran,1945 dan Peng 1964).

 

51           mfn=001017

Ginting, Ngepkep; Yuningsih; Indraningsih(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia).Tanaman-tanaman beracun di daerah kotamadya Bogor (bagian I).BULLETIN L.P.P.H.(1979).V .11(17) p.6

 

Abstrak

tanaman tanaman beracun sebetulnya telah lama dikenal di Indonesia.peneliti peneliti sebelumnya membuktikan bahwa leucaena dapat menimbulkan alopesia pada kuda di Indonesia (9) di negara negara lain pun masalah keracunan ternak yang tersumber dari tanaman tanaman sering kali timbul (1,4,7) pada uumnya racun yang di temukan pada tanaman tanaman adalah jenis akloid (3 10 13 4)dari hasil penelitian di luar negri memperkirakan bahwa 15 10% dari pada tanaman tanaman di bumi ini.

 

52           mfn=001018

Ginting, Ngepkep; Indraningsih; Yuningsih; Radjagukguk, B.P.A.(BalaiPenelitian Veteriner, Bogor Indonesia).Keracunan zinc phosphida pada anak ayam.BULLETIN L.P.P.H.(1979).V .11(17) p.75-79.

 

Abstrak

zine phosphida telah dikenal di Indonesia sejak tahun 1960.dipergunakan sebagai racun tikus (5.11).pemberantasan hama tikus sering mengakibatkan efek samping karena pada hakekatnya selain meracuni tikus ikut juga teracuni ternak lain.seperti ayam kampung. bebek dan ikan (2 3 6 7),sifat petani di Indonesia adalah di mana dia berada baik di sawah maupu dil adang selalu beserta dengan ternaknya.

 

53           mfn=001021

Ginting, Ngepkep(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia).Ingus ganas (Malleus, Rotz, Glanders). BULLETIN L.P.P.H.(1979).V .11(18) p.20-26.

 

Abstrak

Diagnosa terhadap malleus berdasarkan gejala klinik, reaksi allergik (malleinasi), pemeriksaan serum darah (reaksi pengikatan komplemen) dan Uji Strauss telah dilaksanakan di Lembaga Penelitian Penyakit Hewan sejak tahun 1909 (1, 2, 3, 5). Pengebalan dan pengobatan terhadap malleus telah diteliti sejak tahun 1912 (4, 6). Tulisan terakhir mengenai malleus adalah merupakan laporan kejadian metastase malleus pada persendian pangkal kaki (10). Malleus ialah penyakit yang terutama menyerang kuda dan anggota-anggota Equidae lain (7, 8, 9, 11, 12). Penyakit ini merupakan salah satu penyakit respirasi yang tertua (11) dan terdapat di seluruh dunia (7, 8, 11, 12), hanya Amerika Serikat dan Australia akhir-akhir ini telah bebas akibat pengawasan yang sangat ketat (8, 12)

 

54           mfn=001024

Ginting, Ngepkep; Indraningsih(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Demodicosis pada sapi.BULLETIN L.P.P.H.(1979).V .11(18) p.39-44.

 

Abstrak

peneliti sebelumnya pernah melaporkan sasus demodicosis pada sapi bali umur 11/2 tahun (4).laporan tersebut adalah berdasarkan gejala klinik yaitu berbelah belah .berbulu,walaupun kurang dari kulit yang biasa.kekurangan bulu ini terdapat pula sekitar bentil bentil tersebut yang Nampak jelas pada bagian bawah scapula.bentil bentil tersebut seakan akan menyerupai bentil papiloma .sangat erat terikat dengan jaringan subcutis.masing masing sebesar kepala jarum pentul yang berisi peuh kutu kutu demodex (4).

 

55           mfn=001025

Ginting, Ngepkep(Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia).Rabies pada sapi dan kambing.BULLETIN L.P.P.H.(1979).V .11(18) p.45-49.

 

Abstrak

Publikasi terakhir mengenai rabies ditulis oleh Lembaga Penelitian Penyakit Hewan pada tahun 1957. Apabila kita membaca semua publikasi yang dikeluarkan, maka kita tidak akan menemukan perincian jenis hewan yang diserang rabies tersebut (3, 4, 5, 6). Dari publikasi beberapa penulis di luar Lembaga Penelitian Penyakit Hewan dapat disimpulkan bahwa di Indonesia hewan yang paling peka terhadap rabies ialah anjing, kucing dan kera. Di samping itu pernah juga dilaporkan kejadian rabies pada kerbau, kuda, leopard,musang dan meong congkok (7, 9). Bagaimana keadaan rabies pada sapi dan kambing, dapat kita ikuti pada tulisan ini berdasarkan data yang ada di Lembaga Penelitian Penyakit Hewan selama lima tahun terakhir.

