JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Sejarah BBlitvet tidak terlepas dari perjalanan sejarah nasional yang terdiri dari tiga masa utama yaitu sebelum kemerdekaan, masa kemerdekaan, masa pembangunan nasional dan masa reformasi. Sepanjang perjalanan sejarahnya, BBalitvet mengalami pergantian nama hingga 10 kali yaitu :

1. Veeartsenijkundig Laboratorium (V.L.) 1908
2. Veeartsenijkundig Instituut (V.I.) 1927
3. Balai Penyidikan Penyakit Hewan (BPPH) 1942
4. Veeartsenijkundig Instituut NICA 1947
5. Lembaga Penyakit Hewan (LPH) 1950
6. Lembaga Pusat Penyakit Hewan (LPPH) 1955
7. Lembaga Penelitian Penyakit Hewan (LPPH) 1962
8. Balai Penelitian Penyakit Hewan (BPPH) 1980
9. Balai Penelitian Veteriner (Balitvet) 1984
10.  Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor (Bbalitvet) 2006


Sejarah BBalitvet dari masa ke masa :

MASA KOLONIALISME BELANDA (1908-1942)

Sejarah Balai diawali dengan berdirinya suatu lembaga penelitian bidang veteriner oleh pemerintahan kolonial Belanda yaitu Veeartsenijkundig Laboratorium, disingkat dengan V. L di jalan Cimanggu Kecil, Bogor pada bulan Juni 1908. Sejak dihapuskannya kongsi pengeruk kekayaan bumi Indonesia Verenigde Oost Indische Compagnie atau V.O.C pada tahun 1800, maka dalam abad ke-19 pemerintah kolonial Belanda tidak henti-hentinya dihadapkan pada aneka ragam permasalahan baik bidang politik maupun sosial budaya. Pada bidang politik, Belanda dihadapi oleh perlawanan-perlawanan rakyat dan para raja dari berbagai daerah, antara lain Perang Diponegoro (1825 - 1830), Ekspedisi Bone (1825 - 1859); Ekspedisi Bali (1846 - 1849); Perang Aceh (1872 - 1898); Ekspedisi Lombok (1994) dan lain sebagainya. Sementara itu, di bidang sosial-ekonomi, kemampuan para ahli Belanda dengan bekal pendidikan Eropa ternyata tidak selalu mampu mengatasi dan memecahkan segala kendala dan masalah yang timbul dalam kondisi dan situasi alam tropis Indonesia.

MASA KOLONIALISME  JEPANG (1942-1945)

Dengan serbuan tentara Jepang pada tanggal 1 Maret 1942 di  Bandung dan Cirebon, maka pada tanggal 6 Maret 1942 mereka telah sampai di Bogor. Balai turut memasuki zaman pendudukan Jepang dan nama Veeartsenijkundig Instituut segera di Indonesiakan menjadi Balai Penyidikan Penyakit Hewan (BPPH), yang kemudian diubah menjadi Lembaga Penyakit Hewan (LPH). Karena dianggap lebih cocok dengan martabatnya sebagai pusat penyelidikan ilmiah tentang penyakit hewan yang terdapat di seluruh Indonesia, nama tersebut diperindah lagi menjadi Lembaga Pusat Penyakit Hewan (LPPH). Demikianlah kata-kata yang diucapkan oleh Direktur pertama bangsa Indonesia, yaitu almarhum Prof. Drh. R. Djaenoedin, dalam pidatonya pada perayaan ulang tahun LPPH yang ke-50.

MASA KEMERDEKAAN (1945 - 1968) (SEBELUM PEMBANGUNAN NASIONAL)

Setelah masa kolonialisme Jepang dan Indonesia berhasil merebut kemerdekaannya, maka Pemerintah Republik Indonesia melalui Menteri Kemakmuran pada bulan Desember 1945 mengangkat/menunjuk Drh. R. Djaenoedin sebagai orang Indonesia pertama yang memperoleh kehormatan dan kepercayaan sebagai pimpinan Balai ini. Untuk menghadapi kemungkinan diambil alihnya Balai oleh Belanda karena menggawatnya agresi Belanda pada Clash I, Kepala Pusat Jawatan Kehewanan yang pada saat itu dijabat oleh Drh. Soetisna Djoened Poesponegoro dan Direktur BPPH pada akhir bulan Desember 1945 dengan persetujuan Menteri kemakmuran, Ir. Darmawan Mangoen Koesoemo merencanakan untuk mendirikan laboratorium cabang di daerah pedalaman.

MASA PEMBANGUNAN NASIONAL (1970-1997)

Pembangunan Nasional diimplementasikan dalam bentuk tahapan yang setiap tahap terdiri dari tahun dikenal sebagai Pembangunan Lima Tahun (PELITA). Pembangunan Lima Tahun dimulai pada tahun 1969. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan semakin terspesialisasinya tugas Balai untuk bidang kesehatan hewan atau veteriner, maka Balai mengalami beberapa kali pergantian nama dan susunan keorganisasiannya antara tahun 1950 - 1955. Dimulai dengan Lembaga Penyakit Hewan (LPH) pada tahun 1950 dan Lembaga Pusat Penyakit Hewan (LPPH) pada tahun 1955. Kemudian pada tahun 1962 diganti menjadi Lembaga Penelitian Penyakit Hewan (LPPH).

MASA REFORMASI (1998 - SEKARANG)

Perkembangan Balai dalam satu dekade terakhir sangat pesat, terutama dalam perkembangan status Balai, perkembangan fisik dan prasarana penelitian. Pada masa ini, tepatnya pada tahun 2006 Balai kembali mengalami pergantian nama menjadi Balai Besar Penelitian Veteriner (Bbalitvet) yang ditetapkan berdasarkan Permentan No.15/Permentan/OT.140/3/2006, dengan status setingkat eselon II.
Selama periode ini, perkembangan fisik terlihat lebih pesat  terutama dengan terselesaikannya pembangunan Laboratorium Zoonosis yang setara dengan Biosafety Level 3 (BSL-3). Laboratorium yang dibangun sejak tahun 2002 ini akhirnya dapat difungsikan sebagaimana mestinya setelah dilakukan perbaikan sistem tataudaranya. Fasilitas baru lainnya adalah modular BSL-3 yang  dibeli dari Amerika.  Kini Balai berharap bahwa ke depan kegiatan penelitian penyakit AI dan penyakit zoonosis lain akan lebih baik.