 

56           mfn=000549

GINTING, Ngepkep; TARMUDJI; RADJAGUKGUK, B.P.A.(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)).Data tentang efikasi insektisida neocidol terhadap caplak pada sapi.BULLETIN L.P.P.H.(1977).

 

Abstrak

Insektisida senyawa organophosphor telah diperkenalkan oleh peneliti Jerman sejak Perang Dunia kedua. Senyawa organophosphor yang pertama ditemukan ialah tetra ethyl pyro phosphor (1EPP). Insektisida ini tidak lama dipakai karena sangat toksik bagi mammalia (2, 3, 5). Schrader (1944) menemukan parathion, senyawa organophosphor yang banyak dipergunakan pada pertanian ( 2 ).

 

57           mfn=001955

Ginting,Ngepkep (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia).Penelitian Penyakit Marek Suatu Penelitian Pendahuluan.Seminar Ilmu Dan Industri Perunggasan Bogor.30-31 Mei 1977.A-35 p.1-7.Bogor.Pusat Penelitian Dan Pengembangan Petenakan(1977).

 

Abstrak

Penyakit Marek atau Marek's Disease (MD) sebetulnya telah dikenal

sejak 1907. Mulai saat itu hingga 1967 MD masih dimasukkan dalam Leucosis Complex,Tahun 1967 term MD dipisahkan Bari Leucosis Complex (Biggs, 1967).Sotelah disesuaikan dengan Biggs (1967), make ternyata MD telah ditemuken di Britania Raya pada tahun 1929 oleh Galloway. Sejak 1907 itu banyak sekeli kasus-kasus MD di nugara-negara 'Denghasil unggas di seluruh Dunia antara lain di amerika Serikat (Kaupp, 1921), Negeri Belanda (Van der Wane dan Winklor Junius,1924),Britani Raya dan India.   1977

 

58           mfn=000533

POERNOMO, Sri; GINTING, Ngepkep(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)).Laporan pra survey pemeriksaan pullorum di daerah (Bagian II). BULLETIN L.P.P.H.(1974).Vol.5(6-7) p.34-41.

 

Abstrak

Di dalam karangan bagian I telah dicantumkan pula daftar hasil pemeriksaan dari daerah-daerah yang telah disurvey. L.P.P.H. telah meminta satu atau dua ekor ayam reaktor (ayam reaktor yaitu ayam yang mengadakan agglutinasi dengan antigen S. pullorum) dari peternakan-peternakan tersebut. Dari ayam reaktor ini kemudian diusahakan untuk mengasingkan kuman S. pullorum. Mengadakan isolasi (pengasingan) kuman S. pullorum dari reaktor-reaktor tersebut adalah perlu sekali, tujuannya untuk meyakinkan apakah ayam-ayam reaktor tersebut betul-betul mengandung S. pullorum atau tidak. Hal ini disebabkan karena, adalah suatu kenyataan bahwa ayam-ayam yang ketularan Salmonella sp, yang lainpun dapat menimbulkan reaksi silang (cross.reaction) dengan antigen pullorum, misalnya Salmonella heidelberg (7), begitu pula bakteri-bakteri lain yang berasal dari genus lain, misalnya Coli, Micrococcus, Streptococcus (4) dan Proteus (pengalaman penulis sendiri.

 

59           mfn=000523

GINTING, Ngepkep; POERNOMO, Sri(Balai Penelitian Veteriner, Bogor(Indonesia)).Laporan pra survey pemeriksaan pullorum di daerah [Bagian I.].BULLETIN L.P.P.H.(1972).Vol.3(4) p. 40-44.

 

Abstrak

Penyakit Pullorum sudah dapat dipastikan telah ada di Indonesia (6).Dengan bertitik tolak pada pemikiran bahwa penyakit Pullorum sangat mempengaruhi produksi protein hewani terutama yang berasal dari ayam,maka Lembaga Penelitian Penyakit Hewan bekerja sama dengan Direktorat Kesehatan Hewan Derektorat Jenderal Peternakan merasa perlu untuk meneliti lebih luas lagi sampai dimana areal penyakit tersebut telah sampai(4b).